Sunday, January 26, 2014

Gunung Semeru, Senyum Termanis Kalimati

Merah Putih di Mahameru
"Hei Cah, aku sesok karo Mas Hendra meh neng Semeru, meh do melu po ra? wong loro tok rapopo,hahahaha" sedikit candaan dibasecamp Garung Gunung Sumbing. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi keajaiban kata-kata selalu bisa menjadi doa. Kita semua pasti sering mengalaminya. Begitu juga dengan saya, candaan yang tak sengaja menjadi doa lalu menjadi nyata. Tuhan memang Luar Biasa.




Senin 15 Juli 2013, hari senin yang cerah dan indah, setelah persiapan betul-betul matang,setelah berpamitan dengan keluarga, berangkatlah saya ke Yogyakarta.
Senin malamnya saya naik bus Safari Dharma Raya relasi Yogyakarta-Malang. Eh, sorenya pinjam dulu Nesting dan Kompor punya Mbak Elsa.

"Selamat Pagi Kota Impian", anak alay, begitu update saya di BBm, perasaan pagi itu hanya ada senang dan bahagia. Pandangan mata saya menembuh kaca bus, menyapu bangunan yang berderet ditepi jalan, sambil melihat plang alamatnya, merasakan aroma subuh menjemput fajar. Setelah bus berhenti, saya turun lalu duduk di tepian terminal sambil menunggu dua teman saya, Mas Hendra aka Ahong dan satu lagi yang saya belum pernah kenalan jadi ya tidak tahu namanya. Mereka berdua orang Wonogiri, Negeri yang terkenal karena kenikmattan Bakso dan Mie Ayamnya, mereka berangkat dari Solo, ngopi dulu di Bungur Surabaya, baru deh nyebrang ke Malang. Terminal Arjosari, Selasa 16 Juli 2013 menjadi meeting point kami, terminal yang terletak di Kota Malang dengan latar Gunung Arjuno dan Welirang. Tapi bukan dua gunung itu yang menjadi tujuan kami pada pendakian kali ini. Setelah berkenalan, Mas Angga ternyata namanya. Jadi lengkap sudah tim pendakian kali ini, Ahong, Angga dan Dion. Dengan dua Carier, Dua Derijen air dan Dua Daypack kami meluncur dari Terminal Arjosari menggunakan angkot warna putih menuju rumah Pak Rusno yang terletak di pasar Tumpang. Siapa itu Pak Rusno? Sejak dulu beliau sudah akrab dengan para pendaki yang akan mendaki Gunung Semeru, rumahnya menjadi semacam Pondok Pendaki, menjadi titik temu pertama buat Para Pendaki Gunung Semeru darimanapun asalnya, kita dipersilahkan untuk menginap, numpang istirahat, numpang nitip barang dan numpang bersih-bersih badan. Pak Rusno jugalah yang mengantar jemput para pendaki Semeru, dengan truknya 35rb seorang kita sudah sampai ke Basecamp Ranupani, lebih murah dibandingkan harus menyewa Jeep. Seteko teh hangat menjadi kawan kami pagi itu, disajikan dengan santun oleh Ibu Rusno. Berbelanja beberapa jenis sayuran lengkap dengan proses tawar menawarnya, sarapan, packing ulang. Kami siap untuk menuju Ranupani. Sekitar jam 11.00 wib. rombongan saya dan dua rombongan lain dari jakarta sudah dibak truk milik Pak Rusno, menuju Ranupani. Melewati Coban Pelangi, foto bersama digerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan bukit hijau teletubies khas Bromo, personil rombongan satu dengan rombongan yang lain menjadi saling akrab. Tertawa bersama itu yang kami lakukan sepanjang perjalanan.

Sekitar jam 13.00wib kami tiba diPos Ranupani. Ngeluruske boyok, mengurus surat ijin kami bertiga siap untuk menuju tujuan pertama Ranu Kumbolo, lho kok cuma bertiga?
Dua rombongan yang lain memutuskan untuk bermalam di Ranupani dan besok pagi baru beranjak ke Ranu Kumbolo. "Jalannya bareng-bareng mas, temennya jangan ditinggal, berangkat bareng nanti pulang juga harus bareng, hati-hati, Tuhan Yesus memberkati" , pesan Pak Ninggot penjaga Pos Perijinan Ranupani. Seperti biasa, kamu memulainya dengan doa, supaya diberi kesehatan,keselamatan dan supaya diberi cuaca yang cerah untuk bisa melihat kemegahan Alam ciptaanNya.

Jam 4 sore terakhir pendaki boleh naik setiap harinya, lebih dari jam segitu harus menunggu hari berikutnya.

Melewati ladang milik penduduk, mulai memasuki hutan, break break break, biasa, angkatan awal, harus penyesuaian dulu. Perjalanan dari Ranupani sampai Ranu Kumbolo
diprediksi bakal memakan waktu empat sampai lima jam untuk para pendaki, sedangkan untuk para porter hanya sekitar dua jam, WOW sekali.

Mendaki, melintas bukit, berjalan letih menahan berat beban, lalalala... Lagu dari Dewa 19 setia menemani setapak kami, gag tau deh berapa kali Ahong memutar lagu itu, pokoknya banyak. Ahong jadi yang dituakan diantara kami bertiga, karena dia sudah beberapa kali naik Semeru, jadi sedikit banyak dia hafal mengenai medan dan tentu saja jalan yang harus kami lalui. Melewati Pos 1 yang masih gagah bangunannya, Pos 2 dibawah pepohonan rimbun, Watu Rejeng dengan sisi kanan tebing tinggi yang mengagumkan, Pos 3 dengan atapnya yang menempel ketanah, Break? Istirahat? Jangan ditanya, rasanya ingin turun, nyeduh kopi sambil ngobrol aja ama Pak Ningot. Tapi ini sebuah impian kawan, layak diperjuangkan, seperti yang pernah saya tulis, Puncak Mahameru di tahun 2013. Hanya satu tim saja yang kami jumpai sebelum sampai di Pos 4, normal, karena saat itu adalah bulan Ramadhan, dimana umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa, jadi pendakianpun tak seramai biasanya. Sampai Pos 4, sekitar jam lima sore, mendung, kabut dan mulai terasa dingin kawan. Tapi apakah kamu tau apa yang ada dihadapan kami? Sebuah danau yang saat itu hanya  bisa saya lukiskan dengan senyuman. :) 

Di Pos 4 kami ngemil beberapa snack gandum, juga minum dengan penuh kelegaan. Ranu Kumbolo sore itu misterius sekali, ntah karena kabutnya, ntah karena hujan yang mulai membasahi airnya, atau juga karena kolaborasi keduanya, tapi sekali lagi saya hanya bisa tersenyum memandangnya. Walau sudah sampai di Ranu kumbolo tapi kami belum sampai ketempat camp tujuan kami, masih sekitar setengah jam perjalanan, kami gantian mengicipi bawaan satu dengan yang lain, seperti yang kami bertiga lakukan setelah istirahat, mulai dari Pos Ranupani. Jalan mulai basah, licin dan terangpun mulai berubah menjadi gelap. Plang miring menyapa kami, sebelum turunan terakhir "Selamat Datang di Ranu Kumbolo". Sekitar pukul 6 sore kami bertiga tiba di Podokkan Ranu Kumbolo. Warna cahaya dilangit yang mulai hilang seakan memaksa untuk segera mendirikan tenda, Ahong dan Angga dengan lincah parkir dan bongkar muat barang, mereka mendirikan tenda diteras pondokkan, sedangkan saya bertugas masak air untuk menyeduh kopi ataupun teh dan persiapan untuk makan malam. Ranu Kumbolo 16 Juli 2013 sunyi, tak ada tenda satupun ditepinya, dan didalam pondokkan hanya ada satu tim yang sudah terlihat cukup kelelahan, mereka baru saja turun dari Kalimati. Hujan dan angin memberitahu kami untuk bersyukur, karena kami bertiga telah sampai dipondokkan lebih dulu daripada mereka. Deras dan kencang, hanya lampu headlamp, senter dan api dari kompor yang menjadi penerang. Tak ada bintang, yang ada hanya dingin dan sangat dingin. Mie Instan, Nasi, Nugget dan Kopi menjadi pengakrab didalam tenda. "Ke lho ono uwong" kata saya setelah melihat sorotan senter dari arah Pos 4, hujan semakin deras, angin semakin kencang, tanpa sadar ternyata sudah ada satu tenda yang berdiri tepat ditepian Ranu Kumbolo. Kami berharap semoga tim yang masih berada kira-kira di Pos 4 segera sampai ke Pondokkan, kami menunggunya sambil ganti baju, pakai segala jubah musim dingin,  jaket tebal, kupluk, kaos kaki, sarung tangan dan celana training panjang, tim yang kami tunggu tak kunjung datang, kami putuskan untuk ngobrol saja didalam tenda. Tenda kapasitas 4 orang ini terasa sangat luas, Ahong dan Angga pandai sekali menatanya, namun sayang mereka belum bisa menata hati wanita. uppss..
Kami semakin hanyut dalam keakraban. Kantung SB dan matras mengaku belum cukup menghangatkan badan kami. Dingin... tapi damai. Gelap... tapi tenang. Kami tertidur.
Malam itu kami tak bisa memandang jutaan bintang di langit Ranu Kumbolo.

Selamat Pagi 2400Mdpl. :)) Cahaya matahari menembus dinding tenda kami, saya dan Ahong bergegas membukakan pintu tenda untuk menyambutnya. *menghela nafas *menggelengkan kepala. Indah, tak terbantahkan, Cantik, tak terperikan. Tuhan memang pelukis alam yang luar biasa, walaupun lukisannya bisa dipigura, saya yakin tak akan ada yang mampu membelinya. Sepi sekali, sangat tenang, sangat damai, saya seperti baru merasakan pagi sekali ini. Tak bisa saya gambarkan keindahan Ranu Kumbolo pagi ini, tempat yang orang sering menyebutnya dengan Surganya gunung Semeru, betah rasanya berjam-jam walau hanya duduk bersila diatas rumput melihat sekeliling, menyatu dengan alam, melihat air Ranu yang mulai berkilauan terbias sinar Matahari, Pagi ditempat ini memang tak pernah bisa dilewatkan. Sungguh seandainya aku bisa bersila berdamping denganmu disini. 


Ranu Kumbolo, Sepi..


Sekitar pukul 9 pagi kami sudah selesai packing, selesai sarapan pula. Narsis dulu bertiga Cuk, dengan background Ranu Kumbolo yang cerah dan Tanjakan Cinta yang melegenda. Tim yang semalam memberi kode lewat senternya belum juga sampai di Ranu Kumbolo, mereka mungkin mendirikan camp didekat Pos 4, mungkin karena cuaca semalam kurang mendukung untuk melanjutkan perjalanan. Tim yang mendirikan tenda di tepi RaKumpun tidak melanjutkan perjalanan ke Kalimati, mereka hanya sampai di Ranu Kumbolo saja. Kami bertiga jadi mulai mikir nih, jangan-jangan besok summit attack cuma bertiga nih, wadooow. Tapi kami tetap mantep. Karena Tuhan bersama orang Pemberani. Wani.



Ranu Kumbolo

Karena Mitos tanjakan cinta yang begitu melegenda, kami bertiga juga mempraktekkannya, jalan dengan banyak berhenti untuk ambil nafas, tapi nggak sekalipun nengok kebelakang, gag tau kalo Ahong ma Angga, buat saya yang jelas tak ada nama wanita untuk saya pikirkan saat itu, menyedihkan. Setelah sampai dipuncak Tanjakan Cinta, jalan belok kekiri dengan medan sedikit menurun, dengan wajah ngos-ngossan, ingin rasanya duduk untuk satu tegukan air RaKum. Kesampaian apa yang baru saja utarakan, sambil duduk didepan saya Oro-oro Ombo benar memukau, luas sabana yang sudah tak semuanya berwarna hijau ditambah sekumpulan bunga tinggi berwarna ungu ditambah lagi puncak gunung Semeru dengan asapnya yang mungil membuat kami ngantuk, ingin tertidur diantara kedamaianya. Setelah merasa cukup untuk beristirahat kami menuruni bukit untuk sampai di Oro-oro Ombo, bunga ungu yang jenisnya kadang menjadi perdebatan di antara para pendaki apa itu bunga Lavender atau bukan, menjulang tinggi melebihi kepala kami dan berada disamping kanan kiri. Narsis dulu broh, jarang-jarang kita menemukan warna bunga
secantik ini, sayang kita tak boleh membawanya pulang, karena kita harus menjaganya, supaya bunga-bunga ini tetap berada di Oro-Oro Ombo. Setelah melewati Oro-Oro Ombo bermedan datar, Cemoro kandang tela menanti didepan saya, kami duduk dibatang kayu ambruk, dibawah pohon rindang, sekali lagi,rasanya lebih enak tidur dirumah daripada harus melakukan perjalanan seperti ini, :p 

Oro-oro ombo

"Treknya lumayan nanjak mas" kata Ahong, kurma yang masih banyak membuat kami siap. Udara yang dingin membuat kami tak bisa merasakan sengatan matahari, jadi tanpa terasa pula kulit kami pasti gosong. Trek Cemoro Kandang siang itu benar-benar menyiksa, rasa lelah dan kantuk kadang tak sengaja memaksa kami untuk mengeluh, tapi ini impian kawan, kita gag boleh banyak mengeluh, memang butuh perjuangan dan pejalanan yang panjang tapi hasilnya pasti akan menjadi lebih manis. :))

Jambangan, merupakan nama tempat dari ujung Cemoro Kandang, disini puncak Semeru terlihat semakin jelas dan dekat, lekukan pasirnya gagah sekali. Selalu harus foto dulu.
"Yoo Mas, diluk meneh Kalimati, trekke datar kok", Ahong memberi semangat, Manusia tau robot tanpa baterai yang tak kenal lelah ada dihadapan saya, walaupun dengan beban yang, yang apa ya? berat banget deh pokoknya dia tetap seperti tak punya lelah. Sampai di Kalimatipun dia dan Angga tak pakai lama membawa derigen kosong menuju sumber mani untuk mengambil air yang kurang lebih satu jam perjalanan pergi pulang. Meninggalkan saya yang ditugaskan untuk masak nasi dan sup amburadul untuk makan siang, Eh sebelumnya Tuhan telah memberi teman baru untuk kami, satu tim yang akan ada bersama kami summit attack besok pagi. Dan ternyata tim itu adalah tim yang memberi kode lewat senter dari atah Pos 4. mereka berempat ada Andrew, Bene, Dennis dan Abi, lagi liburan lulusan SMA, tiga dari mereka baru saja turun dari Gunung Rinjani, uuuuuuhhhh, saya bersemangat, karena setelah dari Semeru saya ingin mendaki Rinjani 3726Mdpl, mungkin ditahun 2014 nanti, pikir saya waktu itu. Setelah selesai santap siang, kami kembali packing ulang, karena kami bertujuh setuju dengan usul Ahong, untuk berkemah di Arcopodo saja, tapi gag semua barang akan kami bawa, beberapa akan kami tinggalkan tanpa penjagaan di Pos Kalimati, takut hilang? tidak, karena diantara para pendaki tidak ada kata saling mencuri, adanya saling berbagi, tak akan membiarkan lainnya mati. Melewati hutan dengan jalan setapaknya, sekitar 1.5 jam akhirnya kami tiba di camp Arcopodo, sekitar pukul
17.30 waktu itu, kami segera mendirikan tenda, ditemani cahaya senja yang menyelip diantara tangkai-tangkai pohon. Warnanya sangat cantik. Kami tidak makan besar malam itu, dan Ahong mewajibkan kami paling tidak jam 7 malam kita harus tidur, karena nanti kita mulai summit jam 1 dini hari.  Dinginnnya menusuk, guling sana guling sini, susah tidur oee. Diluar cuaca masih cerah, terbayang kata-kata Ahong, "Mas, kalo semisal badai, kita terpaksa enggak muncak ya? nggak popo to?" , "yooo popoo" batinku. :p

Hampir jam 1 dini hari, setelah menyantap beberapa sendok mie rebus, kami siap untuk menuju puncak Semeru, kami bertujuh berdiri melingkar, yang semula dua tim, kami menjadi satu tim. Kami menundukkan kepala, kami berdoa, bersyukur masih diberi kekuatan sampai sejauh ini, bersyukur diberi cuaca yang cerah, nggak seperti kata-kata Ahong "Badai". Terima Kasih Bapa. Dan supaya tetap diberi kekuatan dan kesehatan serta cuaca yang mendukung sampai ujung perjalanan nanti. Hap hap hap, tap tap tap, kami memantapkan langkah kami. Medan dari Arcopodo sampai ke Kelir ( Batas vegetasi ) masih berupa tanah jadi kami tak begitu kesulitan, di kanan dan kiri banyak terdapat tulisan-tulisan in memoriam yang menambah cekam malam itu. Kami satu-satu membawa senter atau headlamp, Ahong di depan sebagai pembimbing jalan kami. Tanpa terasa kami sudah sampai di medan yang berpasir, itu tandanya sudah tak akan ada lagi pohon, hanya pasir dan pasir yang akan menjadi pijakan kami sampai dipuncak nanti. Medan pasir memang berat untuk ditanjakki, tapi mudah untuk diturunni, jalan kamipun tak bisa cepat, kami akan saling menunggu jika ada satu teman kami yang sudah terlihat lelah atau minta break. Kita harus jeli melihat kondisi teman, karena dalam kondisi seperti ini teman kita kadang malu untuk minta break, dan jika sudah tidak kuat namun tetap dipaksa ntah apa jadinya nanti. Kadang kami duduk sambil melihat kebawah, melihat lampu-lampu kecil warna-warni yang begitu cantik, saya yakin mereka sedang tertidur lelap dengan selimut tebal, mungkin juga ngorok. Tapi kami disini berjuang, menyatukan doa kami, supaya dapat berdiri dipuncak tertinggi pulau Jawa. Jam terus berganti, mentari pagi mulai berseri, kami kehilangan moment Sunrise  di Puncak Gunung Semeru, kami belum juga sampai ke puncak, kami terus berusaha, dan Terpujilah Engkau Tuhan, Allah semesta alam,  jam 6 kurang kami semua sampai di Puncak Semeru, Mahameru namanya. Senyum puas, sujud syukur, melihat piramid Mahameru yang begitu cantik, melihat kepulan asap dari kawah Jonggring Saloko, Melihat laut, melihat bukit bukit hijau yang telah kami lalui, melihat Arjuno Welirang, Raung, Argopuro.

Di Puncak Semeru

Ooooh Tuhan, tak ada kata yang pas untuk melukiskan semua karya indahMu ini. Kita pasti merasa begitu kecil, tak akan ada kesombongan yang mampu kita ungkapkan diatas sini..
Langit terasa begitu dekat, rasanya damai sekali, nyaman sekali. Salah satu orang yang kagumi meninggal di sini, tapi tulisan In Memoriamnya sudah diturunkan kata Pak Ningot karena yang pasang nggak ijin. Meninggal dipelukan Mahameru, Abunya abadi di lembah kasih. Mahameru begitu sepi, hanya kami bertujuh yang ada di puncak tertinggi tanah jawa hari itu. Perjuangan ini berujung manis, sekali lagi kami diberi kesempatan menikmati
semuanya yang kami rasa indah, hmmm, lebih dari indah. Terima Kasih Mahameru. Terima Kasih Bapa.. :)

Sekitar jam 10 kami telah tiba di tenda kami di Arcopodo. Nggak pake lama, kami langsung bongkar tenda dan menuju kembali ke Kalimati. Arcopodo yang berarti Arca kembar mungkin nggak banyak pendaki yang beruntung bisa melihat Arca Kembar itu. Ada yang berkata Arca itu telah dipindahkan dari jalur pendaki. Ada juga beberapa cerita lainnya,
Yang jelas saya percaya bahwa Arca itu ada disuatu tempat, tetap abadi di rumahnya, Gunung Semeru. Sampai di Kalimati lagi, makan siang eh tapi masak dulu. Pendaki yang mau muncak besok lumayan banyak ternyata, kami bertemu mereka di Kalimati, ada yang mendirikan tenda di Kalimati ada juga yang langsung menuju Arcopodo. hmm.. saya kembali bertemu dengannya, hanya memandangnya tapi nggak menyapanya, saya suka dengan senyumnya, sayang saya nggak bisa berjalan bersamanya, nggak bisa menemaninya menuju puncak, nggak bisa melihat senyumnya di puncak, huuuffh. Rombongan Mas Miko sudah menuju Arcopodo, kami juga bersiap-siap untuk menuju camp kami malam itu, Ranu Kumbolo. Selesai packing kami langsung menuju Ranu Kumbolo, kami berpamittan dengan beberapa kelompok lain, juga berpamitan dengan kelompoknya, saya melambaikan tangan, dia juga, saya tersenyum, dia membalasnya. Dialah yang menambah kedamaian Kalimati siang itu, dihati saya. Walau saya nggak tau namanya, saya berharap dilain waktu, di lain tempat saya bisa kembali bertemu dengannya. :))

Belasan tenda sudah didirikan di sekitar Ranu Kumbolo, kami melihatnya dari atas Tanjakan Cinta. Rupanya sekelompok pendaki, saya rasa dari Jakarta, dan saya yakin banyak diantara mereka yang sudah berkeluarga, saya salut, mereka masih tetap kompak sampai setua itu, tetap mendaki walau sudah tak sekuat dulu, mereka kini mengandalkan jasa porter untuk membawa barang bawaan mereka, Para porter terlihat begitu sibuk, ada yang membantu mendirikan tenda, ada yang menyiapkan masakan.   Di tempat yang sama tenda tim saya berdiri, disebelahnya tenda milik Andrew dkk. Malam di Ranu Kumbolo tidak pernah hangat, kita harus pintar mencari kehangatan sendiri disini. Bertujuh kami berada dalam hangatnya tenda malam itu, menghabiskan santapan malam dengan tidak lupa menyisakannya untuk besok pagi. Kami saling bertanya dan bercerita. Kami menjadi mudah akrab malam itu, sangat simple cara yang diberikan Gunung pada kita untuk menjadi akrab dengan yang lain. Gelap dan masih berkabut, kami tertidur, semoga besok pagi cerah.


Ranu Kumbolo

Dingin, masih saja dingin, fajar Ranu Kumbolo tak secerah dua hari yang lalu, tapi kabut yang menari dan kejar-kejarran diatas airnya memberikan pagi yang berbeda, Kabut itu terlihat seperti Manusia yang sedang menyajikan sebuah pertunjukkan,opera, yaa Opera, Ranu Kumbolo yang jadi panggungnya, santai sekali, tenang sekali, kami dipaksa mangap melihatnya. Ranu Kumbolo pagi itu lebih ramai orang dari dua hari yang lalu, camera adalah salah satu yang digunakan beberapa orang untuk mengabadikan keindahannya, salah duanya adalah mata yang membiarkan otak untuk menyimpan dimemorynya. Kebisuan Ranu Kumbolo kelak pasti akan membuat kami merindukannya.

Sampah sampah sampah, orang lain gag nuntut supaya kamu bisa membawakan sampahnya, cukup bawa turun sampah kamu sendiri, makan permen mbok ya sampahnya dikantongi, jangan dibuang sembarangan kayak dimana kamu berada itu tempat sampah, sadar woy sadar. Memprihatinkan memang melihat volume sampah yang ada di Gunung Semeru, yang buat sampah siapa lagi kalau bukan para pendaki? alam pasti akan rusak jika kita terus buang sampah sembarangan. Biarkan kehidupan setelah kita, bahkan setelah cucu dari cucu kita tetap bisa menikmati keindahan alam ciptaanNya. 

Ingatlah baha masih ada anak cucu kita,

Sekitar pukul tiga sore kami sampai di pos Ranupani, lapor lagi ma Pak Ningot, bahwa kami semua telah dengan selamat tiba lagi di Ranupani. Nasi Rawon, teh hangat menjadi penghangat kala kabut disebrang Pos Perijinan Ranupani. Ada empat orang pendaki yang tetap nekat walau cuaca berkabut, mereka hanya berencana sampai di Ranu kumolo Pak Ningot tetap mengijinkan mereka, dengan pesan tetap hati-hati dan saling menjaga. Maghrib sudah hampir tiba, Pak Ningot mengajak kami mampir kerumahnya, sambil menunggu jemputan truk Pak Rusno. Mendengarkan cerita dari beliau, ternyata beliau adalah salah satu anggota Tim SAR, diperlihatkan beberapa fotonya, saya rasa mungkin dia sudah terbiasa dengan cuaca dan kondisi yang buruk. Sikapnya sangat tegas namun sangat bersahabat. Truk milik Pak Rusno telah terparkir didepan rumah Pak Ningot, kami siap menuju Tumpang, menuju Malang Kota Impian, kami meninggalkan jejak kami di Gunung Semeru, membawa pulang sampah, cerita, foto dan teman baru. 

Masihkah terbesit asa, anak cucuku mencumbui pasirnya, Terima Kasih Puncak Abadi Para Dewa.


Seorang Superman di Jambangan, Ahong!
Pemuda Romantis dengan bunga-bunga ungumya, Angga!
Yang suka menyusahkan temannya, Dion!







8 comments:

  1. me-rin-ding! nek ngene iki soyo mupeng pengen munggah gunung :|

    ReplyDelete
  2. Suka ngakkebayang berat nya ransel di gendong pasti bikin gw pingsan hehehe. Kmrn aja cuman bawa daybag yg isi nya aqua + jaket dan rasa nya mau pingsan jalan ke rankum ihik ihik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyooo Mas, sama, ngeliat temen2 pada bawa kulkaas digendong. Bawa aquanya berapa botol Mas?hehehe
      sudah ke Rakum toh? Duuh, jadi kangen nih..

      Delete
  3. cerita mu bersamaku gak di publish?? oh nooooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena disini threepotmu ketinggalan di basecamp..

      Delete