Friday, March 07, 2014

Kiluan, Taman Lumba-Lumba


Sunset Teluk Kiluan

Pertunjukkan lumba-lumba sangat familiar di telinga kita, nggak perlu jauh-jauh ditempat kita tinggal pasti pernah ada sebuah panggung pertunjukkan penataan kursi penontonnya menyerupai anak tangga, mengelilingi sebuah kolam renang yang nggak pernah kita tau berapa kedalamannya.
Nah! Saya jadi melamun, ingat kalo saya waktu kecil dulu, TK mungkin pernah punya kenangan dengan panggung seperti itu, dan seingat saya hanya sekali itu juga saya nonton pertunjukkan lumba-lumba. Saya juga pernah foto tuh dicium ma lumba-lumba, tapi ntah sekarang dimana fotonya, hehehe..
Akhir-akhir ini, kayaknya juga udah dari dulu deh, temen-temen saya,lewat Twitternya banyak yang menolak kehadiran pertunjukkan lumba-lumba, alasannya sih mudah ditebak, karena Manusia yang menangkap lumba-lumba memperlakukannya seperti binatang, ya emang lumba-lumba itu binatang, upss..
Perlakuannya nggak wajar, pelatihnya kasar, lumba-lumbanya disiksa. Pada situasi seperti ini saya bingung harus menempatkan diri saya pada posisi yang mana, di satu sisi saya sepertinya percaya bahwa mereka yang melatih lumba-lumba melakukan paksaan untuk memaksa lumba-lumba supaya mengikuti apa yang diinginkan sang pelatih, mungkin kadang mereka juga dipecut, tapi saya nggak pernzh secara langsung melihatnya, disisi lain, jika saya melihat video atraksi lumba-lumba, saya merasa lumba-lumba itu enjoy aja, asyik aja, bahkan mereka seperti menikmati setiap atraksi yang mereka lakukan. Terpesona gag sih melihat lumba-lumba bisa lompat beberapa meter dari permukaan air, air itu seperti trampolin buat mereka.


7-8 Desember 2013, saya berkesempatan mengunjungi suatu teluk yang diceritakan orang bahwa kalo kita kesana dan beruntung, kita bisa melihat kawanan lumba-lumba bermain lepas, bermain bebas ditengah lauttan, ya tentu saja di rumahnya sendiri, mereka bisa sesuka hati mereka.
Yang namanya niat bisa saja gagal, yang namanya tujuan bisa saja berubah, kita dihadapkan dengan pilihan dan dipaksa mengambil keputusan dan yang pasti pula membutuhkan pengorbanan. Tujuan semula adalah ke Baduy sebuah kampung adat yang nggak mau nerima perubahan dari luar, memegang teguh adat mereka sendiri, menarik, sangat menarik untuk dipelajari. Tapi si Mayco, teman SMA, dan yang akan menjadi satu-satunya partner perjalanan saya kali ini, memberi pilihan untuk menuju ke Teluk Kiluan, saya coba saja searching tentang Kiluan, karena sebelumnya saya nggak pernah mendengarnya, dan hasilnya, wuuuuh, jiwa ini bergejolak, semangat ini menggebu-nggebu, saya ajak aja Mayco, yook ubah tujuan menuju Teluk Kiluan!
Konsekuensinya jelas pada biaya yang membengkak, rencana semula kami akan berangkat berempat, tapi ya biasa halangan itu selalu ada, dua orang gugur, dan hanya tinggal saya dan Mayco, coba hitung semua alternatif yang ada dari ikut biro, sampai ketengan, ketemunya tetap aja mahal semuanya. Bingung juga nih, nah kalo udah menthok gini, pasti deh perasaan pesimis yang keluar.
"Gimana nih Gon? mahal semua" kata Mayco. *mikir....
Tapi kalo gag sekarang, mau kapan lagi? Nunggu cuaca bagus, kebetulan udah bulan Desember jadi ya udah masuk musim penghujan. Nunggu ada temen lagi yang mau join? atau cari lain waktu lagi?
Faktor-faktor seperti itulah yang kerap membuat sebuah rencana perjalanan yang sudah lama tersusun rapi menjadi berantakan bahkan mengecewakan. So, solusinya kalo bisa nekat ya nekat aja!!
Jadilah tiba di Hari H, Jum'at 6 Desember 2013. Dengan budget yang lumayan tinggi, dengan waktu yang sangat mepet, dengan modal NEKAT, berangkatlah kami berdua menuju Kiluan Bay!
Jam 10 Malam kami berangkat dari Slipi Jaya Jakarta Barat naek Bus menuju pelabuhan Merak Banten, walau dengan Bus yang saya rasa sudah bakal dibumi hanguskan kalau di Singapura kami tiba dengan selamat di Pelabuhan Merak dini hari. Kapal relasi dari Merak-Bakaheuni tersedia 24jam, jadi tak perlu khawatir jam berapapun kita tiba disana, pasti akan ada kapal yang akan membawa kita melintasi Selat Sunda.
Saya selalu bersemangat dengan petualangan seperti ini, nggak tau jalan, hanya tau nama tempat yang akan kita tuju. Hanya bermodal mulit untuk bertanya, kita pasti akan bertemu banyak hal yang tak terduga, kita akan banyak belajar.
Dipelabuhan Merak kami melihat banyak muda-mudi juga, mungkin mereka juga akan menuju ke Kiluan Bay, atau mungkin ketempat lain di Pulau Sumatra. Hanya dengan 13.000 per orang untuk kelas Ekonomi, kami diperbolehkan naik kapal menuju Pelabuhan Bakaheuni Lampung. Jam 3 pagi tanggal 7 desember 2013 kapal mulai meninggalkan Pelabuan Merak menuju Pelabuhan Bakaheuni aka Bakau. Tempat terbaik saat naik sebuah kapal adalah di bagian atapnnya, dimana kita bisa merasakan angin, mendengar kapal memecah ombak dan memandangi lautan luas. Kami tersihir akan ketenangannya.
Oh iya dengan menambah beberapa belasribu rupiah kita bisa mendapat bantal dan space untuk bisa tidur. Dapet selimut juga kayakya.

Cahaya binar lampu didepan kapal mulai ramai, saya sadar kapal akan segera merapat ke Pulau Sumatra, sebuah pijakan pertama saya di Pulau ini, Welcome Sumatra. Pagi itu jam 5, kami langsung keluar Pelabuhan Bakau untuk cari angkuttan menuju Bandar Lampung, tak usah khawatir untuk masalah angkot di Bakau, selain ada Bus, ada juga para pengemudi APV (kebanyakan) yang siap mengantar menuju Bandar Lampung, tentunya lebih nyaman dan lebih cepat. Tapi untuk ngirit kami naek Bus saja, Bus kualitas Ekonomi, kalau pernah liat Film Laskar Pelangi, naah Bus mirip seperti yang dinaikki Ikal dalam perjalanan pulang ke Belitong, tapi di Bus menuju Lampung tak ada alunan musik Melayunya. Kiri Kanan terlihat hijau pepohonan, tapi rasanya tidak segar, terlihat hijau tapi gersang, mungkin karena masih didekat pantai laut yah. Jalanan dari Bakau menuju Lampung tidak terlalu besar hanya bisa dilalui satu kendaraan per arahnya, jadi terbayang bagaimana bosannya jika musim mudik tiba, jalanannya lurus sedikit berlubang. Rumah juga tidak terlalu padat, mungkin satu kampung, satu rumah,hahaha, lebay...
Kami menikmatinya dengan tidur, karena harus menyimpan tenaga untuk mengeksplore Kiluan nanti.

Jalanan sedikit menanjak sebelum akhirnya kami turun dari Bus untuk bertemu Pak Toni (Superman perjalanan kita kali ini). Pak Toni, namanya sudah terkenal diantara Pejalan yang pernah ke Kiluan, dah pasti mbah Google juga sudah mengenalnya, bersama dengan Pak Dirham pemilik cottage di Pulau Kiluan. Pak Tonilah yang menjadi pengantar jemput pejalan dari dan ke Kiluan.
Beliau telah menunggu kami di Pom Bensin (lupa nama daerahnya). Cuuuy.. Meluncur menuju Teluk Kiluan, Lets Enjoy This Journey!!
Rumah-rumah di Lampung memiliki ciri khas yang sama, mereka empunya rumah begitu bangga salah satunya terlihat dari itu, dari Lambang perisai atau lebih mirip mahkota, yang hampir selalu ada di setiap rumah, bahkan setiap toko dan ruko, Unik. Begitu banyak Lambang yang sama dengan ukuran yang beraneka ragam. Nampaknya di Lampung Lambang itu lebih banyak dibanding atribut partai.
Jalanan di Lampung begitu lenggang, kalah jauh kalo dibandingkan dengan Jakarta.

Mobil APV yang kami naikki segera memasuki jalanan tepi laut yang kecil berlubang dan berkelak kelok, kadang naik, kadang turun. Prediksi saya pasti Kiluan sebentar lagi, tapi setelah tanya Pak Toni, "masih jauh mas" , waa ini, kata jauh orang sini pasti berarti yang sebenarnya, atau bisa saja jauuuuuuuhhh banget. Enjoy aja.
Sesekali kami tidur didalam mobil, sesekali bangun menikmati perjalanan, sesekali juga ngobrol dengan Pak Toni, kami masih penasaran dengan Teluk Kulian.
"Mas mampir beli chicken dulu ya?" , ohh iyaa Pak, kami mengiyakan. Wah asiik mampir pasar nih, eh tapi yang dimaksud ternyata adalah Fried Chicken, hahahaha, saya hanya tersenyum. Pesanan anak Mas.

Mulai gelisah nih, dikit dikit liat jam, liat jam dikit dikit. Jalan yang kami lalui begitu parah, tidak ada yang berlubang, tapi jalanan masih berupa tanah dan batu, parah, parah banget. Inilah sebab utama saya sebut Pak Toni jadi superman perjalanan saya kali ini, Beliau rela bolak balik sehari 2 kali demi antar dan jemput penumpang Bandar Lampung-Kiluan, butuh perjuangan yang niat karena berhadapan dengan kondisi jalan yang parah juga waktu tempuh yang lama, tapi yang terlihat diwajahnya keriput dengan senyum yang tulus, freak, bikin kagum. Kalo gag ada orang-orang seperti Pak Toni, saya yakin Teluk Kiluan tak akan pernah terexplore seperti sekarang. Tapi saya ingin memberi suara kepada pemerintah Lampung supaya tak usah mengaspal, jadi Teluk Kiluan tetap akan Indah, tanpa harus dikotori mereka yang pergi ke Kiluan dengan sampah-sampahnya. hahaha.. kesannya egois banget. :p

Naik Bukit, turun bukit (lagi), belok kanan, belok kiri. Masih dengan jalanan yang nggak ada ratanya sama sekali. Masih dengan sebelah kiri bukit, sebelah kanan jurang dan jalan didepan ada gapura berkaki dua berwarna merah, beratap biru berbentuk jukung dengan Mahkota lambang kota Lampung diatasnya, serta ada seekor patung Dolphin menempel disampingnya, bertuliskan "SELAMAT DATANG DI TELUK KILUAN". Eh saya syook, akhirnya sampai juga, terlihat Pulau Kiluan yang kecil dan terpisah, kata Pak Toni itu mas nanti kamu tidurnya ya di Pulau itu.. WOW.. Amazing..
Tak lama setelah sampai di Pantai kami langsung diantar menggunakan Jukung menuju ke Pulau Kiluan, kira kira tengah hari kami sampai di Pulau Kiluan, Seorang bapak menyambut kami (lupa namanya, adiknya Pak Dirham pemilik cottage). Dan untungnya informasi dari beliau masih ada dua kamar kosong yang lainnya sudah di booking, hahaha, Puji Tuhan kita masih dapat kamar. Just Info guys, buat kalian yang misalnya kehabisan kamar di Pulau Kiluan kalian bisa membawa tenda sendiri dengan biaya 30rb kalo gag salah, mengingat memang kamar yang disediakan tidak banyak, hanya sekitar belasan kamar, atau kalian bisa tidur di pulau lain yang berdekatan dengan Pulau Kiluan. 
Setelah makan siang lalu, tidur, saya dibangunkan Mayco, diingatkan "Jauh-jauh sampai Kiluan masa cuma buat tidur" hahaha. Yups gag pake lama, indah sekali siang itu. membuka pintu kamar dikejutkan dengan matahari terik yang memberi mencolok mata pada gradasi air, hijau pohon dan pantai pasir putih halus. What a Worderfull life, hiyaaaaa.
Pemanasan dulu jalan di pantai biar kalo renang kagak keram. Sudah nggak sabar.
Byuuurrr, Gilak!! bersih banget pantainya, agak jauh sekitar 5 meter dari pasir sudah ada terumbu karangnya broo, dan masih bagus, bagus banget, ikan laut warna warni bermain petak umpet di terumbu karang berwarna biru, nggak boleh dilewatkan, kami berdua langsung menyewa Snorkel dan pelampung, tapi yang sangat disayangkan nggak adanya camera underwear, eh underwater, disini nggak ada yang menyediakan , nggak kayak di Karimun Jawa broo. So, kami gag punya dokumentasi bawah air, padahal, sumpah cantik banget. Tadinya si Mayco mau nekat pake gadgetnya dengan dibungkus plastik untuk foto didalem air, tapi setelah diingatkan orang "sana" dia jadi mengurungkan niatnya. Air laut memang lebih kejam kepada gadget dibandingkan dengan air tawar. Dan sayangnya lagi saya gag bawa senjata andalan saya kalo lagi jalan, ketinggalan, ya ketinggalan, ketinggalan di rumah Magelang, jadi gag bisa bereksperimen menghasilkan foto di Kiluan. Kadang memang lebih bijak jika menggunakan memory mata. :((((((

Sekitar pukul 17.00 Wib kami telah selesai mandi dan ganti pakaian, kalian tau kami siap untuk apa? Untuk sunset yang romantis. Kami berjalan ke arah barat supaya segera sampai di bibir pantai. Walau langit dibarat berawan saya tetap berharap supaya dapat sunset dengan sun yang bulat sempurna. Tapi Matahari masih malu-malu, atau awan yang terlalu jahat, karena menghalangi cinta saya dengan Matahari? yaa sudahlah.
Senja memang bagian dari hari yang paling romantis, tebar emas cahaya mataharinya mampu meluluhkan hati para penikmatnya. Saya dan Mayco menikmati senja itu sendiri sendiri, karena kami bukan maho, hahaha.

Listrik disini hanya Malam hari nyalanya, itupun juga menggunakan genset, sinyal TV sudah ada disini, begitu juga sinyal HP, Smartfren lancar internet disini. Kami tidak tidur terlalu larut malam itu, karena sudah diingatkan besok pagi kami berangkat jam 6 untuk liat dolphin. Tidur kami terasa romantis, bukan karena kami berpelukkan, tapi karena seperti disenandungkan lagu tidur oleh suara ombak, tsaaah.

"Gon bangun Gon, udah jam 5" Mayco nggugah saya. Ada suara aneh pagi itu, bukan suara ombak lagi yang kami dengar, tapi suara air yang turun dari langit, yaelaah hujaaan. Jadi kami melanjutkan tidur sambil berdoa supaya hujan segera reda ( Jangan ditiru, masa berdoa sambil tidur ).
Jam 6 pun hujan belum reda masih rintik-rintik, kami disuruh makan dulu oleh Pak-yang-jaga-cottage-yang-saya-lupa-namanya. Beliau nampaknya paham sekali dengan wajah kami yang berharap supaya hujan reda. Jam 7 hujan sudah reda, dan kapal atau jukung yang menjemput kami tiba, nggak pake lama, kami langsung meluncur menuju Taman Lumba-lumba, dengan kapten kapal, saya.
Banyak sekali ternyata Jukung yang melaut pagi itu, tak disangka. Trik nelayan disini supaya bertemu dolphin adalah dengan menyebar, ada yg ke sayap kiri, sayap kanan dan ada yang lewat tengah, jika sudah ada yang menemukan dolphin mereka akan meng-kode nelayan yang lain, kompak. Sayangnya matahari sudah mulai tinggi dan dan hari sudah semakin siang, jadi pencarian dolphin menjadi lebih jauh dari pantai.
Banyak Jukung yang sudah jauh didepan kami, Sang nahkoda jukung kami tiba-tiba mematikan mesin, ditengah ganas gelombang laut yang air lautnya berwarna biru tua gelap dia berhenti? ada apa ini?
Saya memandang ke arah Pak Nelayan yang berdiri dibelakang saya hendak mengajukan pertanyaan "kenapa Pak kok berhenti?" tapi tidak jadi. Senar pancing tanpa walesan ditangannya menjadi jawaban atas jawaban saya tadi, jadi saya bertanya, "dapet Pak?" Ternyata Pak Nelayan tadi sambil jalan sambil mancing. Ditanya begitu dia diam saja, dia hanya mengedipkan sebelah mata kepada saya, sombong nih Pak Nelayan. Tak lama setelah dia mengedipkan mata lauttan memberi jawaban atas pertanyaan saya, lumayan jauh dibelakang jukung kami ikan layaran atau marlin besar lompat dari dalam air, saya menahan nafas sambil tersenyum, saya menjadi semangat, memberi semangat kepada Pak Nelayan untuk menaikkan Ikan Layaran tersebut ke kapal, Mancing Mania tanpa walesan. Cukup lama tarik ulur dengan Ikan akhirnya Ikan Layaran itu berhasil dinaikkan, sudah pengalaman nih Pak Nelayan, soalnya jika kita tidak tau caraya, bisa bisa cucut ikan Layaran yang nancep di tubuh kita. Good Job Fisherman.
Saya gag tau apakah benar membiarkan Nelayan catch tanpa release Ikan Layaran, tapi jika saya melarangnya Anak istrinya mau dikasih makan apa?

Moment selanjutnya bukan lagi ikan layaran yang melompat diudara, tapi beberapa lumba-lumba yang berenang diatas permukaan, sedikit sih, gag terlalu banyak, kami bisa melihatnya walau cuma sekilas tapi tak bisa mengambil gambarnya. Ekspektasi saya adalah banyak lumba-lumba yang akan lompat menari-nari diatas permukaan laut, tapi kami yang hari itu ke kiluan tidak mendapatkannya, mungkin karena sudah terlalu siang dan juga karena tadi pagi hujan. ah tapi itu hanya prediksi manusia, segala yang berkaittan dengan alam tak akan pernah dapat dipastikan.
Taman Lumba-lumba tidak dapat kami temukan hari ini. Tapi kami percaya masih banyak kawanan lumba-lumba yang begitu bahagia hidup disini bertetangga dengan jenis ikan-ikan yang lainnya.

Sesampai di Pulau Kiluan kami langsung bersiap menuju tanah rantauan kami. Jakarta! Dengan wajah Mayco yang belum main air, dengan belanjaan kripik pisang coklat khas Lampung ditangan. Kami naik travel menuju Palabuhan Bakaheuni. Semoga Kiluan tetap lestari. Terima Kasih Kiluan, Terima Kasih Tanggamus. Terima Kasih Tuhan. :)



Sekilas Info :
Harga Tiket Kapal Merak Bakau       : Rp 13.000
Lampung - Kiluan ( PP ) dengan mobil APV Pak Toni Rp 800.000, masih bisa nego. Kalau dengan travel kabarnya lebih murah, info bisa ke @backpackerdepok, mereka pernah kesana naek travel rombongan.
Penginapan di Pulau Kiluan Rp 150.000 atau 200.000 agak lupa.
Jukung Rp 250.000
Makan di Pulau Kiluan Rp. 15.000 dengan menu khas nasi, ikan, sayur, tempe goreng dan sambal, mantep pokoknya.
Pak Nelayan itu baik hati hanya saya yang agak alay, Terima Kasih Pak Nelayan.

Di Pantai Pulau Kiluan setelah hunting Dolphin, cantikkan gradasinya?
Mayco, Layaran dan Pak Nelayan
Senja Teluk Kiluan
Senja Pulau Kiluan
Pantai Pulau Kiluan dalam Panorama
Mati Gaya di Pulau Kiluan
Bangun Tidur Siang di Kiluan

Gerbang Pulau Kiluan pulau kecil background itu tempat kami menginap

17 comments:

  1. Tahunnya typo Pak.. :( Kowe nek dolan kok saiki ra ajak-ajak :(((((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... nulisse malah masa depan yoo.. pancen paranormal kih.. Derawan njoo..

      Delete
  2. Planing selanjutnya neng ndi? aku meluu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakaban.. Maratua pengenne Ndii.. njoo njoo njoo..

      Delete
    2. Yoh yoh..mumpung neng kalimantan ki

      Delete
    3. Hahaha.. nak mbolos iso ra ndi? Brm bisa rodo bebas men..

      Delete
  3. Replies
    1. Berangkat kakak.. Enjoy Indonesia Indah.. hahaha...

      Delete
    2. iya kak, doakan yah. *maklum anak rumahan*

      Delete
    3. Haiiisssh... Boong itu dosa Mas Adi.. :(((

      Delete
  4. Nggak ada foto lumba-lumba di lepas pantainya bro? Takut dicekal kah? hehehe
    Oh iya... Jukung bisa di-share berapa orang maksimal?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohh iya Mas Halim, malah nggak ada ya?
      Pake camera HP jadul nggak sampe speednya.. :((
      Jukungnya maximal 3 orang, kalo lebih dari itu Nelayannya nggak mau. . Selain arus lautnya gedhe, butuh speed juga buat ngejar Lumba-lumbanya.. :))
      Mau kesanakah?

      Delete
  5. Commeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnntttttttttt... :p

    ReplyDelete
  6. kalau ke Pahawan pernah ga? Seru mana sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh Pahawan belum pernah sih.. coba deh 22nya kakak.. bagus semua itu..

      Delete
  7. oohh iki toh blognya dion... melu gung planning selanjutnya mbe andhi juga... hehe

    ReplyDelete