Thursday, May 08, 2014

Part From Borneo : Ngebus Banjarmasin - Samarinda - Banjarmasin

Untuk pertama kalinya saya merasakan naik Bus di Pulau Kalimantan ini. Pulau yang berjaya sebagai paru-paru dunia.



Hari itu minggu 4 Mei 2014, bergegas pagi itu menuju Banjarmasin, Ulun dari Kuala Kapuas. Ulun hendak ke Samarinda, guna mengikutti Hari H kelas Inspirasi Samarinda keesokkan harinya. memilih Bus pukul 14.00 WITA dari Banjarmasin, supaya sekitar pukul 08.00 WITA keesokkan harinya bisa tiba di Samarinda, karena waktu tempuh dengan perjalanan darat menelan waktu lebih kurang 18 jam. Namun hasilnya banyak hal yang tak terduga. Tuhan memang Maha Asyik.



Terminal PAL 6 Banjarmasin menjadi saksi teriknya satu-satunya Matahari Indonesia bagian tengah siang itu, walau kenyataannya di Duta Mall Banjarmasin juga ada Matahari lagi. Wajah buas orang-orang terminal juga calo membuat keringat ini semakin mengember.
Sepertinya memang wajah saya bisa jadi dasar sketsa buat wajah bingung. Seketika muncul calo didepan saya "Mau kemana mas?" , "Samarinda Om" Jawab saya polos, "Kalo ke Samarinda adanya jam berapa aja Busnya Om?" . "Langsung ke loket tiketnya aja Mas, tuh ada disebelah sana" *sambil nunjuk pake telunjuk. Oh ternyata dia Om Calo yang baik hati, nunjukkin langsung ke loket tiketnya, sayangnya PO bus itu berangkatnya jam 17.00 WITA, pake Full AC. Saya keluar dari loket sambil menunduk, "Gimana Mas, sudah?" tanya Om calo, dengan wajah mengharapnya. "Belum Om, berangkatnya jam lima, saya cari yang berangkat sekarang, atau sekitar jam tiga, soalnya pengen sekitar jam 8 sampe di Samarinda" *melirik jam kesayangan ditangan, sudah jam 1 WIB, berarti sudah jam 2 WITA, memang melelahkan jika harus bergelut dengan zona waktu.
"Nggak bisa begitu Mas, waktu dai sini ke Samarinda nggak bisa diprediksi" Celetuk sesorang yang tetiba niatnya memberi nasehat kepada kami. Dasar saya kolot, sudah dikasih nasehat masih aja pengen coba cari. "Sana mas, coba cari" , mendadak si Om Calo jadi galak. "Ya kalo nggak ada nanti saya naek motor" jawab saya jengkel tapi tetap tersenyum.

Saya bermotor menuju agen bus yang satunya, kebetulan bus ekonomi milik agen bus itu sudah terparkir di depan, dan ada penumpang juga didalamnya.
"Om, berangkat ke Samarinda jam berapakah?" , "Ini 5 menit lagi berangkat, sudah mana tasnya, langsung naik" , birahinya gedhe juga nih si Om. "Bentar om, berapa duit om? tanya saya sambil mengulur waktu, seperti masih kurang percaya, atau mungkin kurang yakin dengan ketabahan hati tentang perjalanan seorang diri kali ini. Si Om ngeliattin saya dengan tajam, pipi tembem dan kulit hitamnya menakutkan.
"150 ribu, naik aja, kamu duduk dinomor 34, sudah sini buruan". Saya mengeluarkan 3 lembar kertas berwarna biru, saya serahkan padanya. Ikhlas, walau saya merasa seperti  dipalak.
Dengan ransel saya pede naik ke bus dan duduk di nomor 34.
Nama Busnya Pulau Indah Jaya atau Samarinda Lestari, warna busnya sama. Tersedia juga Full AC+Toilet dengan tarif 200ribu.

Tak berapa lama Buspun berangkat, jam 2 kurang. Semoga tepat waktu sampe Samarinda.
Aah tapi baru keluar terminal sudah berhenti, nungguin penumpang lagi, maju dikit berhenti lagi, sampe di pul berhenti lagi, sang kernet menaikkan beberapa kardus ke bagasi samping kiri bus, nggak cukup kardus saja, ada motor satria dinaikkan juga, masuk ke bagasi? Nggak, dinaikkan kedalam bus, bersama pemiliknya. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya yang tadi bilang mau naek motor aja ke Samarinda.
Tapi ini yang unik jika kita naek Bus Ekonomi, untung bukan sapi yang dipaketkan.
Bus kembali melaju, lalu kembali berhenti dibeberapa titik untuk menaikkan penumpang. Setelah melewati Banjar Baru, kota yang terlihat lenggang karena penataan jalan dan kotanya ciamik. Kami berhenti lagi, kali ini di Martapura, bus sudah mulai penuh, si kernet sudah mulai mengeluarkan kursi platik yang tak ada sandarrannya, untuk didudukki penumpang, diletakkan di area untuk berjalan. Pemikirran saya membaca hati penumpang yang sebenernya nggak mau duduk dikursi itu. Tragis, masih sekitar 17jam, melewati malam, tertidur duduk tanpa sandaran.

Sekitar pukul 5 sore WITA, Bus kembali berhenti, kali ini di sebuah Rumah Makan.
Para penumpang turun bergantian, lalu memasukki Rumah Makan.
Saya bengong bingung, mereka menukarkan tiket merekan dengan semangkuk sup. Baru saya sadar ternyata saya tadi ndak dikasih tiket, saya sadar tadi ternyata saya beli di Om Calo. Jalan keluarnya saya harus yarwe alias bayar dewe.
Bapak yang duduk di bus, disamping saya kemudian bercerita. "Untung masih kena 150 Mas, saya dulu pernah kena 200 ribu. Untung juga masih dapat tempat duduk, coba kalo nomernya mas ada ditiket orang lain. Diterminal Banjarmasin memang begitu Mas, kita dipaksa, diikuttin terus, beda dengan di terminal Samarinda. Jadi kalo mau bayar langsung ke loket aja Mas". Pelajaran. Saya sejenak berterima kasih kepada Tuhan.
"Paling cepet mungkin jam 9 Mas sampai Samarinda" Bapak itu melanjutkan, rupanya dia juga hendak ke Samarinda. "Dulu tuh jam 7 pagi aja sudah sampai, sekarang sudah nggak pernah lagi, malah bisa jadi jam 11 siang kita baru sampai, semoga aja jalannya lancar Mas".

Sambil melewati Rantau, Tanjung, Kandangan. Malampun mulai bangun, kami mulai tertidur.
Ntah berapa lama saya tertidur, saya mendadak bangun, dan Bus sudah posisi berhenti dijalan ditengah hutan, cahaya bulan berhasil menembus jendela Bus. Mesin mati, Sopir dan kernet bus ada di belakang bus, saya ikut turun mengikutti beberapa penumpang lainnya, kebelet kencing.
Saya coba sok tau ikut nimbrung obrolan mendadak di belakang Bus, ternyata selang untuk air radiator pecah. Saya masih berharap bisa sampai Samarinda tepat waktu. Tak begitu lama masalah teratasi, masih bisa diakalli.

Bus ini walaupun ekonomi sebenernya cukup nyaman, seatnya bukan 3-2 seperti kebanyakkan bus ekonomi, melainkan 2-2 dengan renggangan untuk kaki yang nyaman.

Malam itu Bus berhenti lagi di Rumah Makan, kali ini semuanya yarwe adil, antara semua penumpang. Sepiring nasi iwak kali mengenyangkan saya malam itu.
Lanjut lagi, kali ini saya terbangun sekitar pukul 2 pagi. Bus berhenti disebuah terminal, ah saya lupa namanya, padahal kemarin ingat, sekarang lupa lagi.
Selang kambuh lagi, kali ini cukup lama, saya sudah pasrah mulai disini, ntah jam berapa sampai di Samarinda. Syukur sudah sampai disini, bukan ditengah hutan, bisa mati kita. Ujar Paman Sopir.

Cukup lama, tapi bisa diakalli dan kita bisa lanjut jalan lagi.
Sekitar jam 5 dini hari bus tiba di Pelabuhan penyebrangan Penajam, tak begitu lama antri kami langsung masuk ke Kapal, di geladak penumpang kami semua menunggu cahaya lampu disebelah timur untuk digantikan dengan hangat sang Mentari, beberapa orang mengabadikannya, kali ini saya hanya menikmatinya.
Satu jam lebih, pagi itu kami lewatkan diatas kapal. Bus langsung melaju, tak lama setelah kapal bersandar.
Penajam pagi itu, saya melihat orang yang berdiri menunggu ABK melemparkan tali guna menyandarkan kapal, melihat bakau, memandang petugas dengan kertas dan pulpen, ntah apa yang dia catat. Eloknya pagi itu.

Bus mulus melewati tanjakkan. Balikpapan, akhirnya sampai juga. Sayangnya Bus tidak leat Kota Balipapan, kota yang terdengar bersih dan cantik tata kotanya dengan pantai dipinggirnya. Bus berhenti di markasnya.
"Mas, siap-siap kita pindah bus ya? Ini Bus nggak lanjut kayaknya" kata bapak sebelah saya. Dan ternyata benar, bus tidak lanjut, kami para penumpang dioper ke Bus sebelah.
Bus ini ternyata problem lagi, ntah kali ini dibagian apanya. Kami harus menunggu lagi.
Saya kirim kabar ke Bu Fajar dan Pak Wawan, saya sudah di Balikpapan.
Sekitar pukul setengah delapan, Bus mulai jalan menuju Samarinda. Ini juga bagian paling mengerikan, ternyata jalan yang harus dilalui dari Balikpapan menuju Samarinda naik turun belok kanan belok kiri berlubang pula, khas jalanan bukit. Paman supir sudah pengalaman, tangannya memutar stir, tangan kiri mengoper gigi, kaki kiri menginjak kopling, kaki kanan menginjak gas dan raut wajah santai. Sedangkan penumpang bus yang duduk dibelakang pantatnya kadang harus melayang diatas kursi karena bus melompat melewati jalanan. Sekitar 3 jam lagi bus ini akan sampai di Samarinda.





"Sebentar lagi sampai Mas" kata bapak yang selama perjalanan duduk disamping saya. Benar-benar beruntung saya bertemu bapak ini, Banyak memberi cerita, yang secara tidak lansung menjadi nasehat buat saya.
Selamat Siang Samarinda. Pukul sebelas siang saya baru sampai di Samarinda, kata Bapaknya lagi, masih harus nyebrang sungai Mahakam, untuk sampai Pasar Segiri. Saya dan Pak Wawan janji ketemuan di pasar Segiri.
"Yok Mas, bareng saya aja, saya nanti melewati Pasar Sebiring, naek taxi ya?" Ucap Bapak itu lagi.
"Yap Pak, saya bareng ya?" tapi dalam hati saya kenapa harus naek taxi? emang nggak ada angkot umum?

Setelah turun dari bus dan menyebrang jalan baru saya dapat jawaban itu, ternyata orang Samarinda menyebut angkutan Umum itu taxi, ya taxi tapi mobilnya Espass atau Zebra. Untuk taxi sedan mereka menyebutnya taxi argo.
Saya kirim pesan WA ke Pak Wawan kalo saya sudah sampai di Samarinda. Tapi sayang sekali acara Kelas Inspirasi di SD Anggur Samarinda sudah hampir selesai. Saya dan Bapak tadi turun didepan megahnya Kantor Gubernur Kalimantan Timur. "Ganti taxi Mas" kata Bapak. "Saya disini aja Pak, nanti biar temen saya jemput disini, bapak duluan aja". "Oh githu, kalo semisal mau ke Pasar Segiri naek taxinya yang warna biru ya Mas. Saya duluan kalo begitu, hati-hati Mas" "Yaa Pak, Terima Kasih Pak" . Saya urungkan niat menuju Pasar Segiri, karena Kelas Inspirasi sudah selesai.
Saya menyebrang jalan, menikmati tepian sungai Mahakam didepan Kantor Gubernur Kalimantan Timur siang itu ditemani seplastik es Dawet. Inilah Ibu Kota Kalimantan Timur.
Saya ucapkan Maaf buat temen-temen Kelas Inspirasi Samarinda.

Tuhan Maha Asyik
Perjalanan pulang saya dari Samarinda menuju Banjarmasin juga menggunakan PO Bus Coklat kuning ini, kembali memilih Ekonomi, kembali mogok dijalan dan dioper.


Sekedar saran kalo ingin lebih nyaman memang pilih Pesawat Banjarmasin - Balikpapan, atau naek bus yang Full AC. Kalo naek Bus waktu nggak bakal bisa diprediksi.
Kalo naik full AC juga terhindar dari asap rokok, kalo naek Ekonomi kita bisa lebih tau banyak tentang kehiduppan para pegawai Tambang.
Terminal Samarinda lebih bersahabat daripada terminal Banjarmasin. Hati-hati di terminal Banjarmasin, mau naek bus atau naek travel, hati-hati, Terminal PAL 6 Banjarmasin itu kejam.




26 comments:

  1. wiiih, awesome banget! jadi pengen juga backpackeran ke Banjarmasin ke Samarinda. keren banar pinanya. salam kenal broh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. cuma sekedar iseng aja kok bro.. Salam kenal Mas Kukuh..
      Mas Kukus orang Samarindakan?

      Delete
  2. Bro mohon info alamat terminal ny dong, mau k smd jg nih, tp blum pernah naik bis.. D tunggu thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaa Mas broo.. di kilometer 6.5.. pertigaan yg ada ace hardwarenya nanti belok kiri semisal dari Duta Mall.. waah harus dicobain tuh.. buat pengalaman hihihi...
      Makasii bro udah mampir..

      Delete
  3. Wah... Nakut-nakutin saya nih. Pertama kali ke Kalimantan. Besok mau ke Samarinda tp via Banjarmasin. Naik bus.
    Bantuin cari ticket bus donk. 085749116960 was

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu perjalanan yang gak bakal terlupakan kak, langsung ke Pal 6 aj, ke terminal Banjarmasin.

      Delete
  4. selamat, ranseltua sudah menginjakkan kaki di kalimantan dan merasakan trip AKAP kalsel kaltim. memang seperti itulah asyiknya kalimantan. Saya tambahkan info, di dalam kisah di atas tadi "sekitar pukul 2 bus berhenti tetapi lupa apa nama daerahnya" itu namanya KUARO bagian dari wilayah Kabupaten Paser/Grogot Kaltim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuuuuiiihh,, Terima kasih kakak buat info tambahannya, Itu pengalaman amazing banget waktu melintas AKAP di tanah Borneo.

      Delete
  5. Replies
    1. Rasakan sendiri pengalamannya kakak.. :D

      Delete
  6. Wow... thank's infonya 😃ada niat kepengen nyoba, tapi pas baca peringatan di endingnya bikin takut😰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang aja kak.. harus dicoba nah.. Jangan takut.. kalo takut gak nyoba entar..

      Delete
  7. Bro mohon info alamat terminal ny dong, mau k smd jg nih, tp blum pernah naik bis.. D tunggu thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Langsung ke Pal 5 aja kak.. kalo dari arah Bandara, sampai pal 5 trus belok kiri..

      Delete
  8. Suka sama kata-kata ini ' Tuhan Maha Asik'

    ReplyDelete
  9. Mantap om.saya pernah samarinda-amuntai(hulu sungai utara-kalsel) naik samarinda lestari.jalan di batukajang bikin badan bergetar.hehehe...
    Pengalaman yang keren.wonderfull kalimantan.

    ReplyDelete
  10. infox keren ^_^
    kalau dari Bandara Syamsudin Nur ke Kuala Kapuas naik apa ya mas? Ongkosnya kira2 berapa? thx banget, salam kenal semuax :)

    ReplyDelete
  11. sebenarnya gak begitu kejam di terminal induk pal 6. kalau mau gak berurusan ma calo langsung aja ke loket, karena di banjarmasin padadasarnya untuk tujuan balikpapan samarinda cuman di layani 2 po makanya gak begitu ribet.

    ReplyDelete
  12. Tolong info terbarunya dong harga tiket & jadwal keberangkatan bus banjarmasin samarinda..! Trims

    ReplyDelete
  13. Tolong info terbarunya dong harga tiket & jadwal keberangkatan bus banjarmasin samarinda..! Trims

    ReplyDelete
  14. Wah asyiinya bisa bertualang di Banjarmasin, buat yang suka travelling ini patut dicoba

    ReplyDelete
  15. Kaloq naik bus bawa ayam boleh enggak ya mas kira"

    ReplyDelete
  16. Mas mau nanya klo bus travel dari samarinda ke banjarmasin ada gak yah ...

    ReplyDelete
  17. Ada gak yah bus travel dari samarinda ke banjarmasin

    ReplyDelete
  18. Saya juga pengen nih liburan ke samarinda naik bus tapi kok kaya nya serem ya 17 jam.saya dari palangka ratya

    ReplyDelete