Saturday, May 10, 2014

Part From Borneo : Samarinda - Kutai Kertanegara

Bentangan Sungai Mahakam

Setelah turun dari taxi ( sebuttan untuk angkot bagi Orang Samarinda ) saya bimbang. Mau melanjutkan ke Pasar Segiri, tapi Kelas Inspirasi Samarinda sudah pasti tinggal penutuppan, sementara jika saya melanjutkan kesana, ke SD Anggur Samarinda badan jelas bau, muka mengkilap keringetten, rambut pendek terkesan gimbal, celana pendek, dan sendal jepit swallow hijau yang pernah naik pesawat terbang, bisa pusing guru-gurunya kalo ternyata muridnya terinspirasi oleh penampilan saya.
Jadi saya memutuskan untuk duduk sebentar, bimbang lagi tapi, antara duduk disamping dua orang gadis SMA atau seorang ibu yang tengah mengandung. Saya putuskan untuk duduk dekat sang Ibu, nggak lama saya langsung aja SKSD,

" Bu, kalo angkuttan ke simpang tiga Loa Janan naek yang mana ya Bu? "
" Hmmm, harus dua kali naek angkot Mas, Mas darisini naek angkot yang warna merah itu dulu, terus setelah nyebrang Jembatan Mahakam baru ganti yang warna hitam " 
" Ooh githu Bu, kalo begitu saya nyebrang dulu Bu, Terima Kasih "

Dogled Hanggadiputra, konco mbeling pas SMA ( teman akrab semasa SMA ). Dia telah sekitar 5 tahun membumi di Samarinda, sejak lulus SMA tepatnya, tahun 2009, bekerja di sebuah perusahaan Batu Bara. Ntah kapan terakhir kali kami bertemu, 3 tahun di SMAN 2 Magelang sekelas dengannya jelas telah banyak membukukan berbagai kenangan. Tatappan matanya masih seperti dulu, tenang.


Setelah saya kabari dia kalo sedang ada di Samarinda, berulang kali dia telepon saya, menanyakan posisi saya. Dia masih diproyek, bekerja, lalu dia putuskan untuk ijin menjemput saya.
" Aku neng Pom Bensin cedhak kantor Gubernur yo lik " ujarku
" Yowes, enteni kono yo, bariki tak budhal mrono." 

" Aku di Pom bensin dekat kantor Gubernurran " kataku
" Ya, tunggu disitu, setelah ini saya kesitu " 

Sebetulnya saya diminta menunggu di simpang tiga Loa Janan. Tapi karena dia mau jemput saya didepan Kantor Gubernur ya jadi saya ngak jadi naek taxi ke Simpang Tiga Loa Janan.
Benerran seperti orang kenthir siang itu, panas, berdebu, satu-satunya orang yang berjalan kaki didepan kantor Gubernurran, sambil mainnin sedottan Es Dawet, sudah pasti tampak seperti orang asing, mungkin saja akun twitter @infosamarinda ngetweet " Waspada, Mencurigakan, seorang lelaki yang berjalan sendirian memakai sendal jepit didepan kantor gubernur Kalimantan Timur, Diduga teroris " lalu ngetweet lagi " Jika ada yang melihat gerakan dia semakin mencurigakan, hantam lalu buang ke sungai Mahakam, biar tongkang yang mengurusnya " Lalu diretweet dan difavorite oleh Bapak @SBYudhoyono.

Rasanya nyaman, sejuk dan mengantukkan berjalan ditepian Mahakam, Depan Kantor Gubernur. Rasa itu muncul karena hubungan sepoi angin, rindang pohon, panas dan debu yang mengerikan di Kota Samarinda. Saya bersila disalah satu sudutnya, sambil memandang pemancing yang berulang kali kailnya tersangkut di kayu, saya kira tangkapan besar karena jorannya melengkung, eh ternyata strike kayu.
Air kamar mandi pom bensin membasuh tubuh saya siang itu, segar.
Kembali saya menikmati tepian Mahakam, lamunan saya membawa pikirran keunikkan Magelang Kota Sejuta Bunga dan Samarinda Kota Tepian, jika di Magelang nama gangnya adalah nama sungai-sungai besar di Kalimantan ( Mahakam, Barito, Kapuas ), di Samarinda namanya jalannya adalah nama-nama Gunung di Jawa ( Merapi, Cermai, Semeru ). Apakah legenda pesut Mahakam itu benar adanya? Apakah mereka masih hidup sungai ini? Perkembangan pembangunan kota di provinsi Kalimantan Timur pesat banar, paling pesat di antara Provinsi Kalimantan lainnya, hal itu tidak bisa di lepaskan dari Tambang Batubara, Tongkang dengan gagah membawa batu bara, dari satu sudut sungai ke sudut lainnya, kadang ada kapal kayu kecil melintas diantaranya dengan kekuattan dayung yang dikeluarkan empunya. Jembatan Mahakam pasti sibuk setiap harinya, semoga proyek jembattan kembar Mahakam segera dilanjutkan, kasian jika melihat macet ditengah Jembattan Mahakam, di atas sungai yang lebar dan dalam. Sementara jalanan yang berlubang masih menganga disebelah sana.

Tak lama setelah lamunan saya yang menganggap perjalanan kali ini adalah pemanasan menuju backpackerran menjelajah Asia Tenggara, yang ntah kapan akan terlaksana. Dogledpun sampai, siang itu langsung diajaknya saya menuju kostnya, setelah santap Nasi Padang ternyata perjalanan semakin panas dan berdebu, kukenakan jaket dan kain untuk menutup mulut, hidung. Menyusuri tepian Mahakam, tak enak kutanyakan kalimat kok ra tekan-tekan.

Loa Kulu, hampir sejam perjalanan dari Samarinda jaraknya, jauh ternyata. Saya merasa nggak enak rasa karena minta dijemput dengan jarak sejauh itu, mungkin bisa terasa lebih dekat jika hawa sejuk pegunungan yang merasuk bukan panas dan debu, apakah kegiatan tambang disini tidak bisa dikendalikan?
Terungkap keinginan Dogled untuk kembali ke Jawa jika sudah bisa mampu beli truk, ketika kutanyakan keinginannya membangun rumah disini atau di Jawa.

Malamnya saya diajak menikmati malam di Tenggarong, Kutai Kertanegara. Ternyata lebih dekat ke Tenggarong daripada ke Samarinda. Diceritakan dan ditunjukkannya tentang jembatan Tenggarong yang rubuh memakan banyak korban jiwa, tentang patung Lembuswana yang melegenda, patung berbelali gajah, besisik ikan, bersayap garuda, berkepala singa dan bermahkota, tentang stadion Aji Imbut dan Pulau Kumala. Tenggarong juga merupakan kota tepian Mahakam yang maju, besar dan ramai.
Kami berhenti dilapak PKL yang rapi diseberang Pulau Kumala, Pisang gapit dan jus menemani obrolan kami.



Pulau Kumala di malam hari
Setelah berpamittan dengan Paklik dan Bulik, mereka berdua yang menjadi orang tua Dogled ditanah rantau ini,

" Lho? meh nan ndi? muleh? Lha mung kesel neng ndalan berarti? " Tanya Bulik
" Nggeh Bu, mbenjang tak mriki malih " Jawab saya
" Oo ngono, yowes ngati-ati yo "
" Nggeh Bulik, maturnuwun nggeh "

kusalammi tangan keduanya, lalu melaju menuju Samarinda dengan Dogled dan motornya.

" Nyebrang lewat kapal wae yo Gon? " kata Dogled, Gogon adalah panggilan akrab saya waktu SMA
" Aku manut wae Gled " 

Ini salah satu fasilitas yang diberikan pemerintah untuk Masyarakat, mengingat jembatan Tenggarong yang masih putus. Penyebrangan menggunakan kapal Ferry ASDP, gratis, We Bridge The Nation menjadi kebanggaan ASDP.
Kapal memang menjadi sarana transportasi yang lumrah bagi masyarakat Kalimantan, sungainya besar-besar. Eh Tenggarong juga punya kereta gantung yang lintasannya bisa menyebrang sungai Mahakam, tapi ntah mengapa saat ini sudah tidak difungsikan.




Gelanggang Olah Raga Aji Imbut kami memasukki kompleknya, didalamnya ada beberapa fasilitas untuk berolahraga. Salah satunya Stadion Aji Imbut yang merupakan markas Mitra Kukar, nampak gagah walau ada didalam kemegahhan GOR Aji Imbut.
Selanjutnya kami melewati jalanan bagus yang tak berlubang, nampak seperti jalan tol, dan itu dibenarkan oleh Dogled, dulu memang ini jalan tol, tapi pos penarikkan retribusinya dilempari batu oleh warga, jadi sekarang jalan ini bebas tanpa biaya. *Bagaimana kalo kerusuhan ini pecah di Jakarta?
Akhirnya kami tiba di Mal Lembuswana Samarinda, Mal yang unik, karena tidak merupakan bangunan yang tinggi, megah tetapi terpisah-pisah tidak dalam satu atap tiap outletnya, kalo hujan pasti repot.


Stadion Aji Imbut
Waktu sudah nggak lama lagi, saya harus mengejar Bus di Terminal sebrang Samarinda. Walau sebenernya saya masih ada janji mau ketemu Bu Fajar, tapi sayang kita berdua belum beruntung untuk ketemu. Ketemu di Jogja saja ya Bu!
Kuabadikan beberapa moment didepan Kantor Gubernur Tepian Mahakam dan Islamic Centre Samarinda, saya tak sempat masuk Islamic Centre Samarinda, sadar diri karena mengenakan sandal jepit dan celana pendek, kurang sopan pikir saya, padahal arsitekturnya megah, merupakan Masjid terbesar dan termegah kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Senja pasti tenang dipandang darisini.


Dogeld Hanggadiputra

Islamic Centre Samarinda



Kunaikki Bus yang sama saat saya menuju kemari dari Banjarmasin, kutinggalkan Samarinda.
Terima kasih Mas Dogled Hanggadiputra, kita harus berkarya untuk Kota kita tercinta ditengah pulau Jawa sana.



No comments:

Post a Comment