Friday, June 13, 2014

Dieng, Bukit Sikunir, Tentang Tenang Tentang Sejuk



Telaga Warna, Kawah Sikidang, Candi Arjuna, Kentang, Buah Carica, Festival Rambut Gimbal. Mungkin itu beberapa hal yang spontan ada dipikirran kita jika ada teman yang menyebut kata Dieng. Ternyata akhir-akhir ini ada yang menyelip, bukan menyelip untuk membuat resah, melainkan menyelip untuk membuat Dieng semakin menarik. Namanya Bukit Sikunir.


            Kali pertama saya berkunjung ke Dieng, saya memilih untuk berangkat pagi hari dari Wonosobo dan pulang sore harinya kembali ke Wonosobo. Matahari bersinar cerah, jalanan aspal mulus tak banyak lubang. Semakin naik, jalan semakin berkelok nan elok, beberapa rumah penduduk dipisahkan oleh ladang kentang atau kebun carica, udara tetap dingin walau matahari makin meninggi, sedang sengkedan masih teduh berselimut kabut. Menempuh perjalanan sekitar satu setangah jam dengan roda dua bermotor terasa ringan dan menyenangkan.

Kali ini saya dan teman-teman akan mengunjungi  Bukit Sikunir di Desa Sembungan Kawasan Wisata Dieng. Kami berangkat dari Wonosobo, karena tujuan utama ke  Bukit Sikunir adalah menikmati pesona matahari terbit maka kami memilih untuk berangkat malam hari dan menginap sehari di salah satu penginappan di Dieng. Itu berarti saya tidak akan melihat pemandangan seperti saat kali pertama saya mengunjungi Dieng. Pemandangan malam itu digantikan oleh gemerlap bintang dan lampu kota Wonosobo yang terlihat dari kejauhhan. Harus hati-hati, karena kurangnya penerangan di jalanan yang berkelok-kelok, konsentrasi juga diperlukan untuk berkendara dijalanan pada kondisi seperti ini.

Malam di Dieng jauh dari kata gemerlap, lampu dijalanan utama dan dirumah penduduknya begitu sederhana menghiasi suasana. Terasa tenang dan damai, hanya sesekali suara tertawa terhambur keluar dari warung kopi, nyaris seperti tak ada kehiduppan malam. Setelah sampai di penginappan kami minum segelas teh hangat, lalu segera memejamkan mata, tidur.

Cobaan terberat kalau mau pergi lihat sunrise adalah bangun pagi, ditambah lagi hawanya dingin banget. Tapi karena sudah karena niat hawa dinginpun kami babat, segera kami bangun dan persiapan, setelahnya kami berkendara menuju Bukit Sikunir. Jalanan yang kami tempuh didominasi tanah berbatu dan perlu kami ingat juga bahwa kabut itu selalu ada. Sesudah memarkirkan kendaraan ditempat parkir yang disediakan, segera kami memulai perjalanan mendaki Bukit Sikunir. Ramai sekali jalur pendakian pagi itu, ternyata Bukit Sikunir telah benar-benar menjelma menjadi primadona baru di dataran tinggi Dieng. Sesampai dipuncak Bukit Sikunir, langit sudah mulai berubah warna, saat itu sekitar pukul 05.00 WIB. Ibarat nonton konser musik, jika kita datang terlambat, kita bakal kesulittan dapat spot karena penontonnya penuh. Itu yang kami alami pagi ini. Ratusan pasang mata menyaksikan salah satu sihir alam pagi itu, ratusan kamera juga mengabadikan moment pagi itu. Cakrawala perlahan berubah warna menjadi keemasaan, cahaya lampu di rumah penduduk, siluet gunung Sumbing dengan lauttan awan dikakinya menemani munculnya sang surya, cahayanya mulai merambatti kaki. Saya membiarkannya mengalir, membiarkan hati saya dipenuhi kekaguman dan ucapan syukur. Sensasi perasaan dan suasana yang diberikan oleh pesona matahari terbit di Bukit Sikunir pagi itu sungguh luar biasa, cuaca yang cerah, keceriaan para pengunjung, sejauh mata memandang semua terlihat bahagia.






Tak terasa matahari sudah meninggi, kami putuskan untuk menjelajah sisi lain yang dapat terlihat dari titik tertinggi  Bukit Sikunir ini, Ternyata banyak juga dari para pengunjung yang memilih untuk mendirikan tenda dipuncak  Bukit Sikunir. Disisi sebelah barat  terlihat tempat kami memarkirkan kendaraan, letaknya bersebelahhan dengan Telaga Cebongan. Di sisi lain terlihat bukit-bukit kecil yang siap menjadi latar belakang jika kita ingin berpose.

Jika tadi waktu naik kami butuh waktu sekitar 30 menit, perjalanan turun lebih cepat, kami butuh waktu sekitar 20 menit. Sepertinya memang pantas jika Sikunir menjadi tempat yang harus disinggahhi kalau mengunjungi Dieng. Karena untuk mencapainya tidak terlalu sulit, jalur pendakianpun sudah sangat jelas, jalur dibuat seperti tangga sehingga memudahkan kaki kita untuk menapak.

Kesejukkan udara, keramahhan penduduk, ketenangan suasana, dan keindahhan bentang alam pegunungan, Dieng punya itu semua. Dan Dieng itu ada di Indonesia.

Bapak-bapak mainan arang dibawah pohon carica
Team Wanita bikin sate sosis, asal bisa disunduki





2 comments:

  1. Buat saya sih, bangun pagi di Dieng nggak sulit. Kenapa? Karena saking dinginnya saya nggak bisa tidur! Kebangun-bangun terus. Serasa dikunci di dalam kulkas. Makanya, pernah pas kawan ngajakin lihat sunrise sehabis subuh, saya cuma bisa galau di dalam pondokan. Mau ke luar kok ya dingin banget, tapi kalau di dalam kok ya juga dingin. Duh! Saya bingung strategi macam apa yang harus saya pilih supaya bisa bertahan sampai puncak Sikunir dari pondokan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi... Selimut sudah tebalkan Mas?
      Bisa jadi pondokkan yang Mas pakai memang kulkas, hehe..
      Situasinya bingung ya Mas.. Luar dalam Dingin semua.. Jadinya tetap sampai puncak Sikunirkan mas?

      Btw.. Maturnuwun sampun mampir Mas..

      Delete