Sunday, July 13, 2014

Part From Borneo : Tentang Kuala Kapuas

Gedung Pertemuan Umum Manggatang Tarung
            Pian itu sebuttan untuk kamu, Ulun itu sebuttan untuk saya. Pengetahuan pertama yang saya dapat saat saya sampai pada bulan Februari 2014 di Kuala Kapuas Kalimantan Tengah. Pian dan Ulun adalah bagian dari bahasa Banjar.            

            Jarak menuju Kuala Kapuas ditempuh sekitar 3 jam dari Ibukota Provinsi Kalimantan tengah, Palangkaraya, tetapi hanya 1 jam dari Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin. WIB masih menjadi patokan waktu untuk Kuala Kapuas.    

            Huruf balok berwarna merah bertuliskan Kuala Kapuas Kota Air yang ada di Bundaran besar bisa menjadi landmark dan background untuk kita berfoto, bisa menjadi bukti bahwa kita benar sudah mengunjungi Kuala Kapuas. Sungai besar bernama sungai Kapuas mengeliling kota, kata orang asli Kuala Kapuas dahulu jika ingin ke Palangkaraya atau Banjarmasin harus menggunakan transportasi air, melintassi sungai-sungai yang lebar nan gagah, dengan biaya yang mahal dan waktu tempuh yang lama. Sekarang dengan telah tersedianya jembatan dan jalan aspal, akses darat dari Kuala Kapuas ke Palangkaraya dan Banjarmasin menjadi pilihan utama masyarakat. Hanya para pedagang dengan alasan bahwa kapal bisa memuat lebih banyak barang yang masih setia menggunakan transportasi air. Tetapi anehnya kondisi tidak seperti di Jawa. Di Jawa transportasi didominasi oleh bus-bus besar antar kota antar provinsi, disini peran bus-bus besar seperti di Jawa digantikan oleh minibus, saya tak tau pasti kenapa mobil-mobil minibus, yang menyebut dirinya travel tapi berplat hitam (tidak resmi), menguasai trayek Palangkaraya – Kuala Kapuas - Banjarmasin (PP). Kata orang Kuala Kapuas lagi, bahwa dulu Bus besar juga tersedia sebagai angkutan umum antar kota antar provinsi, sekarang kemana perginya bus-bus itu? Apakah ada birokrasi yang rumit untuk sarana transportasi? Atau adakah faktor sulitnya memperoleh Solar di Bumi Kalimantan? Padahal jelas jika menggunakan bus biaya yang dikeluarkan penumpang bisa lebih murah.


            Kota ini memang tak terlalu ramai, antrian di lampu merah masih lowong, tak ada kemacettan yang membuat klakson bernyanyi nyaring, angka polusi jelas jauh dibawah Jakarta, langit masih biru.  Jalanan disini beraspal tanpa belokkan dan tanpa tanjakkan yang menantang, tekstur dataran Borneo yang sebagian besar datar, tanpa gunung, tanpa bukit. Sungai lebar nan gagah, berair tenang tak berjeram, setiap jembattan harus didesain supaya kapal bisa lewat dibawahnya. Untuk sungai yang lebih lebar jembattan juga harus lebih kuat dan gagah, tetap harus didesain supaya kapal-kapal pengangkut batubara bisa lewat dibawahnya.


            Nyambut gawe nyambi dolan , kata orang jawa, yang artinya kerja sambil main. Kebetulan saya dapat mandat dari bos untuk tugas di Kuala Kapuas. Bersyukur, jika bukan karena tugas, saya sampai saat ini pasti belum bisa melihat uniknya Pulau Kalimantan. Di kalangan masyarakat Pulau Jawa biaya hidup di Kalimantan terkenal mahal terutama soal makan, kenyataannya memang ada selisih, ada yang cuma sedikit ada juga yang banyak banget dan itu kembali kepada kita lagi, makanan itu pilihan. Mungkin juga faktor pengembangan wilayah yang tidak sepesat di Jawa yang berefek pada tingginya biaya transportasi pendistribusian barang-barang kebutuhan sehari-hari.


            Lantas dengan keadaan yang seperti terurai diatas apakah Kuala Kapuas tidak menarik untuk dikunjungi? Tidak menarik dikunjungi jika yang kita cari pantai, tidak menarik jika yang kita cari macam Pandawa Waterboom. Tapi jika yang kita cari adalah sesuatu yang unik dan berbeda, Kuala Kapuas harus kita kunjungi.


            Sebagian tempat di Kuala Kapuas berupa rawa, rumah-rumah panggung berdiri kokoh diatas rawa bertopang kayu, berpondasi kayu. Orang Kalimantan menamainya kayu ulin, jenis kayu yang punya ketahanan luar biasa, kuat bukan main, anti rayap, tahan dalam air, keawettannya melebihhi umur manusia. Dengan kualitas seperti itu jelas jika harga kayu Ulin itu mahal, pengangkuttan harus dengan surat-surat yang jelas karena Polisi sering melakukan razia. Pertama kali saya tau kalo pondasi untuk rumah hanya sejumlah kayu yang ditancapkan saja, muncullah sebuah tanya, apa nggak rubuh ya kalo semisal ada gempa? Dan ternyata di tanah Kalimantan jarang terjadi gempa. Karena itu orang-orang di Kalimantan punya keberanian lebih untuk membangun rumah dengan pondasi kayu.

Sebuah Proyek Rumah di Kuala Kapuas
            Naik Ferry, kedua kata itu membuat bayang saya mengandaikan sebuah kapal besar yang berjalan tenang diatas biru air laut. Namun sebelum ekspektasi menjadi lebih tinggi, saya diberi tau kalau ferry di Kuala Kapuas itu dari kayu yang mampu menyebrangkan berapa puluh motor sekaligus, hanya motor. Tarifnya 2000 rupiah saja per motor untuk sekali penyebrangan. Transportasi umum ini sering digunakan untuk menyebrangi sungai Kapuas, karena letak Kuala Kapuas yang dikelilingi Sungai, kapal ini menghubungkan Kuala Kapuas dengan daerah lainnya, sebenarnya sudah tersedia juga jembattan penghubung, tapi karena jalurnya yang memutar dan waktu tempuh menjadi lebih lama maka orang-orang yang menggunakan motor lebih sering menggunakan jasa penyebrangan Ferry kayu. Untuk pengguna mobil harus tetap menggunakan jembattan. Memang terasa unik dan berbeda berada di pulau seribu sungai. Dimana mendayung sampan lebih menarik dibanding naik motor Harley. Dimana setiap malam sambil ditemani tenang, penthol bakar dan secangkir kopi kita bisa menikmati para pedagang pasar membongkar muat kapal kayunya disebuah dermaga kecil di pinggir sungai Kapuas, namanya Dermaga KP 3.


            Bicara soal pedagang tidak akan pernah lepas dari yang namanya Pasar, setiap daerah pasti punya pasar tradisional tapi belum tentu punya pasar swalayan. Pasar tradisional hampir sama disetiap daerahnya, saat saya melewatinya, ada kios, ada sebagian bahu jalan yang tetap dipaksa jadi lapak dagangan akibatnya macet karena sebagian orang tetap nangkring dimotor saat bertransaksi dengan pedagang yang memakai bahu jalan sebagai lapak tadi.

            Terkait pasar, Kuala Kapuas juga punya yang unik, namanya hari pasar, jadi ada salah satu hari dalam seminggu, tiap daerah bisa aja berbeda, hari itu digunakan untuk membuat semacam pasar dadakan, dan itu selalu ada, rutin setiap seminggunya, para pedagang entah darimana datangnya, kompak memenuhi jalanan disuatu daerah yang saat itu mengadakan hari pasar. Moment ini pasti ramai, walau tanpa bianglala atau tong setan layaknya di pasar malam. Yang tua benar ingin belanja, yang muda berjalan bergerombol, mirip mejeng di Mall. Hari Pasar adalah Mall buat mereka.

           

            Hari-hari di Kuala Kapuas telah memberi saya cerita lain tentang perjalanan, bahwa tidak hanya pantai berpasir putih halus dengan gradasi airnya yang cantik yang memberi kenangan yang mendalam dan patut diceritakan pada orang lain, tapi sungai Kapuas yang lebar, dalam, dengan airnya yang coklat tak bergradasi juga harus diceritakan sebagai pengalaman yang mengesankan dan merupakan bagian dari sebuah perjalanan. Perjalanan untuk mengenal lebih dalam negeri tercinta Indonesia, perjalanan melihat Indonesia dari sisi lainnya. Jika kelak saya mendengar ada seorang yang mengatakan Kuala Kapuas, hal yang terlintas pertama kali dikepala saya adalah senja. Ya senja. Senja selalu berwarna di Kuala Kapuas, selalu indah, kadang mendung dan hujanpun tak mampu menyembunyikan kecantikan warna senjanya. Kolaborasi langit senja dengan pelangi atau matahari yang terlihat utuh terbenam disisi barat dengan bulan bulat utuh disisi timur itu mendamaikan.  



Tugu dibundaran besar
Diteraspun bisa lempar Joran




Senja dari samping rumah
Senja di Kuala Kapuas

Dari jembattan Pulo Telo




13 comments:

  1. Kalimatan itu ternyata indah juga ya Mas Agung. belum kesempatan ke Kalimantan sekalipun...kapan ya ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul Mas.. Indah Mas.. punya keindahan dan keunikkan tersendiri dibanding pulau lainnya.. sudah kemana aja Mas? Sempatkan ke Kalimantan Mas Gunadi.. Mas posisi dimana?

      Delete
    2. Saya posisi di Bogor Kota Hujan..hehe. Saya ada banyak juga keliling nusantara, tapi ke Kalimantan sama sekali belum. belum ada rizkinya kali. mudah2an saja..segera..

      Delete
    3. Eeh Bogor.. Bogornya mana atuh?
      Aiih Mas.. ajak2 saya donk ya..hihihi..
      Segera berenang melintassi laut jawa Mas.. haha

      Delete
    4. walau aku gk pernah ke kalimantan..tp rasanya pngn kesana dan pemandangannya pasti indah2.. :)

      Delete
    5. wooo iya keren banget itu foto-fotonya :D >,<

      Delete
  2. Ayo jln2 ke kuala kapuas lagi. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuuuklaah.. Kangen sih ngemilin penthol bakarnya.. hahaha

      Delete
  3. Saya ada banyak juga keliling nusantara, tapi ke Kalimantan sama sekali belum. belum ada rizkinya kali. mudah2an saja..segera..

    ReplyDelete
  4. wah, nuansa dari jembattan Pulo Telo bagus banget yak.. :D

    ReplyDelete
  5. Senja di pulau Kapuasa yang indahhhh gilaaa... ^^

    ReplyDelete
  6. Keren bagus banget pengen jalan- jalan kesana

    ReplyDelete