Sunday, August 17, 2014

Rumah Nomor 10



Sebuah rumah panggung, dikelilingi pagar besi pendek, dengan dedaunan hijau rapi. Latar depannya berpaving mirip trotoar. Undakan keramik putihlah yang akan mengantar kita menuju pintu rumah.Diatasnya terhias ukiran kayu berupa bunga Raflessia, bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu, Bumi Raflessia.  Dibeberapa bagian ternit sudah terlihat lapuk, bahkan ada yang berlubang. Bertiang kayu, bertembok kayu dan beralas kayu. Serba kayu itu dicat dengan warna coklat, lantainya juga di cat coklat, tapi lebih mengkilap. Pintu dan jendela punya dua daun terbuka tanpa tralis, hanya kain putih disetengah jendela yang menjadi kordennya. Di samping kiri rumah tepampang plat plang putih bertuliskan Rumah Ibu Fatmawati Soekarno, Jl. Fatmawati No. 10 Bengkulu.
Di rumah yang kini telah menjadi cagar budaya inilah Ibu Negara  pertama Indonesia melewati masa kecilnya, mungkin di masa lampau beliau gemar membaca buku cerita di jendela atau bermain pasaran dengan teman-teman dihalaman rumahnya. Mungkin dirumah itu Ibu Fatmawati menemani Bung Karno yang mengajaknya bercerita, mereka kadang tersenyum malu saat menatap mata satu sama lain. Mungkin juga dari rumah itu Ibu Fatmawati bermimpi untuk melihat sebuah pertiwi yang indah dan damai, bangsa yang merdeka yang gemah ripah loh jinawi.

Buku batik berukuran folio tergeletak tertutup disebuah meja bundar dikelilingi empat buah kursi, ku buka perlahan, kutuliskan tanggal hari itu berikut nama, tempat asal juga kesan dan pesan. Buku ini entah ada untuk menjadi bukti riil kebanggan telah mengunjungi rumah ini atau menjadi bukti riil bahwa kami-kami ikut turut peduli pada situs yang menyimpan sejarah panjang tanah air ini. Hanya setengah bagian atas buku yang terlihat kumal, setengahnya lagi? Mulus.
Nampaknya ini adalah ruangan utama, potret besar Bung Karno dan Ibu Fatmawati dipisahkan lorong yang menuju kedalam rumah, disamping kedua potret itu disandarkan masing-masing satu patung manekin wanita. Buku-buku, juga beberapa dokumen asli masih asli dari jaman dulu terkunci aman didalam lemari kaca, saya terbang ke kisah nakal sewaktu SMA saat meminjam buku diperputakaan  yang tak saya kembalikan,  saat membawa keluar buku dari perpustakaan dengan cara disembunyikan kedalam baju. Saya gatal ingin duduk disebuah kursi goyang, ingin difoto diatas kursi yang terbias cahaya pagi. Satu detik, dua detik, aku berfikir, kuurungkan niatku, aku takut kalau kursi itu ternyata rapuh, itu benda bersejarah.

                Kubacakan sebuah syair, cukup satu bait saja, Gadis Desa,

                                Dengarlah bunyi suling
                                Anak-anak Pengembala
                                Lihatlah pula sungai
                                Mengalir dibawah tebing
                                Sepanjang Sawah
                                Daun daun bambu melambai
                                Daun daun bambu melambai
                                Gunung membiru
                                Alam desa yang permai

Syair yang dipigura tergantung disebelah kamar dibelakang potret Bung Karno. Di dalam rumah ini terasa begitu teduh, seperti ada magis yang menyihir. Saya tersadar, ternyata kami hanya berdua disitu pagi itu. Sepi. Jalan Fatmawati terletak di samping Jalan Soekarno, Sebelah barat simpang lima Kota Bengkulu.

                Dua kamar dirumah itu, satunya berisi mesin jahit, satunya terdapat almari, ranjang tidur berkorden putih dan sebuah meja rias. Semuanya terlihat model kuno. Mesin jahit tadi berwarna merah ditopang kotak kayu rapuh, disampingnya ada ingatan bertuliskan “Mesin Jahit yang pernah di pakai Ibu Fatmawati menjahit bendera merah putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.” Semuanya tertata rapi, terasa bersih. Bagian belakang rumah ada sebuah kamar mandi dan sebuah mushola. Di zamannya masih berpenghuni dulu rumah ini saya rasa diperhatikan dan dirawat oleh empunya, kekhassan bangunan jelas terasa, rumah panggung yang masih terlihat berdiri kokoh bersanding dengan rumah-rumah tembok disekitarnya. Perawattannya bagus, menarik mata dan bersih, saya senang dengan kepedulian pemerintah setempat untuk melestarikan dan menjaga situs sejarah.
Bahkan jika kita masuk ke Rumah Ibu Fatmawati kita juga tidak dipungut biaya.

                Beberapa hari yang lalu sempat saya tanyakan keberadaan rumah ibu Fatmawati ini, beberapa yang saya tanyai menggeleng. Apakah rumah ini dilupakan? Jika ditilik dari daftar di buku tamunya memang pengunjung terkesan minim, ah mungkin saja mereka tidak mencatatkan namanya. Ku salami mas penjaga, ku tinggalkan rumah Ibunda pertama Indonesia. Semoga tempat ini  selalu terjaga.



Mesin Jahit Merah 

Kursi Goyang Di Ruang Tamu

Landscape Ruang Tamu

Bapak dan Ibu Negara Pertama

Kamar Di Sebelah Kanan

6 comments:

  1. Sepintas wajah Bu Fatmawati itu mirip sama Bu Megawati ya? (#yaiyalah!)

    Tapi kayaknya rumah ini tetap bakal dirawat deh. Setidaknya selama partai banteng itu masih berkuasa. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yailaaah broo bener.. hahaa
      Bu Fatmawati kam Ibunya Bu Megawati.. haha

      Harapan siapapun yg berkuasa tetap terjaga.. Adeem Om ada didalemnya.. hihi

      Delete
  2. Moga2 rumah ini tetep jadi peninggalan sejarah yg abadi, ngak ikut carut marut negara ini :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaah ini cakep.. bener Om Cum.. semoga ttep pada berpikir cita2 luhur bangsa ini *uopoooh...

      Percayalah masih banyak orang yang peduli..

      Delete
  3. Kelihatannya kok rumah bersejarah ini bagian luarnya ngak terawat ya mas Agung ? plafon nya kayak mau copot..hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. hanya keliatannya kok Mas Gunadi.. ternit memang keliattan bolong dari luar.. tapi secara keseluruhan rumah awesome Mas..

      Delete