Friday, December 18, 2015

Traveller Kaskus, Sebuah Serendipiti

Bersama Mereka
                Benarkah bahwa dengan ‘berjalan’ kita akan belajar tentang banyak hal? Benarkan bahwa dengan berkunjung ke banyak tempat kita akan dapat pengalaman yang berbeda? Benarkan bahwa dengan bertemu orang-orang baru kita akan mendapat pandangan yang berbeda mengenai suatu hal? Mereka yang menjawab selalu saja berkata “Cobalah, alami sendiri, kamu akan mendapat semua jawaban hanya jika kamu memulai.”


                Malam itu, malam minggu sebelum kegiatan salah satu komunitas di kota Magelang dimulai. Aku bertemu dengannya. Hanya sekali jabat tangan yang erat, tanpa kecup pipi kanan, tanpa kecup pipi kiri. Tangannya begitu erat menjabat tanganku. Hampir saja aku kelewatan mencium tangannya. Aku mengira, dia sudah seumuran bapak teman sepantaranku. Kami lalu saling menyebutkan nama, selanjutnya aku bertanya “Mas asalnya darimana?” Jawabnya hanya satu kata, dengan suara yang kuat, jelas dan tegas. Setelah itu, diraihnya gelas, diteguknya wedang uwuh panas yang sudah tersaji. Wajahnya masih tetap dingin, berlawanan dengan suhu wedang uwuh yang dia teguk. Malam itu, pertama kali aku bertatap muka dengannya dan satu wejangan yang aku ingat adalah bahwa resiko itu akan selalu ada, tapi jika kita terlalu memikirkan resiko tentang apapun yang selanjutnya akan terjadi, kita tidak akan belajar apapun.

Saturday, July 04, 2015

Pagi Yang Indah Tak Pernah Jauh Dari Magelang

Suatu Pagi Di Sudut Magelang

                Keramahan, satu kata yang dapat disimpulkan dari ratusan kalimat yang terlontar dari kesan orang-orang yang pernah singgah ke wilayah Jawa Tengah. Salah satunya Magelang. Senyum hangat para penduduk, dibarengi dengan gerakan kepala yang sedikit menunduk adalah salah satu bukti bahwa selalu ada tangan yang terbuka menerima setiap orang yang mereka temui. Dengan senyum itu pula, sesekali mereka juga akan menanyai kemana kita akan pergi. Atau mempersilakan mampir minum teh sebentar dirumah mereka. Perkara bertanya alamat, tak jarang yang akan mengantarkan sampai tujuan, tidak hanya sekedar menunjukkan arahnya.

                Pagi di Magelang ternyata tak mau kalah ramah dengan para penduduk. Dianugerahi bentang alam yang memiliki gunung-gunung tinggi, tentu ada banyak tempat yang dapat digunakan untuk menyapa pagi di wilayah Magelang dan sekitarnya. Bukit Cemuris atau Bukit Purwosari, Punthuk Setumbu dan Posong adalah tiga diantaranya.

Tuesday, June 30, 2015

Pantai Santolo, Sayangnya, Senja Hanya Sebentar Saja

Senja Di Pantai Santolo
                Keren, gagah, berperut kubus. Sebuah ekspektasi yang saya taruh tinggi demi persiapan mental jasmani rohani saat untuk pertama kalinya akan bertemu Sandy. Bukan hanya itu, jika saja ada wanita yang melihatnya lengkap dengan seragam dinas, wanita akan rela dipenjara demi bisa dijaga olehnya. Namun, semua ekpektasi yang sudah saya bangun buyar, seperti membangun menara dengan puluhan lembar kartu remi yang berhasil disusun rapi, tetiba angin pantat teman menghancurkan pondasi. Runtuh sudah. Kesan serius yang dihasilkan kombinasi semua ekpektasi tadi tak lagi berlaku. Setelah bertemu wujud asli Sandy, saya berhenti berekspektasi.

Saturday, June 20, 2015

Danau Maninjau, Semoga Pagi Selalu Mau Berbagi

Maninjau dan Sihir Bernama Pagi
                Sepiring nasi dengan lauk iwak kali, juga segelas teh manis hangat sedikit mengurangi mual perut. Empat puluh empat kelokan sukses dengan mulus dilewati bus tiga perempat yang saya tumpangi. Sekarang, gerimis yang tadi turun sudah tiada, masih tersisa gulung-gulungan awan kelabu serta angin kencang yang menggoyang baliho-baliho. Peluh telah sepenuhnya membasahi punggung yang sedari tadi memanggul ransel yang kian berat. Kaki dan jemari yang berbalut plester terus menjelajah jalanan demi mencari sebuah penginapan. Hanya seorang diri, sementara orang-orang disekitar berbicara dengan bahasa mereka, yang tak saya mengerti. Tubuh ini lelah, ingin segera merebah.

Wednesday, June 17, 2015

Pulau Kemaro, Keteduhan Tengah Sungai

Gerbang Depan Kelenteng
          Saya, Alif dan Febri masih duduk bersandar pada kursi masing-masing didalam salah satu restoran cepat saji tak jauh dari jembatan bercat merah yang menjadi ikon Bumi Sriwijaya, Jembatan Ampera. Minuman soda belum berkurang setengahnya, saya masih sibuk dengan telepon genggam yang terus melakukan panggilan keluar namun belum juga mendapat jawaban. Pesan singkatpun tak berbalas. Apa ini pertanda pacar saya sedang bersama pacarnya yang lain? Kalaupun kami mengirim pesan menggunakan aplikasi WhatsApp, mungkin saja pesan yang saya kirim sudah bertanda centang dua disampingnya, tapi warna tak kunjung berwarna biru padahal status profil sedang online. Sebegini miriskah nasib pacaran jarak jauh?

Friday, June 12, 2015

Pengumuman Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 61 (Edisi ke-2)



          Ehmm.. Saya kembali merasa bersalah karena, iya karena saya Turnamen Perjalanan ini harus mulur, harus tertunda beberapa waktu, sekali lagi iya, karena saya, semua salah saya. Saya mau kok dibuang atau diasingkan ke Raja Ampat, sumpah, serisu, gak bohong, saya ikhlas.


          Dan, berhubung Mas Bahtiar sebagai pemenang yang saya pilih mengaku tidak bisa melanjutkan Turnamen untuk waktu dekat ini, dikarenakan beliau akan menjalani beberapa minggu tanpa adanya koneksi internet dan semua itu sudah dunyatakan dalam bentuk surat pernyataan yang secara sadar dia buat dan tanda tangani diatas materai tiga ribu dua lembar (stok materai enam ribu sedang habis) serta surat pernyataan itu juga telah disetujui oleh Bapak Menteri pariwisata. Maka dengan tempo yang sesingkat-singkatnya saya harus meilih pemenang yang lain. Demi terciptanya demokrasi pariwisata yang tetap terbuka, jujur dan adil.

Tuesday, June 09, 2015

Pengumuman Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 61

        

          GILAAAK!! Lebih dari tiga puluh hari berlalu tanpa satu post barupun. Hanya maaf dan maaf yang mampu saya haturkan. Pengumuman Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 61 pun harus tertunda. Sekali lagi maaf. Sekarang untuk yang sudah setia menungguku, akan saya umumkan Pemenang #TFP61 sekarang juga.

          Dari banyak foto yang masuk, seperti biasanya, saya sebagai juri otodidak pasti kebingungan memilih siapa yang berhak untuk memperpanjang tali silaturahmi Turnamen Foto Perjalanan ini. Tapi bagaimanapun tali silaturahmi harus tetap direntangkan dan dipanjangkan. Maka.....

Thursday, May 14, 2015

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 61

#TFP61

Matur Nuwun buat Mas Yudi Randa dari ujung barat Indonesia yang sudah memilih saya sebagai pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 60. Tenang Mas Yudi, kalau hadiah sebagai pemenang sudah sampai ditangan nanti Mas Yudi saya traktir es lilin dan permen gula asam, sebiji aja, cukupkan? 

Hahaha, canda ya mas.

Selanjutnya saya mohon maaf karena sebagai penyelenggara Turnamen Foto Perjalanan berikutnya tidak bisa tepat waktu meyelenggarakannya. Ceritanya beberapa hari ini saya lagi kena sakit bocah, yang kata dokter pribadi harus beristirahat yang cukup. Sekali lagi mohon maaf karena Turnamen ini harus tertunda beberapa hari. Dimaafkan ya sodara-sodara?

Oke, langsung kita mulai Turnamen Foto Perjalanan Ronde 61 ini, temanya adalah

Thursday, April 30, 2015

Bukit Cemuris, Bukit Purwosari

Bukit Cemuris, Bukit Purwosari

         Bintang-bintang kecil bertabur diatas langit Candi Mendut yang disoroti lampu dari dua penjuru, hanya satu kali mataku mampu menangkap bintang jatuh kala itu, garis jatuhnya tak mampu diabadikan walau hanya satu kedipan mata. Hawanya segar betul, jika bukan karena masih gelap, sawah-sawah hijau berbulir embun pasti sudah menyejukan sejauh mata memandang. Mengendarai sepeda motor pinjaman, tadi jam setengah empat pagi, Ucup dan saya memulai perjalanan menuju Punthuk Setumbu dari Yogyakarta.

Sunday, April 19, 2015

Gunung Merapi, Memang Tak Pernah Ingkar Janji

Sunrise dari Pasar bubrah
Malam telah menyelesaikan sepertiga tugasnya, sementara kepala kami berenam makin terkantuk-kantuk menahan berat kelopak atas mata. Ingin sejenak saja menggelar matras lalu merebah membiarkan lelap menguasai tubuh, hanya sebentar saja. Punggung bersandar pada dinding yang dingin, pantat menempel pada lantai yang dingin, semuanya serba dingin. Langit bergemuruh, sesekali memunculkan kilatan putih, ini sudah bukan lagi gerimis, dua kali langit menangis deras hari ini.

Sunday, April 05, 2015

Ingin Gemuk dan Bahagia? Cukup Di Kota Magelang Sehari Saja

Senja Di Kota Magelang

Sebelum merubah slogannya menjadi Kota Sejuta Bunga, Kota Magelang dulu memiliki slogan Magelang Kota Harapan yang merupakan singkatan dari hidup, aman, rapi, asri dan nyaman. Terletak ditengah-tengah pulau Jawa, dianugrahi wilayah yang sejuk karena letaknya dikelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi. Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Menoreh dan Sumbing terlihat gagah memagari Kota Magelang. Selain itu, Gunung Tidar yang menurut legenda merupakan paku bumi pulau Jawa terletak tepat ditengah kota, Gunung Tidar memberikan pengaruh yang besar kepada kesejukan dan kesan dingin Kota Magelang.

Tuesday, March 31, 2015

Papan Kayu Kalibiru

Saya di atas papan kayu Kalibiru
foto by @sofianPT

Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Lantunan merdu lagu Kla Project nyaring keluar dari speaker telepon genggamku. Hati bergetar, rasa ingin pulang yang membuncah.
Daerah Istimewa Yogyakarta, hati saya tak pernah lepas dari tempat ini. Kenangan, teman, impian, dan kata pulang, menari gemulai setiap harinya, seperti menarik jiwa raga untuk ikut turut serta manggung dipertunjukan tari.

Sambil kuhirup secangkir kopi, duduklah kamu didepanku, akan ku ceritakan secuil kisahku saat kemarin aku sempat pulang beberapa hari.

Sunday, March 22, 2015

Gunung Dempo, Selamat Ulang Tahun Mama!


Hai Gunung Merapi Dempo
Pertengahan tahun 2014 saya tiba di kabupaten Manna Bengkulu Selatan. Salah satu wilayah milik teritori Provinsi Bengkulu yang sebagian wilayahnya merupakan daerah pesisir. Pantai-pantai berombak besar berderetan mencoba meluluhkan keangkuhan karang. Sekitar dua jam dari Manna adalah kota Pagar Alam, kota nan sejuk yang dianugerahi Gunung Dempo, kebun teh dan air terjun. Perjalanan dua jam menuju kota Pagar Alam provinsi Sumatra Selatan dari Manna akan membawa kita kepada pengalaman akan kewaspadaan dan kekaguman. Kewaspadaan akan jalanan yang sepi, berlubang, berliku, naik-turun seperti jalanan khas perbukitan. Kekaguman akan tebing-tebing megah dikanan kiri jalan, air terjun tepat ditepi jalan serta sungai disepanjang perjalanan yang bergemericik jernih mengikuti alurnya, mengalir selaras hijau pepohonan. Jembatan-jembatan kecil yang dibentangkan bambu bersimpul tali akan sering juga kita jumpai, mirip seperti perjuangan anak-anak berseragam yang harus merambat jembatan untuk menggapai sekolahnya. Nuansanya menyihir.

Sore itu seharusnya jingga namun kabut muncul bebarengan dengan senja. Asap mengepul dari bakaran sate, kami berbincang lirih tentang Gunung Dempo dan Pagar Alam. Tentang Kantor pemerintahan Kota Pagar Alam yang sudah tidak berada dipusat kota lagi, melainkan disamping kebun-kebun teh yang menghampar ini. Dulu disini ada paralayang tapi entah kenapa yang tersisa sekarang hanya tempat tinggal landasnya saja. Sementara Villa-Villa berbahan kayu masih nampak rapi dan terawat, dibangun dengan model rumah panggung. Beratap hijau berdinding krem. Dari balkon sebelah belakang, warna segar kebun teh sanggup mencuci mata, jika nanti pagi tiba kabut ini akan meletakkan embun-embun pada tiap helai daunnya. Segar.

Saya melayangkan harapan pada kabut bulan Juli ini, bersamaan dengan mulai terlihatnya puncak Gunung Dempo sambil memegang jemari tangan yang kaku kedinginan, saya ingin mendaki Gunung Dempo. Tentu saja teman yang harus pertama ku cari, menjadi Soloist? saya tahu saya masih jauh dari mampu.

Saturday, March 14, 2015

Gunung Kerinci, Demi Puncak Gunung Api Tertinggi

Pemandangan Puncak Kerinci
Saat ini saya sedang jatuh cinta bukan dengan orang tapi mungkin dengan hembusan angin pagi ditanah tinggi disalah satu pulau milik ibu pertiwi. Rinjani, Rinjani dan Rinjani. Tak satupun pagi tanpa ku khayalkan sujud dipuncakmu. Kadang juga terucap didoaku jika aku ingin mengunjungi dan mendaki Gunung Rinjani. Cukup gunung api kedua tertinggi di negeri ini, bukan gunung api tertinggi di negeri ini. Tak ada keinginan untuk mendaki Gunung Kerinci.

Kata orang bijak "Tuhan menggenggam semua doa. Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat." Dan kata saya, "Terkadang Tuhan mengabulkan lebih dari apa yang tidak kita doakan."



Thursday, January 29, 2015

Gunung Prau, Setapak Yang Sederhana


Kereta Api Fajar Utama Jogja melaju diantara hijau persawahan bumi Cirebon, cuaca siang yang cerah, sejauh mata memandang paduan dataran hijau dan langit yang biru berkolaborasi apik hingga ujung cakrawala. Petak-petak sawah tersusun rapi, padi masih hijau, belum menguning. Ku sandarkan kepala pada sandaran kursi kereta kelas bisnis ini. Seorang ibu membiarkan anaknya menempelkan wajahnya pada jendela kereta. Beberapa orang yang lain memandang keluar tanpa berkata. Dalam gerbong yang hanya di meriahkan oleh suara gesekan roda dengan rel sepertinya kami mempunyai perasaan yang sama, kekaguman yang sama, penilaian yang sama tentang indahnya alam yang sedang kami lewati, mungkin saja beberapa diantara kami sudah menanti-nanti saat kereta melewati teritori bumi Cirebon ini. Di ujung cakrawala sebelah kanan, gunung Ciremai mengingatkan kepada lukisan wajib anak-anak yang selalu melukiskan dua buah gunung juga persawahan di selembar kertas putih ukuran a4. Gunung Ciremai biarlah kesejukan selalu ada saat kami memandangmu.