Thursday, January 29, 2015

Gunung Prau, Setapak Yang Sederhana


Kereta Api Fajar Utama Jogja melaju diantara hijau persawahan bumi Cirebon, cuaca siang yang cerah, sejauh mata memandang paduan dataran hijau dan langit yang biru berkolaborasi apik hingga ujung cakrawala. Petak-petak sawah tersusun rapi, padi masih hijau, belum menguning. Ku sandarkan kepala pada sandaran kursi kereta kelas bisnis ini. Seorang ibu membiarkan anaknya menempelkan wajahnya pada jendela kereta. Beberapa orang yang lain memandang keluar tanpa berkata. Dalam gerbong yang hanya di meriahkan oleh suara gesekan roda dengan rel sepertinya kami mempunyai perasaan yang sama, kekaguman yang sama, penilaian yang sama tentang indahnya alam yang sedang kami lewati, mungkin saja beberapa diantara kami sudah menanti-nanti saat kereta melewati teritori bumi Cirebon ini. Di ujung cakrawala sebelah kanan, gunung Ciremai mengingatkan kepada lukisan wajib anak-anak yang selalu melukiskan dua buah gunung juga persawahan di selembar kertas putih ukuran a4. Gunung Ciremai biarlah kesejukan selalu ada saat kami memandangmu.
Sekitar pukul tiga sore nanti kereta ini akan tiba di pemberhentian terakhirnya, Stasiun Tugu Yogyakarta. Perjalanan delapan jam dari Stasiun Pasar Senen Jakarta yang akan membawa saya kembali merasakan hangatnya selimut di Kota Magelang yang berkabut. Tak ada yang lebih indah dan lebih dirindukan bagi seorang perantau selain kata “Pulang”. Pulang yang mempunyai banyak arti. Sebagian makna pulang berarti bertemu keluarga, bertemu banyak kawan lama dan menyadari lagi proses kehidupan yang pernah terlewatkan. Bersandar pada kursi tua di depan televisi, berbaring pada ranjang tua yang mengenalkan pada malam, tidur dan mimpi. Melakukan apa yang selalu di bayangkan tiap malam di tanah perantauan.

Sesuatu yang tak terencana jauh hari terkadang malah terlaksana. Tadi di kereta, setelah gunung Ciremai tak lagi kelihatan saya menghubungi Tommy. Tanpa butuh banyak pertimbangan kami setuju untuk mengunjungi gunung Prau. Perlengkapan yang kurang hanya tenda, beruntung Tommy ada di Yogyakarta, beberapa peralatan outdoor dapat kami peroleh dengan cara sewa.

Pada mulanya janjian untuk berangkat pagi, pada akhirnya jam lima sore kami bertiga, ditambah Fika, baru mulai perjalanan dari Magelang. Jam sembilan malam kami tiba di basecamp gunung Prau di desa Patak Banteng, Dieng. Para pendaki bersandar pada tembok didalam bangunan dibelakang kantor Camat, diluar cuaca gerimis romantis. Radio tua diatas meja penjaga basecamp mengeluarkan alunan lagu-lagu band Indonesia. Sementara para pendaki lain mulai berpamitan untuk memulai pendakian mendahului kami, Tommy memasak air, gelas dan sendok sudah siap bersama bubuk instan siap seduh. “Ngopi dulu luuuuur.”

Bau aspal yang tertimpa air sudah sedari tadi menguap. Tanah basah, gerimis sudah reda, kabut tipis bergerak perlahan, tanpa angin kencang. Jam sebelas malam kami memulai pendakian berbekal peta dari Mas penjaga basecamp. Katanya sekitar dua jam perjalanan kami akan mencapai puncak. Seperti biasa kami bagai orang yang terlalu santai karena kurang kerjaan, saat kamar-kamar mulai memadamkan lampunya, pemiliknya pulas terpejam dalam selimut kain tebal kami berjalan dalam diam menikmati malan. Tanpa gemerlap gemintang, tanpa mewah terang lampu perkotaan, warna lampu yang kuning keemasan nampak seperti lilin-lilin kecil yang menerangi setiap sudut gelap desa di pegunungan Dieng ini. Hingar bingar yang jauh dari Dieng mungkin hanya terjadi satu tahun sekali, saat festival cukur anak rambut gimbal. Arti lain dari lilin-lilin kecil itu adalah tentang kesederhanaan, kenyamanan dan keramahan. Cahaya senter menuntun kami melewati selangkah demi selangkah  tanjakan tanpa turunan hampir tanpa jalan datar. Perjalanan menuju puncak Gunung Prau memang singkat hanya sekitar dua jam, tapi langkah kaki tak bisa santai tanjakan tanjakan dan tanjakan menghajar otot kaki dan memeluhkan energi energi.

Saya dan Fika duduk merebah disamping tugu semen kecil yang menandai berakhirnya perjalanan dua jam kami. Menyebar pandang memandangi siluet gagah gunung-gunung didepan juga tenda-tenda pendaki yang tersebar berwarna-warni terkena bias senter berlampu putih.  Tommy menjelajah mencari tanah datar untuk kami mendirikan tenda. Angin perlahan mengeringkan pelu, mengubahnya menjadi dingin yang menusuk. Tenda selesai didirikan, air selesai dipanaskan untuk menyeduh kopi, tidak ada masakan malam ini, hanya sekedar cemilan, mengingat kami sudah makan dialun-alun Wonosobo. Tenda kami tutup, diluar meninggalkan langit yang masih hitam tanpa bulan, tanpa bintang. Dua sachet kopi dituangkan menjadi segelas kopi untuk bertiga memberikan kehangatan lebih didalam tenda menciptakan sedikit obrolan dan gurauan. Sleeping bag telah sempurna membungkus kami, lengkap dengan sarung tangan, celana panjang, jaket dan kaos kaki. Jam ditangan memberi isyarat bahwa pagi akan segera tiba. Kami akhiri malam dengan memejamkan mata.

Langit-langit tenda mulai terang, pertanda langit diluar mulai berubah warna, pertanda semesta bersiap menyambut datangnya mentari pagi. Di gunung kadang indah dan sengsara muncul secara bersama, ingin hati melihat sunrise yang indah tapi dingin semakin dingin, semakin menusuk. Teriakan kekaguman mulai terdengar, kami bertiga tak mau kalah, segera kami keluar dari tenda. Begitu melihat suasana diluar tenda, ada rasa rindu yang terobati, ada senyum bahagia yang kembali, ada diam untuk mengagumi. Semesta memang tempat untuk belajar memahami, cobalah berdiam diri sambil memandangi proses datangnya mentari pagi, ada banyak keajaiban yang akan menemani. Dihadapan megahnya pemandangan langit pagi kali ini, saya dikembalikan pada kesadaran bahwa saya hanyalah makhluk kecil yang sebenarnya jauh dari kata berarti.

Dari puncak sini Gunung Sindoro dan Sumbing tak bisa menyembunyikan kegagahannya. Gunung Merbabu, Merapi, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Lawu nampak hitam manis dikejauhan. Gunung  Slamet juga nampak jika dilihat dari sisi lainnya. Lekuk liuk rerumputan yang kekuningan menjadi permadani bagi bukit-bukit dan sabana, beberapa pendaki mengabadikannya dalam sebuah gambar. Saya masuk dalam pikiran tentang orang-orang ditempat lain yang sedang menangis, bersedih atau sedang memaki-maki, terasa berbeda dengan apa yang sedang saya alami ditempat ini. Keceriaan, kebahagiaan dan kadamaian sangat dekat dengan kami, semuanya terasa bersahabat. Apa orang-orang seperti kita ini bisa membagi kegembiraan dan suasana ini kepada mereka? Tapi apa orang-orang seperti kita ini bisa terus menjaga keadaaan seperti ini?



Menapaki rerumputan hijau dibawah payung langit yang biru di Gunung Prau adalah cerita yang sederhana sama halnya dengan cerita hidup ini, biarkan mengalir sederhana mengikuti intuisi hati untuk menjadi bahagia. 




2 comments:

  1. Keren euy. Kemarin aku nggak dapet apa-apa di Prau. Cuma ada kabut tebal dan gelap :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe.. Pas aja Mas Yasir semesta mendukung..
      Ayuuklah kita ke Prau lagi..

      Delete