Tuesday, March 31, 2015

Papan Kayu Kalibiru

Saya di atas papan kayu Kalibiru
foto by @sofianPT

Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Lantunan merdu lagu Kla Project nyaring keluar dari speaker telepon genggamku. Hati bergetar, rasa ingin pulang yang membuncah.
Daerah Istimewa Yogyakarta, hati saya tak pernah lepas dari tempat ini. Kenangan, teman, impian, dan kata pulang, menari gemulai setiap harinya, seperti menarik jiwa raga untuk ikut turut serta manggung dipertunjukan tari.

Sambil kuhirup secangkir kopi, duduklah kamu didepanku, akan ku ceritakan secuil kisahku saat kemarin aku sempat pulang beberapa hari.

Sunday, March 22, 2015

Gunung Dempo, Selamat Ulang Tahun Mama!


Hai Gunung Merapi Dempo
Pertengahan tahun 2014 saya tiba di kabupaten Manna Bengkulu Selatan. Salah satu wilayah milik teritori Provinsi Bengkulu yang sebagian wilayahnya merupakan daerah pesisir. Pantai-pantai berombak besar berderetan mencoba meluluhkan keangkuhan karang. Sekitar dua jam dari Manna adalah kota Pagar Alam, kota nan sejuk yang dianugerahi Gunung Dempo, kebun teh dan air terjun. Perjalanan dua jam menuju kota Pagar Alam provinsi Sumatra Selatan dari Manna akan membawa kita kepada pengalaman akan kewaspadaan dan kekaguman. Kewaspadaan akan jalanan yang sepi, berlubang, berliku, naik-turun seperti jalanan khas perbukitan. Kekaguman akan tebing-tebing megah dikanan kiri jalan, air terjun tepat ditepi jalan serta sungai disepanjang perjalanan yang bergemericik jernih mengikuti alurnya, mengalir selaras hijau pepohonan. Jembatan-jembatan kecil yang dibentangkan bambu bersimpul tali akan sering juga kita jumpai, mirip seperti perjuangan anak-anak berseragam yang harus merambat jembatan untuk menggapai sekolahnya. Nuansanya menyihir.

Sore itu seharusnya jingga namun kabut muncul bebarengan dengan senja. Asap mengepul dari bakaran sate, kami berbincang lirih tentang Gunung Dempo dan Pagar Alam. Tentang Kantor pemerintahan Kota Pagar Alam yang sudah tidak berada dipusat kota lagi, melainkan disamping kebun-kebun teh yang menghampar ini. Dulu disini ada paralayang tapi entah kenapa yang tersisa sekarang hanya tempat tinggal landasnya saja. Sementara Villa-Villa berbahan kayu masih nampak rapi dan terawat, dibangun dengan model rumah panggung. Beratap hijau berdinding krem. Dari balkon sebelah belakang, warna segar kebun teh sanggup mencuci mata, jika nanti pagi tiba kabut ini akan meletakkan embun-embun pada tiap helai daunnya. Segar.

Saya melayangkan harapan pada kabut bulan Juli ini, bersamaan dengan mulai terlihatnya puncak Gunung Dempo sambil memegang jemari tangan yang kaku kedinginan, saya ingin mendaki Gunung Dempo. Tentu saja teman yang harus pertama ku cari, menjadi Soloist? saya tahu saya masih jauh dari mampu.

Saturday, March 14, 2015

Gunung Kerinci, Demi Puncak Gunung Api Tertinggi

Pemandangan Puncak Kerinci
Saat ini saya sedang jatuh cinta bukan dengan orang tapi mungkin dengan hembusan angin pagi ditanah tinggi disalah satu pulau milik ibu pertiwi. Rinjani, Rinjani dan Rinjani. Tak satupun pagi tanpa ku khayalkan sujud dipuncakmu. Kadang juga terucap didoaku jika aku ingin mengunjungi dan mendaki Gunung Rinjani. Cukup gunung api kedua tertinggi di negeri ini, bukan gunung api tertinggi di negeri ini. Tak ada keinginan untuk mendaki Gunung Kerinci.

Kata orang bijak "Tuhan menggenggam semua doa. Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat." Dan kata saya, "Terkadang Tuhan mengabulkan lebih dari apa yang tidak kita doakan."