Sunday, March 22, 2015

Gunung Dempo, Selamat Ulang Tahun Mama!


Hai Gunung Merapi Dempo
Pertengahan tahun 2014 saya tiba di kabupaten Manna Bengkulu Selatan. Salah satu wilayah milik teritori Provinsi Bengkulu yang sebagian wilayahnya merupakan daerah pesisir. Pantai-pantai berombak besar berderetan mencoba meluluhkan keangkuhan karang. Sekitar dua jam dari Manna adalah kota Pagar Alam, kota nan sejuk yang dianugerahi Gunung Dempo, kebun teh dan air terjun. Perjalanan dua jam menuju kota Pagar Alam provinsi Sumatra Selatan dari Manna akan membawa kita kepada pengalaman akan kewaspadaan dan kekaguman. Kewaspadaan akan jalanan yang sepi, berlubang, berliku, naik-turun seperti jalanan khas perbukitan. Kekaguman akan tebing-tebing megah dikanan kiri jalan, air terjun tepat ditepi jalan serta sungai disepanjang perjalanan yang bergemericik jernih mengikuti alurnya, mengalir selaras hijau pepohonan. Jembatan-jembatan kecil yang dibentangkan bambu bersimpul tali akan sering juga kita jumpai, mirip seperti perjuangan anak-anak berseragam yang harus merambat jembatan untuk menggapai sekolahnya. Nuansanya menyihir.

Sore itu seharusnya jingga namun kabut muncul bebarengan dengan senja. Asap mengepul dari bakaran sate, kami berbincang lirih tentang Gunung Dempo dan Pagar Alam. Tentang Kantor pemerintahan Kota Pagar Alam yang sudah tidak berada dipusat kota lagi, melainkan disamping kebun-kebun teh yang menghampar ini. Dulu disini ada paralayang tapi entah kenapa yang tersisa sekarang hanya tempat tinggal landasnya saja. Sementara Villa-Villa berbahan kayu masih nampak rapi dan terawat, dibangun dengan model rumah panggung. Beratap hijau berdinding krem. Dari balkon sebelah belakang, warna segar kebun teh sanggup mencuci mata, jika nanti pagi tiba kabut ini akan meletakkan embun-embun pada tiap helai daunnya. Segar.

Saya melayangkan harapan pada kabut bulan Juli ini, bersamaan dengan mulai terlihatnya puncak Gunung Dempo sambil memegang jemari tangan yang kaku kedinginan, saya ingin mendaki Gunung Dempo. Tentu saja teman yang harus pertama ku cari, menjadi Soloist? saya tahu saya masih jauh dari mampu.
 ***


Ting ting ting, kuhentakkan sedok dibibir gelas usai kugunakan mengaduk gula supaya berbaur larut kedalam teh panas celup, warna tehnya kecoklatan. Kusruput sedikit, ah wanginya harum namun rasanya terlalu kental. Tangan kiriku sambil menggengam Handphone yang sedang menampilkan lini masa Twitter, sebuah akun mere-tweet ajakan untuk mendaki gunung Dempo, saya langsung sambar tanpa pikir panjang. Mas @Rocky_Cristian7 mempersilakan jika ada yang butuh teman untuk mendaki Gunung Dempo, dia siap menemani. 

Mas Rocky baru saja menamatkan SMA, tanpa dijelaskan, sudah jelas dia lebih muda daripada saya. Sejak kecil dia tumbuh dan besar di Kota Pagar Alam yang sejuk dan entah sudah berapa kali dia naik turun gunung berketinggian 3159 Mdpl ini. Tubuhnya mungil dan dia menyanggupi dan mau menemani saya, orang yang dikenalnya hanya lewat linimasa, mendaki Gunung Dempo. Berdua saja.

Bulan itu pertengahan Oktober 2014. Hujan yang datang kadang berangin kadang juga hanya gerimis. Alam sudah tak terprediksi hujan pergi tanpa pamit, terik lewat tanpa permisi. Di awal November kami sepakat akan mendaki, Apakah badai yang mengiringi atau cerah yang menemani? Semoga saja semesta merestui.

"Naiknya lewat kampung empat kan Mas?" Tanya saya

"Lewat Rimau saja Mas kita besok naiknya, saya lebih sering lewat Rimau. Kalau lewat Rimau lamanya sekitar enam jam perjanan. Kalau lewat kampung empat sekitar delapan jam mas."

Dari atas sini, dari Tugu Rimau. Jalanan aspal mulus meliuk bercabang, naik turun diantara luasnya kebun teh. Kelokan-kelokan tajam sambil menanjak turut melengkapi. Petani teh sedang memetik pucukan pohon teh untuk panen. Kota Pagar Alam sedang berembun.

Surya masih condong ke timur, sekitar tiga jam yang lalu dia baru muncul dari balik selimutnya, saya titipkan motor kepada abang yang tinggal di'gubug' diujung kebun teh, sedikit kebawah dari Tugu Rimau. Tak ada simaksi, tak ada retribusi pendaki, mereka yang sedang berada di Tugu Rimau hanya berpesan hati-hati. Ku tolehkan kepala melihat ke belakang, cukup lama, sungguh segar pemandangannya, jika saja punggungku mampu memandangnya. Tugu Rimau adalah titik tertinggi yang dapat dijangkau mobil dan kuda besi. Bagi mereka yang ingin mensyukuri dan mengagumi keindahan bumi pertiwi bisa berdiri disini sambil menghirup dalam-dalam oksigen ditempat ini. 


Kebun Teh Kaki Gunung Dempo
Jarum jam ditangan hampir berputar 360 derajat saat saya dan Mas Rocky tiba di gubug seng bertiang kayu dikanan jalur, nampaknya ini pos 1. Ku telan dua teguk air putih, lalu ku baringkan badan telentang diatas tiga batang kayu yang membentuk bangku, perut masih terasa kembung. Sementara Mas Rocky mengambil satu batang rokok dari kantungnya sambil berbagi korek dengan kawan yang tadi tak sengaja bertemu dipos bayangan 1. Setengah lingkaran jam sudah terlewat kami putuskan melanjutkan perjalanan lagi menuju pos 2.

Gunung Dempo, didalamnya pohon-pohon tinggi rimbun meneduhi jalur yang kami lalui sedari Tugu Rimau tadi, gunung pulau Sumatra kedua yang saya daki, jalurnya masih juga alami hutannya masih bersimfoni. Namun yang selalu sama dimana saja adalah sampah.

"Mas, pos 2 masih jauh gak ya?" Tanya mas-mas pendaki yang sedang bersandar di batang pohon, kawannya duduk sedikit dibawahnya sambil memegang keril, bercelana training merah, berkaos lengan panjang garis-garis, tanpa alas kaki. Sepatunya jebol.

"Masih lumayan jauh Mas, jalan bareng pelan-pelan aja yuk. Jalurnya bakal nanjak terus gini." Jawab dan ajak Mas Rocky. Memang terbukti Mas Rocky punya pengalaman yang lebih mengenai mendaki Gunung berketinggian 3159Mdpl ini. Salut.

***

Kubuka bungkus biskuit, kutawarkan isinya kepada kawan pendaki yang lain. Beberapa buah biskuitnya kupecahkan lalu ku berikan kepada dua ekor burung yang nampaknya jalak yang 'menunggu' Pos 2 Gunung Dempo ini, tanpa kicau mereka terus mematoki pecahan biskuit gandum tadi. Dipos 2 terdapat sumber air, ikutilah jalur turun sedikit. Yang menjadi sandaran kami merebah di Pos 2 ini adalah jalur yang selanjutnya harus kami lewati, jalur dengan kemiringan tak tanggung-tanggung. Cadas.

Keril menggantung berat dimasing-masing pundak kami, kaki melangkah sejauh-jauhnya dan setinggi-tingginya berhati-hati tersandung akar yang tak beraturan. Jalur masih tetap menanjak tegas, puncak belum terlihat, mungkin akan beda cerita, akan lebih landai jika kami lewat kampung empat.

"Sebentar lagi puncak Gunung Dempo Mas." tinggal lurus aja, treknya sudah datar. Ucap Mas Rocky sesampainya kami ditanah datar yang masih becek, pemandangan dari sini hanya ranting-ranting pohon yang memenuhi setiap arah sudut pandang. Pohon-pohonnya cukup tinggi, seperti membentuk hutan sendiri, bisa saja menyesatkan. Saya dan Mas Rocky sudah tidak lagi berdua, kami bertemu dan lalu berjalan bersama dengan pendaki Gunung Dempo yang lainnya. Kini kami tinggal mengikuti jalan datar yang kadang bercabang didalam rimbun pepohonan. "Ikuti jalan setapak ini terus aja Mas."

Gunung Dempo berketinggian 3159Mdpl. Ku sandarkan keril pada sebuah batu. Lesu menghempaskan pantatku duduk menempel tanah. Sambil kupandangi plat usang tanda bahwa kami telah mencapai ketinggian 3159 meter diatas permukaan air laut. Fiuh, kuseka keringat diwajahku. Dalam ekspektasiku setelah kita melewati jalur datar tadi, suguhan mewah berupa kawah hijaulah yang akan disuguhkan kepada kami. Ternyata untuk menerima suguhan itu tadi kami masih harus turun lagi dari puncak Dempo menuju pelataran merapi setelah itu naik lagi kepuncak berbeda dari tempat kami saat ini. 

Perjuangan masih belum usai. Jalur turun menuju Pelataran Merapi berupa batu-batuan yang licin karena merupakan jalur turunnya aliran air yang bening dan jernih, seperti senyummu yang berlesung pipi.

Pelataran Merapi Dempo
Saya menyebutnya Alun Surya Kencana tanpa bunga-bunga abadi. Pelataran Merapi sangat mirip dengan Alun Surya Kencana di Gunung Gede, letaknya di lembah luas yang diapit dua bukit. Sungai kecil mengalir membelah membaginya tidak sama rata. Para pendaki menancapkan pasak tendanya diantara pohon-pohon setinggi dua meter, maksudnya untuk mengurangi terpaan angin yang diterima. Disini saya dan mas Rocky merasakan sejatinya para pendaki, yang saling percaya dan mudah mengakrabkan diri. Dua mas-mas lucu yang kami jumpai sebelum pos 2 mengajak kami tidur bersama dalam satu tenda, kami bahagia walau mereka juga sesama pria. Karena tenda yang kami bawa ber-frame pralon berkelir warna-warni yang akhirnya kami gunakan untuk meneduhkan keril-keril kami.

Menengadah kelangit disana ada jutaan gemintang kecil yang berkerlipan, sambil bergurau dengan secangkir kopi ditepi hangat kayu berapi unggun, seorang diri ataupun bersama kawan-kawan apalagi jika ditemani seorang pendamping hati yang setia adalah sebuah bonus yang musti disyukuri, bonus yang sangat berarti. Sayang, tak ada satupun bonus itu untuk malam ini. Walau begitu semesta tidak meneteskan setetespun bulir air dari awan seharian ini, tanah-tanah hanya basah karena peluh kami, semoga juga semesta merestui hari esok kami. Malampun menjadi cepat berlalu setelah selesai menulis dibeberapa lembar kertas putih, saya terlelap. Lampu-lampu tenda yang lain juga sudah dimatikan. Manisku, maaf jika tak sempat ku tulis puisi untukmu barang hanya sebait.

Langit Biru Di Pelataran Merapi Dempo
Rerumputan masih basah disiram embun pagi namun matahari sudah cukup tinggi, sinar sudah membirukan langit, menyesakkan tak sempat melihat matahari terbit. Ku selipkan kertas tulisan semalam diantara botol air dan bungkusan snack. Mas Rocky sedang mengencangkan tali sepatuya lalu memakai kacamata. Duo Mas lucu juga baru saja siap. Kami berempat mantap menuju puncak merapi, melewati jalan bercabang mirip labirin yang tak sengaja dibuat pohon-pohon di Pelataran Merapi ini.

Hampir setengah jam kami melangkah, matahari sudah semakin terik, akhirnya kami dapat melihat hijaunya kawah tepat dari bibir jurang yang menuju kawah. Menakjubkan memang warnanya mengingatkan pada kawah Kelimutu yang masih menjadi mimpi sampai saat ini.

Mas Rocky bercerita bahwa kita sedang beruntung hari ini. "Berarti kita beruntung mas dapet kawah warna hijau, dulu saya pernah lihat pas warnanya biru. Pernah juga coklat, kalau coklat berarti kurang beruntung. Cuacanya juga lagi cerah Mas, pas nian."

Pagi yang cerah, angin-angin bermain menebas kesunyian, langit semakin biru, awan bergerombolan meneduhi hutan-hutan. Siluet bukit-bukit barisan tidak ingin dilupakan. Ku buka sleting tas yang ku bawa, kuteguk cuma sekali air yang hampir menjadi es, angin pagi ini membuat bibir-bibir kering. Ku keluarkan satu tulisan yang sudah aku tulis semalam.


Selamat Ulang Tahun, Mama!
Tak bisa kataku untuk melukiskan sosok seorang ibu, Kusadurkan saja kata-kata dari Mas Iwan Setyawan, "Ibuku, hatinya putih. Ia adalah puisi hidupku. Begitu indah. Ia adalah tetesan setiap air mataku."

Akhirnya semesta kembali merestui perjalanan kami kali ini untuk menyusuri hutan-hutan rindang Gunung Dempo. Meminggirkan sejenak awan-awan hitam mendung, mempersilakan matahari menambah vitamin pagi. Terima kasih kawan seperjalanan yang Tuhan beri, walau pertemuan kita baru sekali ini, kita sama-sama tahu, kita akan berjumpa lagi dilain hari. Entah dipuncak tertinggi lagi atau dilautan yang kita selami.

Katanya Tuhan itu ada di langit, sekarang saya ada dipuncak gunung, lebih dekat dengan langit. Ku ucap doa kepada Sang Pencipta, sebait doa sederhana untukmu ayah dan ibu. Aku tahu sudah mulai memutih helai-helai rambutmu. Semoga dikaruniai panjang umurmu dan dianugrahi kesehatan selalu. Amin.

Mas Rocky Diatas Awan
Kawan Seperjalanan, Dempo!

17 comments:

  1. Kayaknya ini masih maret 2015 dech tapi kok ceritanya dah Okt 2015 yeeee. Apa kalender gw yg salah ??? hua hua hua

    Btw selamat ulang tahun buat mama nya, sehat selalu panjang umur :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laaaah... Visoner berarti saya mah.. *tetepngeleswalosalah
      tetep kalendernya Mas Cum yang salah.. hahahaha

      Terima Kasih Mas Cum.. di aminni doanya..

      Delete
  2. Terharu baca tulisan ini. Bagus, inspiratif sekaligus membuat saya kepengen naik ke Dempo hehe. Jika beruntung, berarti memang Tuhan memberikan hari terbaik untuk njenengan dan Ibunda. Salam buat sang Ibu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wetsah.. Tulisanmu lebih mengispirasi Mas.. Terima kasih buat doanya, terima kasih juga mas papanpelangi sudah berkunjung.

      Sepertinya kita musti ngegunung bareng nih Mas.. *ngarep

      Delete
  3. Selamat ulang tahun untuk Ibundanya Mas, semoga sehat selalu dan panjang umur :)).
    Perjalanan yang keren sekali! Saya serasa keikut naik ke gunung itu :hehe. Ditunggu cerita-cerita selanjutnya :)).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima Kasih Mas Gara..
      Amiin buat doanya..
      Okee nih Mas.. *langsung ngedraft tulisan..

      Delete
  4. ternyata ngana su ke dempo..hih..lelepin di rawa-rawa juga sih yono nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaahh sapo kau ni, gak pake nama githu. huuuuuuuu

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. keren nian mas dion udah sampai gunung dempo. tulisannya bikin terharu nih :') apalagi paragraf-paragraf akhir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahahaha.. Kok keren toh Sin? :(
      Kamu ituh udah ke NTT, kan aku iri.
      Hihihihi.. Terima Kasih Sin, buat orang tua..

      Delete
    2. Itu sampe Bengkulu emang sengaja mau naik gunung toh mas? Aku mah apa atuh, ke NTT kan karena tugas negara, KKN di situ, hihihi

      Delete
    3. Bhahaha, ngepassi aja Sin, saya ini anak rumahan, selo banget yak..
      Beruntung Sin, KKN bisa sampe NTTkan. Terus kapan mau ke NTT lagi?

      Delete
  7. saya pengen banget traveling mendaki gunung. padahal di bali ada beberapa gunung yang sering digunakan untuk mendaki. tapi gpp sih belum pernah mendaki, aku udah cukup seneng bisa keliling bali. hehehehe... admin pernah ke bali ?

    ReplyDelete
  8. Jadi inget pernah baca kalau Gunung Dempo itu salah satu tujuan pendakian paling populer, keren memang pemandangannya

    ReplyDelete