Saturday, March 14, 2015

Gunung Kerinci, Demi Puncak Gunung Api Tertinggi

Pemandangan Puncak Kerinci
Saat ini saya sedang jatuh cinta bukan dengan orang tapi mungkin dengan hembusan angin pagi ditanah tinggi disalah satu pulau milik ibu pertiwi. Rinjani, Rinjani dan Rinjani. Tak satupun pagi tanpa ku khayalkan sujud dipuncakmu. Kadang juga terucap didoaku jika aku ingin mengunjungi dan mendaki Gunung Rinjani. Cukup gunung api kedua tertinggi di negeri ini, bukan gunung api tertinggi di negeri ini. Tak ada keinginan untuk mendaki Gunung Kerinci.

Kata orang bijak "Tuhan menggenggam semua doa. Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat." Dan kata saya, "Terkadang Tuhan mengabulkan lebih dari apa yang tidak kita doakan."



Suara takbir bergema jelas disetiap penjuru mata angin, dilantunkan dengan nada yang merdu. Malam itu seperti tak ada hati yang sendu. Kembang api bergelegar membumbung tinggi melompat dari selongsongnya menghias bingkai langit diatas Jam Gadang dengan bunga warna warni. Anak-anak nampak bahagia di bawahnya melompat bersuka ria lalu berfoto dengan manusia berjubah boneka. Lampu-lampu melingkar rapi dibatang-batang pohon, lampu yang lainnya seperti terjatuh pelan beraturan. Pedagang kerupuk mie terkantuk-kantuk disamping remang cahaya sentir. Bukittinggi semakin dingin dalam balutan langit malam yang berawan. Beberapa hari lagi saya akan meninggalkan kesejukan ini untuk menapaki tanah tertinggi.

Perjalanan ini seperti tetap memaksa melangkah walau hati sebenarnya ingin pulang. Melewatkan kesempatan untuk menghirup segar nuansa kampung halaman, bertemu keluarga, bergurau dengan sahabat lama. Demi memeluk gagahnya gunung api, gunung api tertinggi di tanah air ini, saya menunda kesempatan untuk berbahagia bersama mereka.


****


Kami bertiga masih terlelap pulas di kursi paling belakang saat elf Padang - Sungai Penuh memasuki wilayah Kayu Aro. Beruntung Pak supir elf ingat dan kemudian membangunkan kami tepat di depan patung macan yang sering disebut Tugu Macan.

Bergegas kami bertiga turun, Mas Dion, Uda Abenq dan Aak Aziz. Udara jam tiga pagi terasa dingin menyejukkan, sudah lama saya tidak menghirup udara seperti ini, ternyata saya rindu dibuai dingin. Nampak menjulang raksasa hitam, tinggi betul, siluetnya mengagumkan. Kami rasa itulah Gunung berapi tertinggi di negeri ini. Gunung Kerinci. Puncaknya di 3805 Mdpl dikenal dengan nama puncak Indrapura.

Kami merebahkan badan di atas dipan papan, di bagian dalam basecamp para pendaki tidur beralas karpet dan tikar barisannya mirip teri yang dijemur namun tak beraturan, tidur mereka terlihat hangat dan nyaman, mungkin karena keselarasan nada dengkuran yang keluar dari mulut mereka. Bukan hal mustahil sebelum tidur mereka telah menyamakan suara. Samaaaa.



Tugu Macan, Kebun Teh Kayu Aro dan Gunung Kerinci
Selamat Pagi Kayu Aro! Semesta menjadi hening menenangkan. Titik-titik embun masih belum menetes dari jutaan daun diberhektare kebun teh yang begitu luas, mereka diteduhkan oleh Kerinci yang gagah. Gulungan awan hitam masih menyendukan, sepertinya sisa rintik semalam. "Nek ning kene cuacane gak biso ditebak, ning nek Kerinci jarang cerah." Cerita Ibuk basecamp sambil memasak sambal goreng kentang untuk sarapan para pendaki. Ibuk adalah seorang jawa yang sudah lama tinggal dikaki gunung Kerinci, sekarang beliau membuka rumahnya yang lebih kita kenal dengan Basecamp Jejak Kerinci untuk menampung para pendaki darimanapun asalnya, sebelum dan sesudah mendaki gunung Kerinci kita bisa singgah dan bermalam disini. Ibuk telah menjadi Malaikat bagi para pendaki di basecamp Jejak Kerinci.

Setelah saya mendapat pinjaman kantung tidur mahal dari Mas Yudha ( @jelajahkerinci ) kami bertiga beserta rombongan lain membayar Rp. 2.500,- per orang sebagai tiket masuk Taman Nasional Kerinci Seblat. Mas Gugun dan Mas Mordam menyuruh kami bergegas naik keatas mobil bak terbuka, pendakian Gunung Kerinci memang normalnya dimulai saat hari masih pagi. Rp. 10.000,- per orang untuk menebus biaya mobil yang mengantar kami ke gerbang Gunung Kerinci, Pintu Rimba.

Gunung Kerinci sangat mengerti kantong para pendaki.

Mulai dari pintu rimba kami bergabung dengan dua rombongan lain, modusnya karena ada Mas Mordam menemani mereka mendaki. Pendaki dari Pekanbaru dan Padang. Selesai berdoa, Mas Mordam mencabut rumput disekitar, lalu membagikannya sejumput-sejumput kepada kami, "Masukan kantong ya." katanya singkat. Tanpa tanya kami mengantonginya. Shelter 3 menjadi tujuan kami untuk bermalam nanti, target sampai di Shelter 3.


Dari Pintu Rimba ke pos 1 (Bangku Panjang) lalu pos 2 (Batu Lumut) jalan masih lancar, trek masih lumayan landai, masih santai.

Di pos 2 kami agak lama beristirahat, berkenalan dengan teman-teman pendakian yang lainnya, mereka kebanyakan orang Padang, ada juga orang Bogor, Uda Abenq dan Aak Aziz merasa dikampung halaman, mereka berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Waktu itu di sebelah kiri Pos 2 terdapat sumber air yang melimpah, membentuk sungai dengan batu-batu kali besar seperti batu buatan. Air lebih dari cukup mengisi cekungan dan celah bebatuan. Menurut kabar yang beredar jangan lewat Pos 2 terlalu pagi karena merupakan lintasan Harimau yang hidup dihutan Gunung Kerinci.

"Lancar nih kalau treknya begini terus." Kata saya


"Eits, ini belum dimulai, pemanasan juga belum. Tunggu sebentar lagi." Sahut Mas Mordam sambil senyam-senyum.


Dan benar saja menuju pos 3 (Pondok Panorama) trek mulai menanjak walau cuma sedikit sedikit. Saya tersadar ini gunung api tertinggi didepan sana trek pasti akan makin menyiksa jiwa dan raga.


"Yuk lanjut, Pemanasan cukup sampai pos 3, siap-siap ya setelah ini." Ucap Mas Mordam dilatar belakangi liuk-liuk wilayah Kayu Aro, anyaman langit biru dan awah putih diselingi hijauan kebun teh, rumah-rumah penduduk menambah warna menjadi lebih meriah, semuanya Indah.


Bonus mana bonus, bonus mana bonus. Saya terlihat kuat diluar namun rapuh didalam. Jalur pendakian mulai menyiksa, beristirahat menjadi semakin sering. Mendung melindungi kami, tanpanya pasti peluh akan semakin luluh. Pelan, pelan, akhirnya tiba juga kami di Shelter 1.


Tak lama setelah rombongan berkumpul semuanya perjalanan kami lanjutkan menuju Shelter 2 yang kabarnya masih sekitar 3 jam lagi. Iya 3 jam lagi, jalur pendakian sudah bukan bonus lagi, pijakan kaki mulai sulit dicari. lutut sudah pasti sampai dikepala. Tangan mulai meraba memegang akar untuk perkuat pijakan. Sempat saya terlelap setengah jam dijalur tanpa dibangunkan.


Sekitar jam empat sore mendung sudah tiba, angin semain kencang membuat bulu-bulu tegang. Shelter 2 masih jauh. Gelap sebentar lagi datang, mau tak mau kaki harus dipaksa. Kami sadar tak boleh berlama-lama, mungkin saja gelap dan hujan datang bersama.

Setelah sampai di Shelter 2, sepertinya kami tidak akan memaksakan sampai ke Shelter 3, jam sudah pukul lima, kabut mulai penuh, gerimis mulai bergabung dengan peluh. Di sebelah kiri jalur plat Shelter 2 terdapat beberapa tanah datar yang mampu menampung beberapa tenda, sebenarnya ingin melanjut sampai ke Shelter 3 tapi apa mau dikata kalau kami tak mampu memaksa. Ada baiknya persiapkan air yang cukup dari bawah karena sumber air di Shelter 2 berjarak sangat jauh.

Tiga tenda dibangun berimpit, satu pasak untuk mengikat tali dua tenda. Senja kelabu, tanpa kuning tanpa jingga. Gerimis masih romantis bersama angin dan kabut, di dalam tenda kami sedang menanak nasi, sayur asem dan tempe goreng sembari menghirup secangkir kopi. Malam itu langit sepi hanya sesekali dari kejauhan terlihat gemerlap lampu-lampu milik Kayu Aro, tak ada ranting-ranting kering, tak ada api unggun, tak ada kisah colongan disekitar api unggun, dalam ruang sempit kapasitas empat orang ini kami berbagi kisah kami, tertawa, bercanda, riang bersama. Yang terjadi kali ini tak pernah kami prediksi, kemarin kami bertemu untuk pertama kali, saya, Abenq dan Aziz. Malam ini kami lelap saling berdampingan untuk satu mimpi yang sehati.


Subuh belum berlalu, kami semua sudah siap didepan tenda, berbagi senesting mi kuah untuk sekedar mengisi kekurangan tenaga. Kami membawa barang dan logistik seperlunya, dari Shelter 2 ini perjalanan masih sekitar satu jam tanpa beban menuju Shelter 3. Ranting-ranting masih alami disepanjang jalur, membentuk lorong panjang pun curam, diujung lorong ini Shelter 3 sudah menanti, sesekali dingin dan rimbun ranting ini membuat udara terasa pengap. Pasti akan mudah nyangkut jika kita bawa keril, antar pijakan pun berjarak jauh dan tinggi, seperti gunung-gunung yang masih alami, jalur dibiarkan terproses oleh alam, membiarkan alam membentuknya sesuai kehendaknya. Tak ada pula simpul tali temali untuk sekedar tumpuan tangan.


Dibelakang kami mendung sedang berebut dengan pagi seolah salah satu dari mereka ingin mendominasi langit Danau Gunung Tujuh yang kabarnya paling tinggi di bumi Swarnadwipa ini.Duetnya menarik, pagi dan mendung, ada sedikit kuning matahari diantara Danau Gunung Tujuh, Takjub.
Shelter 3 merupakan tanah terbuka yang mampu menampung cukup banyak tenda, sudah tidak ada lagi vegetasi pohon berbatang tinggi berdaun lebat, angin juga semakin kencang. Berdasar info dari Mas Mordam, saya dan Umar menyimpang dari jalur untuk mengisi ulang air dari botol-botol kosong yang kami bawa dari Shelter 2, air jernih dan nampak segar tersedia di cekungan tembok bukit, kami penuhi botol-botol kami karena air yang tersedia masih cukup banyak, masih cukup untuk pendaki lain yang pasti akan membutuhkan air. 

Didepan puncak Gunung Kerinci sudah menanti, kami harus menengadah lagi untuk bisa melihat puncaknya. Dari Shelter 3 menuju puncak yang terlihat hanya jalur berbatu, pasir dan jurang yang curam. Wajib mensugesti diri sendiri demi puncak Gunung api tertinggi.
Beruntung bagi kami cuaca sedikit cerah, warna biru langit bercampur abu-abu mendung, kami jadi lebih bersemangat menuju puncak. Jalur sudah benar-benar tanpa rerumputan batuan krem bercak merah menempel dipasir, siap kapan saja untuk menggelinding ke bawah. Setelah mencapai Tugu Yudha, sebuah monumen untuk mengingat saudara kami Yudha Sentika, ketinggian 3805 Mdpl sudah semakin dekat, sekitar setengah jam. Panas menyengat angin kencang, bibir mulai kering pecah-pecah sudah merindui air, ingin ku tahan saja rasa ini, akan kulepaskan jika sudah tiba dipuncak nanti.

Puncak Indrapura 3805 Mdpl, begitu beruntungnya kami, cuaca tak berintik. Cara Tuhan yang tidak pernah saya percaya, mengijinkan semesta mendukung kami bersujud dipuncak Gunung Api Tertinggi. 


Danau Gunung tujuh dari puncak Kerinci
Kayu Aro dari Puncak Kerinci
Dion, Abenq, Aziz
Kawan Seperjalanan
Kawan Seperjalanan

Kepadamu kawan seperjalanan mendaki Gunung Kerinci, terima kasih telah membuat perjalanan ini lebih berarti, terima kasih karena telah saling mengulur tangan, membuka lebar pintu tendamu, menyodorkan cangkir teh hangatmu. Terima kasih telah menjabat dan merangkulku diatas puncak Gunung Kerinci, gunung api tertinggi. Kita telah bersama melihat eloknya jajaran bukit barisan, kita bersama mengagumi warna-warni dari atas sini, kebun teh Kayu Aro, desa-desa mungil, danau-danau ditanah tinggi, dan plat tanda puncak Kerinci 3805 Mdpl.

Kepadamu kawan seperjalanan, percayalah saat saya menulis ini, saya sangat merindui raut wajah dan kelakuan kalian, dan juga percayalah saya masih iri karena tak ada bersama kalian menjelajahi Gunung Tujuh seusai kisah ini.

Kepada Jejak Kerinci, basecamp paling nyaman yang pernah saya temui. Buk, saya rindu sambel kentang gorenganmu.

12 comments:

  1. thank you, nice writings! I just know that Kerinci is really awesome, as awesome as Danau Gunung Tujuh.. God always gives His surprise to anyone who believe Him, Yon.. :)

    ini bulan kapan pas nanjak Yon?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank You too for your appriciate May. Kayu Aro is a awesome place, there are so many beatiful place, there are have mountain, lake, waterfall and etc. Thanks God for this journey. *belepotan

      Itu bulan Agustus May.

      Delete
  2. I always get wonder when I see your camera shot!! I just realized that you're a professional photographer You. I love all of your shots. You have a totally! Cool! Proud of you, may you will be success by your hobbies, buddy! August is the right time to hike Kerinci?

    ReplyDelete
    Replies
    1. May.. saya nyerah.. *kibarkan bendera
      lidahnya keseleo kalo pake bahasa inggris.. haha
      Agustus? Mungkin saja iyaa.. Tapi seperti kata Ibuk, cuaca susah diprediksi.

      Delete
  3. Replies
    1. Kamu juga keren Shin.. kamu lebih keren!!

      Delete
  4. wah...udah ke kerinci, aku dulu pernah tinggal disana mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan sudah Mas, itu demi mas demi Kerinci.. hahaha..
      DI Kayu Aro juga Mas? Indah bener Mas, Gunung Tujuh ma Danau Kaco.. aiiiih masih punya hutang kesana..

      Delete
  5. Hello Am Mrs, ANGELA TAYLOR Am pemberi pinjaman pinjaman yang sah dan dapat diandalkan memberikan pinjaman
    pada syarat dan ketentuan yang jelas dan dimengerti pada tingkat bunga 2%. dari
    $ 20.000 sampai $ 10,000000 USD, Euro dan Pounds Hanya. Saya memberikan Kredit Usaha,
    Pinjaman Pribadi, Pinjaman Mahasiswa, Kredit Mobil Dan Pinjaman Untuk Bayar Off Bills. jika kamu
    membutuhkan pinjaman apa yang harus Anda lakukan adalah untuk Anda untuk menghubungi saya secara langsung
    di: angelataylorloanfirm@hotmail.com
    Tuhan Memberkatimu.
    Salam,
    Mrs Angela taylor
    Email: angelataylorloanfirm@hotmail.com


    Catatan: Semua balasan harus kirim ke: angelataylorloanfirm@hotmail.com

    ReplyDelete
  6. Terima kasih mas Dion sudah bikin tulisan dan kisah seindah ini. Kapan kita bisa mendaki bersama, saya pun ingin jadi bagian dari tulisanmu.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih mas Dion sudah bikin tulisan dan kisah seindah ini. Kapan kita bisa mendaki bersama, saya pun ingin jadi bagian dari tulisanmu.

    ReplyDelete
  8. wah...udah ke kerinci, aku dulu pernah tinggal disana mas :)

    ReplyDelete