Sunday, April 19, 2015

Gunung Merapi, Memang Tak Pernah Ingkar Janji

Sunrise dari Pasar bubrah
Malam telah menyelesaikan sepertiga tugasnya, sementara kepala kami berenam makin terkantuk-kantuk menahan berat kelopak atas mata. Ingin sejenak saja menggelar matras lalu merebah membiarkan lelap menguasai tubuh, hanya sebentar saja. Punggung bersandar pada dinding yang dingin, pantat menempel pada lantai yang dingin, semuanya serba dingin. Langit bergemuruh, sesekali memunculkan kilatan putih, ini sudah bukan lagi gerimis, dua kali langit menangis deras hari ini.


Ku arahkan lampu senter ke jam tangan. Sudah hampir dua jam kami berteduh disini, dibangunan permanen dibawah tanda nama New Selo. Merengkuh ransel kami masing-masing, berharap mendapat sedikit kehangatan untuk melawan laju angin yang tak mau mengerem. Disamping kami, sepasang suami istri yang baru saja menikah saling memberi realisasi perhatian, sang istri merapikan penutup kepala lalu mengencangkan sleting jaket sang suami. Sang suami merangkul sang istri, membiarkan kepala sang istri terkulai manja dipundak kirinya. Mereka begitu mesra. Kami berenam saling menatap mata. “Kita ngenes, Mblo.”

New Selo masih titik awal pendakian, namun kami putuskan untuk tetap nekat memulai berjalan, hujan masih belum bisa disebut gerimis, trabas. Jalan setapak menemani masuk ke dalam hutan, air mengalir lancar menggemburkan jalur yang berupa tanah liat, licin. Pijakan sepatu tak pernah mantap. Tergelincir, lumpur basah menempel, mengotori pakaian. Angin menerpa mengguruhkan gendang telinga, hujanpun tak memberi pertanda akan reda.

“Break, break.” Teriak saya yang berjalan paling belakang. Saya menyerah membiarkan air hujan mengguyur. Jas hujan yang sudah dipersiapkan dibagian paling atas ranselpun saya kenakan.

“Cari tempat yang agak datar Tom, gak bakal kuat kalau dilanjut, bisa bahaya. Kita buka tenda.”  Embek memberi aba-aba pada Tomy yang berjalan paling depan.

Hujan masih saja belum reda saat kami tiba di bangunan yang ternyata bukan shelter dikanan jalur pendakian. Sementara jam ditangan sudah menunjukkan pukul dua pagi. Badan meronta meminta kehangatan. Di bawah bangunan ini kami putuskan untuk mendirikan tenda. Tanpa basa basi airpun dididihkan demi mempersilakan kopi mengepulkan harumnya. Tanpa percakapan yang panjang, kami berjajar lelap dibalut kantung tidur. Hujan masih berdendang, biarlah tenda yang mengawaninya berbincang.

Pagi tiba, kuusapkan telunjuk pada kelopak mata, pintu tenda sudah terbuka berkibar-kibar. Embek, Tomy, Mas Miko dan Mas Joni masih nyaman bersama dengkurnya. Fika nampak diluar tenda, menikmati elegi pagi, tertegun memandangi Gunung Merbabu, dia duduk diatas rumput, juga sambil memainkan dedauan, seolah dia berbisik pada embun-embun supaya ikhlas jika sebentar lagi matahari memaksa mengakhiri cumbunya dengan dedaunan.

Sarapan ludes seketika dilahap mulut yang berperut keroncongan, sesaat kemudian ransel-ransel diberdirikan melingkar, begitupun empunya. Kami buka langkah pertama pendakian pagi ini dengan berdoa. Mugo diparingi cerah, diparingin sehat, diparingin kuat. 

Mendaki gunung memang butuh banyak sugesti, seperti menyemangati diri sendiri saat meniti tanjakan demi tanjakan didepan kami. Menyugesti untuk berdiri diatas samudera awan, menatap langit biru nan megah, menatap kota-kota gagah yang nampak mungil, tiap sugesti memiliki kekuatan tersendiri untuk terus memantapkan langkah. Tapi, jujur kawan, keinginan untuk beristirahat, berhenti lalu pulang kerumah kadang lebih menyamankan, meskipun hanya sesaat.

Jalur yang berupa liat masih belum kering dari sisa hujan semalam, genangan-genangannya mencetak bentuk alas-alas kaki menjadi penanda bagi pendaki-pendaki dibelakang kami bahwa jalur ini baru saja dilewati. Pohon-pohon kurus merelakan embun terakhirnya jatuh membasahi lengan-lengan juga bebatuan. Kami menatap jauh ke atas, warna langit belum cerah. Abu-abu berlari-lari dibawah matahari ditampiknya sinar yang ingin sekedar menghangatkan bumi. Langkah-langkah masih terus menjejak mantap, diayunkan melawan tantangan tanjakan. Tak ada bonus. Tangan, pundak dan kaki, semua menguras energi. Kaos kuyup oleh peluh. Tanjakan terus tanjakan, sudah berjam-jam  masih saja tak ada habisnya, sungguh menyiksa. Tapi kami tahu, mulut kami tak boleh mengucap keluh.

Di Watu Gajah
Jalan sempit yang diapit dua batu menandai ujung perjalanan hari ini tinggal sedikit lagi, para pendaki menyebutnya Watu Gajah. Mulut menganga membantu kerja paru-paru mengatur kembali irama nafas yang tersenggal-sengal. Ku terbangkan pandang ke atap bumi, masih abu-abu, nampaknya hari ini langit tak akan biru.

Gunung Merapi akhirnya sedikit memberi bonus. Dari Watu Gajah sampai ke batas vegetasi kami berjalan cukup santai. Sembari sesekali merekahkan bunga bibir menyapa pendaki lain yang tendanya sudah berdiri. Ada beberapa tanah datar yang cukup untuk mendirikan tenda juga dilokasi ini.

“Kita buka tenda di Pasar Bubrah aja.” Embek memberi isyarat untuk tetap lanjut berjalan.

Tenda Di Bawah Watu Gajah
Pasar bubrah, puncak Gunung Merapi masih satu jam dari sini, sebuah latar hampir tanpa vegetasi tepat dibawah puncak Gunung Merapi, menyimpan banyak mitos dan cerita, ada pula yang menyebutnya Pasar Setan. Diwaktu tertentu kabarnya disini tercipta pasar yang pedagang dan pembelinya adalah makhluk halus.

Tomy bergegas mencari tempat lapang untuk mendirikan tenda. Sulit, tetiba angin kencang membawa kabut tebal melanda, bulir hujan besar-besar menimpa. Kami harus saling berteriak untuk bisa saling menerka posisi supaya kami tetap bersama, kabut tebal selalu membuat waspada. Tenda kami dirikan segera diantara batu-batu besar untuk melindunginya dari angin yang menerpa.

“Yang penting tenda jadi dulu, pasang pasak dan tata bagian dalam tenda sebisanya.” Kondisi memaksa harus bercerak cepat. Jemari kaku, bibir membiru, tubuh menggigil, kaos dan celana sudah tak lagi kering. Celana dalam saya yang saat itu belum GT-Manpun hampir kuyup. Tak mengapa asal jangan mengkerut.

Diantara semua cuaca yang meresahkan ini, seorang pendaki wanita kami bujuk paksa untuk meneduh ke dalam tenda kami. Sebelumnya dia duduk dibalik sebuah batu, dia sedang menempelkan kedua dengkul ke dada sambil memeluk kedua kakinya, ponco menutupi tubuhnya. Setelah ditanya, dia menunggu sendirian di Pasar Bubrah, teman yang lainnya sedang kepuncak. Wajahnya jelas sudah pucat kedinginan, tatap matanya hampir kosong. Keputusan seorang wanita dan teman-teman yang mungkin saja berujung bahaya. Sebuah pelajaran juga sebuah instropeksi diri bagi kami.

“Slip inside the eye of your mind
Don’t you know you might find
A better place to play”

Sore itu hampir senja dipastikan tiada jingga karena kabut masih menguasai angkasa. Embek berulang-ulang memutar lagu Don’t Look Back In Anger milik Oasis, curiga mungkin hanya satu itu playlistnya. Malam mulai tiba, sejujurnya ada ketakutan yang hadir, setelah dari titik awal pendakian cuaca yang mengerikan terus melanda, sudah berapa kali baju yang kami pakai kering, basah, kering, basah lalu kering lagi. Setelah pengakuan dari Embek dan Fika yang belum meminta ijin kepada orang tuanya untuk pendakian Gunung Merapi kali ini. Setelah kami sadar kalau hanya tenda kami yang berdiri sendiri diantara bebatuan diatas tanah Pasar Bubrah ini. Sesungguhnya aku benar-benar ingin segera pulang.

Hujan reda, senter-senter berkelipan dari kejauhan saat Tomy sedang menyeduh kopi, suara-suara dari pedaki lain bersautan memecah keheningan. Ternyata kabut juga audah mulai hilang bintang-bintangpun mulai berkelipan.

“Mas, kami pasang tenda disini ya, didekat tendanya mas.” Ijin mas-mas yang dari suaranya masih terdengar muda.

“Silakan mas, monggo monggo.”

Perlahan ketakutan yang sedari tadi membuat khawatir sirna, digantikan oleh lampu Boyolali dan Solo yang bergemerlap ceria. Kami keluar tenda menikmatinya. Menyambut juga pendaki lain yang mulai sampai ke Pasar Bubrah.

Canda tawa kami malam itu tak berlangsung lama, ingin rasanya segera menidurkan mata,lelah. Pintu tenda dirapatkan, lampu senter dimatikan.

“Selamat malam Tomy.” Ucap Embek lembut.

“Selamat malam Embek.” Balas Tomy tak kalah lembut. Senyum manis terkembang dari bibir mereka berdua.

Tawapun pecah, beruntung Fika dan Mas Joni tidur memisahkan letak Tomy dan Embek, Mas Miko mungkin sudah terpejam. Kasihan, raincover yang menutup tasnya tak cukup ampuh menahan air hujan. Selamat malam Pasar Bubrah.

Sebelum Tidur
Jarum pendek jam sudah berada ditengah angka lima dan enam saat saya keluar tenda. Angin selalu dingin jika sepagi ini, masih kukenakan jubah tidur gunung lengkap. Dari cahaya senternya ada pendaki lain yang sudah hampir mencapai puncak. Saya lemparkan pandang ke sebelah kiri, kuning menggaris lurus cakrawala, pertanda sang empunya warna akan segera mengudara. Mas Miko, Tomy, Mas Joni dan Fika juga sudah diluar tenda, Embek segera menyusul. Kami mengumpul kagum menyaksikan pertunjukan Yang Maha Kuasa. Tentang matahari terbit, gulungan awan, langit yang mulai membiru dan pohon Cantigi yang tabah, yang berusaha tumbuh memekarkan daunnya diantara bebatuan Pasar Bubrah. 

Sunrise Dari Pasar Bubrah

Sunrise dari Pasar Bubrah
Origin Pict By Febriawan
Segera setelah semua siap kami melangkah menuju puncak Gunung Merapi. Pasir adalah jalur yang harus dilalui, sudah mulai kering, debu menyebar ketika kami memijaknya. Bukan jalan yang mudah untuk dilalui. Mengayunkan langkah menjadi semakin berat apalagi jika tak menggunakan gaiter, bulir pasir masuk sepatu mengganggu kenyamanan kaki. Sesekali kami mengambil nafas panjang sambil membalikkan badan memandangi Gunung Merbabu yang menyanding Gunung Merapi di sebelah kanan jalur. Kabut tipis menutupi liuk lekuk bukitnya, samar-samar nampak warna hijau yang mengkolaborasi, suguhan yang membuat mulut menganga. Sebentar lagi puncak, jalur menjadi terjal bukan lagi pasir tapi batu. Ruang pinjakanpun menyepit, kami harus bergantian melangkah dengan para pendaki yang lain.

“Aaaaaaaaa.” Mulut berteriak lantang, kedua tangan mengepal udara, bendera merah-putih mengangkasa. Puncak Gunung Merapi, kami tiba. Dalam dua hari perjalanan kemari, beberapa kali badai telah menerjang kami. Mental  goyah, tubuh ingin menyerah tapi akhirnya betapa kami tahu kalau Gunung Merapi memang tak pernah ingkar janji. Diberinya segala kemegahan yang dimiliki, disajikannya pemandangan yang begitu mewah, dihadirkannya langit cerah yang begitu biru.

Hati-hati, hati-hati, awas, awas. Berulang kali kami saling menegur, tanah datar dipuncak Gunung Merapi memang sempit, kanan kawah dan kiri jurang, tak sampai sepuluh kali jengkalan tangan. Kami berenam duduk sejajar memunggungi kawah Merapi, jauh didepan gumpalan awan membentuk kerucut menyembunyikan Gunung Lawu. Saya mengingat dahsyatnya Gunung Merapi yang mampu menyulap kota-kota menjadi seperti kota mati. Sempat beberapa waktu lalu sungai-sungai menjadi keruh berpasir, pohon-pohon kering tanpa sehelai daunpun, batu-batu besar menggelinding sampai ke jalan-jalan dan tenda-tenda pengungsian digelar diatas tanah-tanah lapang. Sekarang perlahan kondisi memulih tetapi sampai sekarang pula ada kehilangan-kehilangan yang mustahil tergantikan.

Perjalanan kami turunpun lagi-lagi langit tanpa ampun mengguyurkan air ke bumi. Pagi tadi langit hanya memberikan jedanya bagi burung-burung untuk kembali bernyanyi.

Gunung Merbabu Dari Tanjakan Puncak
Origin Pict By Gramiko Kaharap
Menuju Puncak Merapi
Origin Pict By Gramiko Karahap
Di Puncak Merapi
Dari Puncak Merapi

Saat Perjalanan Turun
Untuk kawan seperjalanan, Embek, Tomy, Fika, Mas Miko dan Mas Joni. Aku rindu, kita bercanda lagi saat sore hari di dalam sebuah tenda. Kapan kita berkumpul lagi? Membincangkan kisah-kisah tentang kalian. Silakan kalian ceritakan sambil kita meneguk habis secangkir kopi, cukup dalam teduh remang gerobak angkringan.

Embek
Fika
Mas Joni
Mas Miko
Tomy
Numpang Nampang


33 comments:

  1. Wiih, merapi cakep ya sunrisenya~ jalur pendakiannya susah enggak ya? Maklum anak gunung pemula pake banget ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiihh gile Mas Fahmi.. cakepnya pake banget..
      Nanjak terus tanpa ampun Mas.. Waaah.. merendah pake banget nih..

      Delete
    2. gogon cen juaraa.... opomneh ra ajak2....

      Delete
    3. Aaaak kamu, di bbm gak pernah bales.. sekarang kamu sudah sombong.

      Delete
  2. katanya sabtu ini mau berangkat merapi loh kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiiih.. Siapa aja Fik? Kamu, Tomy, Embek?

      Delete
    2. Kerang Adventure dong :D kak dion dimana

      Delete
    3. Weleeeh, tapi gak lengkap kan? akukan lagi sekota ma Gembong.. hahaha

      Delete
    4. he'em po? bukannya mas gembong udah balik ya? iya, keknya udah balik

      Delete
    5. Heem po? Aku juga gak tau kalo udah balik Fik.. Sial masa gak ketemu di tanah rantau ini..

      Delete
  3. Mirip dengan kejadian yang aku alami waktu muncak di Merbabu november lalu mas. Kami diterjang badai yang membuat batin ini pasrah dengan keadaan. Tenda kami juga sendirian di atas bukit sebelum sabana 2. Tak bisa tidur karena semua pakaian kami basah kuyup dan tendapun tergenang air.
    https://yasiryafiat.wordpress.com/2014/12/09/pendakian-puncak-merbabu-boyolali-jawa-tengah/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berenang sambil tidur ya mas? Sedih mas, sudah dingin basah kuyub juga.. Pengalaman yang ngajarin untuk bawa perkab anti hujan ya mas..

      Delete
  4. Replies
    1. Terutama foto yang paling bawah ya aak.. aah tidak, jangan2 kamu suka sama aku..

      Delete
  5. Mas dion kapan gitu saya diajak dong, biar sehat, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayyok Mas Nud.. Weekday bisa kan? atau musti weekend?

      Delete
  6. foto yang paling atas mesra amat Mas? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yang disuruh motoin Mas, sayangnya bukan saya yang mesra.. :(

      Delete
  7. sunrisenya cakeeeeep pake banget mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeh, pas dapet cerah Mas..
      Ajarin foto-foto donk kak.. :)

      Delete
  8. Next harus ke sana aaaah.. Tapi mesti rajin olahraga dulu nih, biar ngga kram. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeps Beb.. Harus donk kesana.. Eh tapi gak olah raga juga bisa kok, aal ada yang ngegendong.. hahaha :p

      Delete
    2. Keknya kalok pun ada yang nggendong, ngga bakalan kuat deh.. Aku gembul soalnya.. Hiks.. :'

      Delete
    3. Waduuuuh.. gembul gpp Beb, asal masih bisa dilipet.. halah..

      Delete
  9. Wah, pemandangannya bagus mas, manta pokoknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heem kok, dan seperti inilah yang selalu bikin kangen Mas..
      Manta? Maksudnya Mantap atau Mantan? eh..

      Delete
  10. Cakep banget foto2 nya, aku mau ikutan kesana tapi di gendong yeeee (males jalan kaki)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau saya seret pake rafia aja Mas Cum.. haha

      Makasih ya kakak kece.. :)

      Delete
    2. KEJAM masak diserettttt
      Btw merapi mmg ngak perna ingkar janji, tapi kamuuuuuuuu. Selalu ingkar dan menyakiti aku #DErama

      Delete
    3. Hayuuuklah gak jadi diseret..
      Aku selalu ingat janjiku padamu kok Mas Cum, untuk menemui orang tuamu, Sekalian itung-itung ketemu sama Blogger Ngehits Mas Cumi.. hahhaa

      Delete
  11. Merapi bulan apa itu Yon?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh bulan apa ya.. kok mendadak lupa saya.. haha

      Delete
  12. Wah foto sunrise yang di pasar bubrah itu keren banget :D

    ReplyDelete