Saturday, June 20, 2015

Danau Maninjau, Semoga Pagi Selalu Mau Berbagi

Maninjau dan Sihir Bernama Pagi
                Sepiring nasi dengan lauk iwak kali, juga segelas teh manis hangat sedikit mengurangi mual perut. Empat puluh empat kelokan sukses dengan mulus dilewati bus tiga perempat yang saya tumpangi. Sekarang, gerimis yang tadi turun sudah tiada, masih tersisa gulung-gulungan awan kelabu serta angin kencang yang menggoyang baliho-baliho. Peluh telah sepenuhnya membasahi punggung yang sedari tadi memanggul ransel yang kian berat. Kaki dan jemari yang berbalut plester terus menjelajah jalanan demi mencari sebuah penginapan. Hanya seorang diri, sementara orang-orang disekitar berbicara dengan bahasa mereka, yang tak saya mengerti. Tubuh ini lelah, ingin segera merebah.


                “Dua ratus ribu mas semalam.” Seorang ibu membuka harga sewa kamar untuk satu malam. Tiang-tiang kayu penyangga teras kamar sudah nampak lapuk, cat yang semula putih telah luntur, menunjukkan warna asli kayu. Penginapan ini sudah nampak tua. Pintu-pintu kamar masih terbuka, pertanda belum ada penghuni yang menyewa. “Seratus ribu saja ya Bu, saya juga cuma sendiri. Saya besok check out pagi-pagi Bu.” Coba saya tawar harga tadi karena saya merasa ibu ini adalah empunya penginapan. Ibu mengangguk, segera ditunjukkannya sebuah kamar untuk saya berteduh malam itu.

                Kasur ukuran muat dua orang, spreinya hijau, digelar diatas dipan kayu setinggi setengah meter. Terasa dingin, kata orang memang begitu, kasur dari kapuk lebih dingin ketimbang yang dari busa apalagi yang terbuat dari perasaan, perasaan pacar yang bergandengan tangan dengan orang lain sehari setelah ketok palu putus sudah dilakukan. Lantainya belum berkeramik, masih plester halus, ada juga tambalan semen dibeberapa bagiannya. Tanpa bak di kamar mandi, hanya sebuah ember hitam kecil lengkap dengan gayungnya yang berwarna hijau tua. Sepertinya ibu paham tatapan saya, katanya penginapan reot ni akan segera dijual. Ibu akan meninggalkan kedamaian Maninjau, beliau akan ikut sang suami yang sudah menetap di Padang.

Warna Senja di Danau Maninjau
                Danau Maninjau dalam perjalanannya menuju senja namun langit tak sepenuhnya jingga, awan hitam masih menggumpal. Air danau bergelora tak mampu menahan laju angin, bergerak searah membuat ombak-ombak kecil. Kucelupkan kedua kaki, air dingin membelainya. Kedua tanganku menyandar, wajah menengadah menatap luas langit. Angin menelisik menyisir celah-celah rambut setelahnya barulah menggoyang dahan pohon kelapa. Ketenangan yang hanya kunikmati sendiri, kedamaian yang pasti akan kurindui. Walau senja kehilangan jingga, saya tahu esok pasti akan muncul hari dimana saya akan mendamba lagi senja seperti ini. Kamar ini hanya berjarak sepuluh meter dari tepi danau. Warna-warna perlahan pergi, jingga, hijau, bahkan abu-abu. Lampu-lampu mulai berkerlip diseberang danau. Tak banyak yang berubah sejak sore tadi, masih saja sepi, sunyi dan tenang. Biarkan saya tetap duduk ditepian, menjemput gelap menyambut bulan dan bintang-bintang.

                Langit gelap begitu saja menjelma jadi biru. Lagi-lagi tenang, air danau yang semalam mendendangkan lagu tidur, yang menceritakan dongeng sebelum tidur berubah senyap, tanpa angin air di Danau Maninjau bisu. Bisunya menambah syukur pagi itu. Seperti diatas sebuah panggung pertunjukkan. Panggungnya adalah langit, pohon kelapa menggenjreng gitar, angin menyuarakan piano, awan menggesek biola, bukit menggebuk drum, air danau memainkan biola, kabut bersuara merdu dan matahari bertugas pada pencahayaan panggung. Sementara kabut lain yang menjadi kawan saya, berduyun-duyun menuruni bukit, menyibakkan embun dipohon-pohon. Sungguh indah pertunjukkan gratis ini. Semuanya mengalun pelan dan syahdu. Wahai waktu bolehlah saya mohon supaya jangan kau cepat berlalu.

Sesaat Setelah Tenggelam
                Dengan perahu kecil yang hanya mampu menampung satu orang, nelayan danau Maninjau menelusur tepian danau, diangkatnya jebakan satu persatu yang sudah entah dari kapan dia pasang. Dimainkannya dayung, kanan lalu kiri, kakinya masih selonjor. Biduk kayu kecilnya menghasilkan riuh kecil pada air yang tenang. Tanpa beranjak dari biduk dipotongnya jarak dengan dayung, diangkatnya jebakan dilain tempat. Seperti itulah setiap pagi, diantara kabut tipis yang berlari-lari, selalu ia sisipkan harapan, selalu ia semogakan ikan-ikan mengisi penuh biduk kecilnya.

                Saban hari, jika saja saya selalu mendapatkan pagi nan elok bak pagi hari ini. Apakah saya akan melupakan lagi makna kata mensyukuri? Apakah saya takkan bosan lagi dengan hari-hari?

                Setelah mandi lalu berjungkat memakai jemari, ku ganti plester di mata kaki. Pucuk pohon kelapa telah sepenuhnya diwarna kuning Mentari. Begitu juga bukit disebelah barat danau. Namun disisi timur sini kabut masih saja menari-nari menunggu gilirannya dihabisi matahari yang makin meninggi. Sebuah paradok yang sebenarnya tak ingin ku percayai.

Lelaki yang sedang jatuh cinta
                Pamit kuhaturkan pada ibu penginapan. Kedua kaki menuju simpang tiga maninjau, tempat mobil menunggu penumpang menuju simpang Padang Luar. Untuk mencapai Padang sebenarnya ingin hati melewati Pariaman, tapi ingin hati pula menyaksikan Lembah Anai. Mobil melaju lincah melewati tanjakan berkelok, sudah akrab nian supir mobil dengan kelok 44. Cerah cuaca, dingin udara. Danau Maninjau saya mohon diri, kan ku sampaikan salammu untuk ayah ibuku nanti. Kan kuceritakan tentang pagimu pada kawan-kawanku. Saya mencintai pagi ditepianmu.


41 comments:

  1. Duuh cakep banget ini tempatnya. Narasinya juga pas, ngena di hati yang baca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuuuh...
      Aku terharu juga baca komentarmu mbak.. Terima Kasih lho Mbak Lina..
      TApi pasti dirimu sudah sampai ke Maninjaukan?

      Delete
  2. Pernyataan "Dua ratus ribu Mas semalam" itu sebelumnya diawali pertanyaan "Asalnya dari mana dek?" nggak :D

    Tapi ya menarik juga, tarifnya bisa ditawar. Umumnya kan pas masuk biasanya disodori daftar tarif berikut pilihan kamar.

    Anyway, Danau Maninjau memang cantik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. Gak usah kalo itu Mas, langsung ditanya, Jawanya mana Mas? hahaha

      Maklum Mas penginapan seadanya Mas, dah coba ke hotel sekitaran situ eh lumayan selisihnya.

      Cantiknya tak terelakkan. hihihi

      Delete
    2. Pertanyaan yang tepat...
      Kebiasaan kalo beli salak di Turi dikasih harga 15rb
      Setelah bilang omahku Turgo, langsung diskon 50% :D

      Delete
    3. Bhahaha.. Aseek diskon gedhe, asal gak disuruh metik sendirikan mas? haha

      Delete
  3. oooo pantesan itu lomba nggak di update, ternyata dikau sedang mengejar cinta ama gadis minang ya?? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuuuuh.. Aku musti jawab gimana ya ini Mas? Hahaha
      Tapi enggak kok Mas, wkakakak
      Saya merasa gagal sebagai pemenang TFP Mas, maap Mas maap..

      Delete
  4. Duuuh pengen deh ngerasain bangun pagi liat sunrise di danau, belom pernah ikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi.. Ke Setu Babakan Kak Put, kan juga gak terlalu jauh..
      Mbak Putri mah udah ada yang nemenin kalo liat sunrise di danau, :(

      Delete
    2. tuuh kan, bener kan?? ujung2nya memang kamunya nyari temen untuk ngegalau bareng toh? udah kak put, cariin deh satu :))

      Delete
    3. Mas cukup Mas cukup. Saya sudah ke tingkat stres lebih lanjut, Ngajak ngomong kantung tidur.

      Delete
  5. Wooho cantik nian, elok bagaikan sebuah lukisan. #apasih? Wuah, keren mas, klo besok mau menjelajahi alam Indoneisa mbok ngajak-ngajak saya. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahaha.. Kayak backdrop ya Mas?
      Lha hayuuuk, packing mas packing, haha

      Delete
  6. tulisannya digambarkan sedetil mungkin jadi bisa terbayang langsung kaya langit gelap berubah menjadi biru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaak mbak Putri, sebuah proses perubahan yang belum tentu setiap orang menaruh hati, hihihi

      Delete
  7. Itu yang lagi dipinggir danau lagi jatuh cinta atau patah hati ya. Solo traveler ya dek? Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahaha.. Pengalihan patah hati, jatuh cinta ma danau.. :D
      Bukan mbak, pemula mbak..

      Delete
  8. Danau Maninjau, semoga ada waktunya main ke sini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu gratis boi, semoga bisa disegerakan ya Mas.. Eh aku maen ke KarJaw dulu dong, hihihi

      Delete
  9. indah sekali, mesti rasa lelah akibat perjalanan menuju kesini langsung terobati ya... #sambilngebayanginbunyiangindanairdaridanau...

    salam kenal
    /kayka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai kak Kayka, salam keal.. :D

      Kebayar lunas mbak, jangan cuma dibayangin, didiengerin langsung dong.. *kirim rekaman

      Delete
  10. maknyesss om tulisane,
    saya baru aja dari sumbar dan belum berhasil mampir ke maninjau padahal pengen bgt ke maninjau dan bukit tinggi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima Kasih mas Fathur, ayoook kita meetup. Laaah tanggung Mas udah di Minangkabau dan ke Bukittingii, tapi selalu ada alasan untuk kembali, hehe

      Delete
  11. Curang kamu, Mas. Inyong baru saja kemarin malam dikirim foto Empat Puluh Empat Kelokan sama kawan disana. Eh, malah ngana yang duluan kesana. CURANG!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahaha.. Enggak Mas, anggap saja cerita diatas fiksi Mas. Nanti kita boncengan naik motor kesana Mas.

      Delete
    2. KITA???!! LU AJA SONOOO! GUE MAH OGAH.. vkvkvkvkvkvk
      ckckckckckck
      wkwkwkwkwk
      😂😂

      Delete
    3. Oooooh githu, baiklah. Asal kamu masih mau nemenin aku ke Ciremai gpp Za..

      Delete
  12. Jalan jalan tinggal cita cita kayaknya
    Udah keblasuk di pedalaman begini susah mau keluar hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas Rawins.
      Kalo sudah jatuh cinta rasanya jadi orang paling bahagia di dunia, hahaha

      Delete
  13. Aaakkkk potonya bikin ngileeerrr. Makin ngeces pengen ke Sumatera ><

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buruan kak, buruan jelajah sampe Sabang, nanti saya temenin, tapi ongkosin ya, hahaha..

      Delete
  14. Mantap mas pemandangan danau'a apalagi pas pagi hari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiih, bener banget. Khas Sumatra, tenang dan selalu dirindukan kak. hehe

      Delete
  15. Gak rugi kalo 200/malam kalo pemandangannya seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul Banget Om Obat, bahkan yang kita dapet lebih dari harga itu.

      Delete
  16. Replies
    1. Hihihihi, Obat setres alami lho Om Obat, hihihi

      Delete
  17. Aaarrgghhh!!! Indah banget.

    Baca semuanya, yang lebih menarik ini. "Terasa dingin, kata orang memang begitu, kasur dari kapuk lebih dingin ketimbang yang dari busa apalagi yang terbuat dari perasaan, perasaan pacar yang bergandengan tangan dengan orang lain sehari setelah ketok palu putus sudah dilakukan."
    wwkk wkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi.. Inilah negeri kita Mbak Ira..

      Hahahaha, uhuuuk, pasti mbaknya juga pengalaman neitu ya? hehe

      Delete
  18. Iwak kali itu apa kak ??? aku baru denger hehehe, kalo nasi pake lauk ikan + sambel pasti enak banget yaaa #digampar

    ReplyDelete