Tuesday, June 30, 2015

Pantai Santolo, Sayangnya, Senja Hanya Sebentar Saja

Senja Di Pantai Santolo
                Keren, gagah, berperut kubus. Sebuah ekspektasi yang saya taruh tinggi demi persiapan mental jasmani rohani saat untuk pertama kalinya akan bertemu Sandy. Bukan hanya itu, jika saja ada wanita yang melihatnya lengkap dengan seragam dinas, wanita akan rela dipenjara demi bisa dijaga olehnya. Namun, semua ekpektasi yang sudah saya bangun buyar, seperti membangun menara dengan puluhan lembar kartu remi yang berhasil disusun rapi, tetiba angin pantat teman menghancurkan pondasi. Runtuh sudah. Kesan serius yang dihasilkan kombinasi semua ekpektasi tadi tak lagi berlaku. Setelah bertemu wujud asli Sandy, saya berhenti berekspektasi.


                Adalah Mbak Lady, dia luluh, selalu terngiang akan kebaikan hati seorang Sandy yang membawakannya potongan-potongan martabak manis saat Mbak Lady dan teman-teman pendakinya letih kelaparan karena menunggu bus disalah satu sudut terminal Guntur. Mbak Lady, wanita tangguh yang setiap jum’at malam namanya muncul ditiket kereta api atau ditiket bus, teman-teman akan heran jika weekend dia ada dirumah. Uangnya darimana? Dia punya ilmu sihir merubah bungkus bekas mie instan menjadi pecahan uang satu lembar lima puluh ribuan, apapun merk mie instan itu. Ilmu sihir ini mungkin saja berkaitan dengan kebiasaannya tidur saat menjadi pembonceng motor.

                Seorang lagi, wanita yang umurnya lebih muda dari saya. Ingat betul otak saya, dia dan Mbak Lady dalang penzoliman salah satu pria naas disalah satu apartemen tak jauh dari jalan Margonda. Pria itu diriasinya gincu, pemerah pipi dan eye liner. Kejam betul konspirasi kedua wanita itu. Namanya Putri yang membuat jadwal keberangkatan ke Garut molor dua jam, lebih bahkan.

                Ketiga orang itulah yang mengantarkan saya sekaligus menjadi saksi pada kenyataan seorang pria yang masih saja belum bisa berfikir dewasa yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah pembuat dodol, Garut. Ini baru pertama kalinya. Ketiganya pula saya kenal dari sebuah keluarga besar yang kami sebut Keluarga Jalan Pendaki.

***
    
                Sekitar empat jam, setelah melewati aspal-aspal berlubang parah yang jika saat musim hujan para pembiak ikan lele tak perlu repot membuat lahan, ikan-ikan lele itu akan subur beranak pinak dalam lubang-lubang aspal itu. Berkelok-kelok teduh diantara pepohonan yang tumbuh rantingnya unik nan bermacam-macam bentuk. Walau kondisi jalan buruk saya tak munafik begitu indah jalanan yang baru saja kami lalui. Dari suatu tempat pemberhentian disisi jalan, mata kita akan mampu melihat air terjun dipucuk perbukitan. Akhirnya kami tiba pada tujuan utama kami, Pantai selatan Garut. Pantai Santolo.

                Rerumputan luas berkelir hijau dibelakang pantai, mirip sabana, menggiring kami untuk segera memarkirkan motor diantara puluhan motor yang lain. Tukang Parkir mengarahkan supaya kami parkir ditempat yang mudah untuk keluar. Rencana bermalam sudah sedari kemarin kami pegang teguh. Apapun yang terjadi. Menginap menggunakan tendapun tak jadi soal, Sandy sudah siap sedia, yang jadi soal justru jika bermalam dihomestay, pengeluaran harus dipersempit. Beginilah jika jalan bermodal uang pinjaman.

Sebuah Bendungan di Pantai Santolo
                Salah satu batu mempersilakan saya duduk. Matahari masih benderang, bulatnya masih menyilaukan. Sinarnya menyapu lautan meninggalkan pernik emas yang mengambang, terus mengambang tak mengikuti ombak yang berhaluan ke tepian. Anak-anak berteriak kegirangan, berjingkrak loncat seirama dengan angin yang berdendang. Beberapa wanita muda mengabadikan dirinya dalam kartu memori, bergaya lengkap dengan topi pantai dan kacamata berwarna coklat tua. Mereka tak berbikini. Mungkin saja ada orang tua yang saling berpandang mata, teringat akan masa muda. Mengenang kala senja mulai tiba lalu Iwan Fals memetik senar gitarnya, melantunkan kata-kata yang bernada, “suatu hari”. Sore di Pantai Santolo sungguh mesra, yang setiap orang ingin supaya jangan cepat berlalu.

                Kaki kami bergerak menjejak kayu pembentuk biduk. Kami siap berlayar. Hanya 5 menit kami sampai pada sebuah pulau yang berjarak sekitar 30 meter. Banyak biduk “berserakan” diselat antara kedua pulau ini, bendera-bendera partai berkibar ditiang tertingginya. Tak salah lagi biduk ini adalah harta berharga bagi para penduduk pribumi disini untuk bertemu sahabat setia setiap harinya, yaitu lautan. Jika sedang tidak melaut biduk-biduk ini digunakan untuk mengantar pengunjung ke pulau sebelahnya, transportasi antar pulau yang seprovinsi.

                Sandy dengan jaket andalan warna biru hitamnya berjalan paling depan, muatan dipunggungnya jelas paling berat diantara kami berempat. Tenda, kompor, nesting, logistik serta peralatan kemping lainnya berjubel didalam tas, bersandar pada punggung Sandy. Tak lupa dua tangkai kacamata pas diapit kepala dan kedua telinganya. Seorang bapak berseragam hijau hansip mengejar kami, apa ini pulau ilegal? Sempat terkejut, saya tersadar karena bapak tadi menggenggam kertas berwarna, berukuran karcis masuk. Rupanya pulau ini, yang masih bagian dari Pantai Santolo, memiliki tata cara pemerintahan tersendiri. Sudah berbeda kecamatan.

Batu Khas Penanda Pantai Santolo
                Awan berarak dengan sabar menuntun matahari menuju lelapnya dibarat negeri ini. Ransel-ransel kami masih tergeletak tak beraturan, tersandar pasrah pada karang-karang, mereka nampak sedih ditinggal tuannya. Sementara para tuannya sibuk berpose dan jungkir balik demi mendapat pasnya sudut pandang. Mbak Lady dan Putri bergantian berfoto didepan batu unik, ikon Pantai Santolo saat air masih surut. Disekitar sini suasana lebih sepi, tak banyak anak-anak, muda mudi ataupun orang tua. Hanya ada beberapa.

                Birunya angkasa mulai pudar, sang surya semakin dekat dengan garis cakrawala. Dipantai ini sepenuh hati saya yakin, seluruh pengunjung kagum melihat warna-warna yang silih berganti dengan warna-warna yang lainnya. Sebagian menikmatinya sambil mengantri dikamar bilas, sebagian lagi lari berkejaran menuju batas daratan. Lesung pipi menghiasi senyum-senyum yang terkembang. Wajah-wajah mereka satu rasa dengan sebelah barat negeri ini, manis sekali.

Mbak Lady dan Senja
Putri dan Senja
Malaikat Mulai Mewarnai Senja
                Dua malaikat turun, namun tak menginjak bumi. Masing-masing dari mereka membawa kuas, satu kuas berwarna kuning satu lagi berwarna hitam. Awan dibersihkannya supaya tak menghalangi bentuk sempurna matahari. Kuas kuning digoreskan perlahan pada atap bumi bebarengan dengan perputaran bumi. Orang-orang dipantai masih terus mengagumi mata mereka masih terus menata ke barat. Tanpa sepengetahuan mereka, malaikat yang membawa kuas hitam mulai melaksanakan tugasnya, mewarnai langit sebelah timur.

                Air bening dalam cekungan diantara karang menggambarkan warna-warna, kuning, hitam dan biru mulai saling membaur menghadirkan warna baru, jingga dan ungu. Matahari sudah sepenuhnya pergi menuju belahan bumi yang lain. Satu bintang terang muncul tenang tak mau berjauhan dari sang rembulan yang hampir sambit.

Gelap Mulai Tiba

                Ujung daratan yang tadi sore kering mulai basah, air telah pasang. Pelataran Pantai Santolo menjelma sepi, meninggalkan beberapa nelayan senja yang tanpa henti menebarkan jaringnya. Malaikat berkuas kuning telah selesai menjalankan tugasnya, dia menunggu kawannya yang terus menggoreskan kuas hitamnya menuju barat. Semuanya memang berjalan perlahan, berubah perlahan, namun keelokkan alam bernama senja hanya diberi waktu sebentar saja.

12 comments:

  1. Gw pun mikirnya sama yon, ngebayangin sandi.. wkwkwkwk
    Anyway keren senjanya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkakakak.. Lebih mengerikan monster Bikini Bottom Njar..
      Teng Njar!

      Delete
  2. keren, gagah dan berperut kubus.. wis tak kubur ekspetasi itu dalam-dalam sebelum nanti ketemu sama Aa Mas. wkwkwkwkwkwk . :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhaha, belum pernah ketemu Bleh? Kalo ngomong ma Sandy harus teges kalo gak bakalan dibentak2..

      Delete
    2. durung jeh Mas.. si Aa kan mau ke Depok gak jadi-jadi.. 😂😂

      Delete
  3. Jadi mbak lady ama sandy trus akhirnya jadian karna terharu di kasih martabak gitu ????
    Btw sentolo ini bikin mumet perjalanan nya, berkelok2 dan temen ku akhirnya muntah waktu kesana hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum jadian masih proses, tapi bisa dipastikan proses menuju kegagalan. Wiiiw cuma dikit kok muntah sih Mas Cum? Didalem mobil juga muter2 ya pasti dirimu?

      Delete
    2. Didalam mobil, aku cuman salto ama kayang aja :-)

      Delete
  4. Mantep pemandangan sunsetnya mas :-bd

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi.. Bikin betah deh suer, sayangnya ya itu, cuma sebentar saja..

      Delete
  5. kunjungan perdana kang, btw itu dikasih keterangan dong fotonya pke kamera apa, kok bagus bingit ya,..jadi iri deh..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengyu Neng, ditunggu kunjungan yang berikutnya, hehehe..
      Aiiih, cuma pake camera biasa aja itu, cuman pas aja sunsetnya lagi bagus binggow kak.. :)

      Delete