Wednesday, June 17, 2015

Pulau Kemaro, Keteduhan Tengah Sungai

Gerbang Depan Kelenteng
          Saya, Alif dan Febri masih duduk bersandar pada kursi masing-masing didalam salah satu restoran cepat saji tak jauh dari jembatan bercat merah yang menjadi ikon Bumi Sriwijaya, Jembatan Ampera. Minuman soda belum berkurang setengahnya, saya masih sibuk dengan telepon genggam yang terus melakukan panggilan keluar namun belum juga mendapat jawaban. Pesan singkatpun tak berbalas. Apa ini pertanda pacar saya sedang bersama pacarnya yang lain? Kalaupun kami mengirim pesan menggunakan aplikasi WhatsApp, mungkin saja pesan yang saya kirim sudah bertanda centang dua disampingnya, tapi warna tak kunjung berwarna biru padahal status profil sedang online. Sebegini miriskah nasib pacaran jarak jauh?


Stop stop stop.

          Saya diingatkan kesadaran dari lamunan, kenyataan bahwa yang saya telepon dari tadi, jelas tertera dilayar, nama kontaknya bukan tertulis sayangku apalagi cintaku, boro-boro nama wanita. Yang tertulis adalah Pulo Kemaro Pak Zaini. Om-om? Bukan. Sudah selevel diatas om-om, beliau, maaf, sudah seharusnya disapa simbah. Waktu pertama kali bertemu dengannya senyumnya begitu tulus ciri khas kearifan lokal yang selalu ingin djumpai para perantau dimana saja. Beliau adalah nahkoda biduk kayu yang setiap harinya menunggu, menunggu apa yang dia tunggu. Berharap orang-orang yang sedang berkunjung ke pinggiran sungai Musi, didepan Benteng kuto Besar (BKB), menyewa biduk miliknya untuk sekedar menyusuri riuh coklat Sungai Musi atau berkunjung ke Pulau Kemaro. Begitulah setiap hari beliau membunuh waktunya saat fisik dan tenaga sudah tidak mampu lagi mengarungi lautan yang dulu mengantarnya sampai ke pulau-pulau di luar Sumatera.

Sekali lagi ingat, saya tidak sedang pacaran, apalagi pacaran jarak jauh dengan seorang om-om.

          Sayang, kami sedang tidak berjodoh dengan Pak Zaini. Telepon tidak diangkat, sms tidak dibalas, mungkin telepon genggamnya sedang dipinjam anaknya untuk bermain Pokopang atau bermain Let's Get Rich yang notifikasinya mirip seperti lagi mau dicium gebetan terus tiba-tiba mendaratlah kecoa terbang dijidat kita, bayangin dah rasanya. Piye Perasaanmu?

           Seratus lima puluh ribu adalah tarif normal sewa satu kapal untuk sekali perjalanan bolak-balik, BKB - Pulau Kemaro - BKB. Lama perjalanan menggunakan kapal sekitar dua jam, belum termasuk waktu yang dihabiskan di Pulau Kemaro. Pijakan-pijakan menderitkan kayu badan kapal, kami bertiga menduduki kursi yang sengaja disediakan untuk para penyewa kapal.

          BKB terletak tidak jauh dari pasar 16 Ilir yang merupakan bagian dari kecamatan Ilir Palembang. Sebelum menuju Pulau Kemaro, Pak Khaerul sang nahkoda kapal mengajak kami ke rumahnya untuk sekedar mengisi solar kapal. Rumah Pak Khaerul berada di Kampung Kapitan yang merupakan bagian dari kecamatan Ulu yang letaknya tepat diseberang kecamatan Ilir, rumah-rumah di Kampung Kapitan sebagian besar bermodel rumah panggung yang dibangun diatas Sungai Musi, pancang kayu penyangganya jauh tertanam sampai ke dasar Sungai Musi. Suasana Sungai Musi ini mengingatkan pada Sungai Martapura saat saya mengunjungi pasar apung Kuin di Banjarmasin. Koko krun sudah menjarah semuanya, bukan hanya ladang gandum saja, sungai-sungai besar negeri ini juga dihujani coklat. Mau dibawa kemana masa depan para penikmat vanilla di negeri ini Pak Jokowi?

           Kapal melaju pelan melewati kolong Jembatan Ampera. Jembatan yang dulu katanya bisa dibuka keatas jika ada kapal besar yang lewat. Sekarang tongkang-tongkang adalah kapal terbesar yang tiap hari melewati kolong Jembatan Ampera, hilir-mudik mengangkut batu bara, tinggi kapalnya hampir menyentuh Ampera. Lalu lintas air di Sungai Musi mirip seperti di jalan raya, biduk-biduk kayu yang melaju maju menelusur sisi kiri sungai. Melewati para pedagang yang meminggul karung kemudian ditatanya didalam kapal. Orang yang lainnya sibuk mengepak sayur buah pada kotak-kotak kayu. Sesekali kapal tongkang membelah tengah sungai, menimbulkan gelombang yang mendoyong kapal. Mencipratkan air membahasahi pakaian.

Salah Satu Nama Kapal PT. PUSRI
           Tangki-tangki berjari-jari belasan meter berdiri disangga besi-besi besar yang sudah nampak sedikit berkarat, menandakan lokasi ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Lambang berkelir kuning dan biru tua, lima huruf kapital melafalkan PUSRI. Inilah salah satu perusahaan pupuk kebanggaan Provinsi Sumatera Selatan, Pupuk Sriwijaya. Segala macam peralatan tambang kelihatan dari dalam biduk yang sedang kami tumpangi. Kapal-kapal milik Pusri juga terparkir tak jauh dari tepian sungai, setiap kapal memiliki namanya masing-masing, beberapa bagian dari badan kapal sudah nampak berkarat, memberitahu saya, bahwa kapal-kapal ini sudah terbiasa memecah ombak di luas lautan.

          Kedua mata masih tertambat pada kemegahan kapal besar bercat biru, dari depan nampak samar-samar Pagoda yang menjulang lebih tinggi dari pohon-pohon hijau disekitarnya. Beberapa orang berpose membekukan keabadian di beranda jembatan, tak jauh dari biduk-biduk yang ditambatkan. Inilah pulau di tengah sungai, tak ada jembatan yang menghubungkan kedua tepian Sungai Musi. Ada dua cara untuk mencapai pulau ini, yang pertama dengan naik kapal, yang kedua dengan cara berenang. Satu tips dari saya, cara kedua sangat tidak disarankan, kecuali jika punya seribu pasukan katak yang siap menolong jika saat berenang mengalami kelelahan

           Inilah Pulau Kemaro, sebuah pulau tempat ibadah yang setiap tahunnya selalu ramai dikunjungi terutama saat perayaan Cap Go Meh. Pagoda berlantai sembilan, pohon cinta, kelenteng Hok Cing Bio semuanya terkumpul dalam satu pulau. Kecil, tak sampai setengah jam kita sudah bisa mengelilingi pulau dengan berjalan kaki. Nuansa tionghoa sangat kental menghias tempat ini, warna merah cerah tersimpan didalam rimbun hijau pepohonan. Dibawah pohon-pohon yang meneduhkan itu, beberapa pengunjung mengorek daging kelapa muda lalu meneguk airnya, ibu penjual dogan sibuk memasukkan gula kedalam kelapa yang sudah dibelah pucuknya untuk melayani permintaan pengunjung yang lain.

Nuansa Dalam Kelenteng
           Pintu-pintu kelenteng yang tertutup rapat memaksa mata mengintip melalui celah ventilasi yang hampir seukuran bata merah. Singa dan Naga yang terlukis di tembok, menjaga pintu masuk dikedua sisinya, tepat dibawah dua jendela bundar. Dupa panjang merah jambu perlahan berubah menjadi abu, asapnya menguap hilang digiring angin memasuki rongga hidung, menyebarkan bau yang khas. Irama warna dalam Kelenteng didominasi warna merah, tiang dan kayu penyangga berwarna merah, begitu juga puluhan lampion kecil yang terbang dilangit-langit Kelenteng. Payung bertingkat tiga semuanya berwarna coklat. Naga yang melilit tiang berwarna hijau, sedang yang diatas meja berwarna coklat. Masih ada satu lagi ruangan didalam Kelenteng.

           Pagoda kecil, disamping kelenteng masih menyisakan bakaran entah sejak kapan, abu didalamnya tebal, mirip arang yang dibakar habis api didalam tungku. Seorang bapak terus mengikuti kami bertiga sejak dari pintu masuk Pulau Kemaro tadi, wajahnya gelap tertutup topi putihnya, hanya berjalan mengikuti kami tanpa banyak berkata-kata. Kamera DSLR dikalungkannya dileher, jari telunjuk kanan mantap memegang shutter. Entah mengapa tak ada senyum diwajahnya, semangatpun sekedarnya. Kami paham, segera kami minta difoto olehnya, tiga kali jepret didepan Pagoda berlantai sembilan.

           Mungkin namanya Hok Cing Bio, saya lupa menanyakan nama Pagoda berlantai sembilan itu. Daya tarik tersendiri bagi pengunjung Pulau Kemaro, mengingatkan saya pada perjalanan ke barat Biksu Tong untuk mencari kitab suci pada suatu episode dimana muridnya Sun Go Kong harus melewati tantangan pada tiap lantai Pagoda. Dua ekor naga menjulurkan kepalanya kebawah mendampingi tangga yang akan membawa pengunjung ke memasuki lantai satu pagoda. Dinding yang mengitari Pagoda memiliki lukisan yang berbeda setiap meternya. Memiliki makna yang berbeda-beda juga tentunya. Perlambangan simbol-simbol kepercayaan yang memiliki maknanya sendiri. Semua catnya masih nampak bersih terawat, cerah dan terpelihara. Sayang pagar hitam Pagoda yang tertutup memberi pertanda untuk kami bahwa Pagoda tidak bisa dimasuki.

Pagoda Pulau Kemaro
            Dibelakang Pagoda Pohon cinta sedang bermurung durja, terlihat gelap dan tak bersemangat, mungkin angin kencang gagal dia bujuk supaya jangan membawa segerombolan awan hitam. Semakin didekati pohon cinta nampak muram, kayu yang dibentuk seperti pagar mengitarinya. Menurut cerita yang beredar jika sepasang kekasih datang lalu mengukir nama mereka pada batang pohon cinta maka akan abadilah cinta mereka. Percayakah kawan? Bilamana yang dihadapi adalah seorang pecinta alam pasti dia sontak berkata tak setuju. Bukankah itu salah satu bentuk kekerasan terhadap makhluk ciptaan Tuhan? Pohon cinta akan mengerang kesakitan sebenarnya saat sepasang kekasih mengukir nama mereka. Ibaratkan luka knalpot yang membakar kaki.  

          Warung-warung mulai sepi, pemiliknya mengumpulkan batok-batok kelapa muda yang sudah dibayar pembelinya, batang-batang pohon pontang panting menahan dahannya yang digoyang angin, dilepaskannya puluhan daun hijau, diserahkannya pada jalanan aspal juga rumput-rumput yang tumbuh kerdil. Esok sapu lidi akan membawanya kepada api supaya terbakar lalu menghilang dari bumi. Di luar Pak Khaerul tidur selonjoran didalam biduk yang sudah ditambatkan kuat. Biduk yang lain sudah tiada, mereka sudah terlebih dahulu kembali membelah air coklat Sungai Musi. Dalam perjalanan pulang menuju Benteng Kuto Besar hujan mendinginkan terik, suasana sejuk saat angin menerpa kumis tipis saya. Goncangan air menjadi lebih kuat, terpal kanan kiri biduk diturunkan. Melewati pom bensin eceran yang mengapung, biduk membawa kami terus ke timur, merahnya Jembatan Ampera diintip sinar matahari yang mulai muncul lagi. Kawan, di kota ini yang kurasa hujan tak pernah bertahan lama.

Beranda Kelenteng Hok Cing Bio
Sebelah Kiri Kelenteng
Tulisan Singkat Legenda Pulau Kemaro
Sekeliling Tembok Luar Pagoda
Belum Ada Judul
Menuju Ampera
Hitam Putih Ampera
Pulang

10 comments:

  1. weeetsah, akhirnya sampai di Pulo Kemaro juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyoooiii mamen. Walau masih lengkap dengan seragam kantor. hahaha

      Delete
  2. Wah 150 ribu? Dulu saya malah ditawari harga Rp 170 ribu. Apa karena ketauan saya bukan orang Palembang ya makanya dimahalin. Apa ya mesti ditawar? Soalnya klo saya perhatikan nggak ada perkumpulan resminya. Tapi ya ga ke Pulau Kemaro soalnya nggak ada niat ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuuiiihh tapi kalo pas Cap Go Meh jadi keren banget mas di Pulau Kemaro. Lampu-lampunya meriah.
      Tawar sajo seharusnyo kak, mungkin bae pacak turun hargonyo. hahaha
      Terus kemana aja Mas Mawi?

      Delete
    2. Biasalah nyari air terjun sama keliling-keliling Palembang naik angkot, hehehe :D

      Delete
    3. Angkotnya bagua yak Mas di palembang.. Kalo air terjun jauh2 yak? Mas Mawi sekarang lagi menetap dimana eh?

      Delete
  3. Replies
    1. Kamu masih muda nak, petualanganmu masih panjang. Skripsinya dikelarin dulu makanya Mas Rif. *ups

      Delete
  4. Pada saat-saat tertentu, tempat ini begitu ramai. Temanku yang asli Palembang sering cerita tentang tempat ini :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas, waktu perayaan imlek bahkan ada jembatan yang sengaja dibuat..
      Dan lampu2nya untuk dekorasi kwereeen abis dah..

      Delete