Saturday, July 04, 2015

Pagi Yang Indah Tak Pernah Jauh Dari Magelang

Suatu Pagi Di Sudut Magelang

                Keramahan, satu kata yang dapat disimpulkan dari ratusan kalimat yang terlontar dari kesan orang-orang yang pernah singgah ke wilayah Jawa Tengah. Salah satunya Magelang. Senyum hangat para penduduk, dibarengi dengan gerakan kepala yang sedikit menunduk adalah salah satu bukti bahwa selalu ada tangan yang terbuka menerima setiap orang yang mereka temui. Dengan senyum itu pula, sesekali mereka juga akan menanyai kemana kita akan pergi. Atau mempersilakan mampir minum teh sebentar dirumah mereka. Perkara bertanya alamat, tak jarang yang akan mengantarkan sampai tujuan, tidak hanya sekedar menunjukkan arahnya.

                Pagi di Magelang ternyata tak mau kalah ramah dengan para penduduk. Dianugerahi bentang alam yang memiliki gunung-gunung tinggi, tentu ada banyak tempat yang dapat digunakan untuk menyapa pagi di wilayah Magelang dan sekitarnya. Bukit Cemuris atau Bukit Purwosari, Punthuk Setumbu dan Posong adalah tiga diantaranya.


                Candi Borobudur yang sudah sejak lama menjadi ikon pariwisata Magelang ternyata menyimpan keindahan lain selain dari candinya, khususnya pada pagi hari. Untuk yang berkesempatan menginap dihotel Manohara yang terletak tepat disebelah candi, kabarnya akan mendapat akses khusus untuk dapat masuk ke wilayah candi pada pagi hari, saat matahari belum terik juga belum dipadati wisatawan yang lainnya. Bagi yang tetap kukuh ingin menikmati suasana pagi dari dalam komplek Candi Borobudur, dapat merogoh kocek sekitar Rp. 250.000,- tanpa harus menginap di Hotel Manohara tapi pintu akses masuk ke candi tetap melewati Hotel Manohara.

Menjelang Pagi Dari Punthuk Setumbu

Selain itu, bukit-bukit hijau yang mengeliling candi Borobudur mempunyai tempat-tempat tersembunyi yang menjelma menjadi tempat favorit para pemburu pagi. Adalah Punthuk Setumbu yang sudah lama menjadi tujuan utama untuk kunjungan wisata ke Magelang sembari menikmati matahari terbit.

“Permisi pak, mau tanya jalan ke Setumbu lewat mana ya?” Tanya saya kepada seorang bapak, setelah saya turun dari motor dan melepas helm dari kepala.

“Mau lihat sunrise ya mas? Itu didepan ada pertigaan mas, kalau belok kanan ke pintu masuk candi. Mas ambil yang belok kiri, nanti kanan jalan ada hotel Manohara, mas terus aja sampai ketemu gapura.” Jawab bapak sambil memperagakan belokan dengan tangan kanannya. “Dari gapura maju sedikit, terus mas belok kanan setelah itu lurus terus aja. Nanti ada petunjuk arahnya.”

“Setelah belok kanan dari gapura itu masih jauh ya pak?” Saya memastikan.

“Masih mas, isih adoh, masih jauh. Sekitar lima belas menit mas. Pokoknya lurus terus. Ada petunjuk arahnya mas.” Bapak meyakinkan. Melihat raut wajah saya yang masih bingung, bapak menambahkan, “Minta tolong diantar tukang ojek dipertiggaan itu aja mas, pasti ada yang mau mengantar.”

“Ya nanti coba dicari dulu aja pak, terima kasih ya pak. Suwun.” Saya mohon diri. Bapak membalasnya dengan mengangguk sembari melempar senyum.

Pemandangan Punthuk Setumbu

Benar kata bapak tadi, plang yang mengarahkan ke Setumbu menunjukkan saya harus berbelok kanan. Bahan jalan berubah menjadi cor dan mulai menanjak, tak lama sampailah di parkiran dan pos masuk Punthuk Setumbu. Tiap orang dikenai tarif masuk Rp. 15.000,-. Tarif yang saya rasa cukup mahal, namun setelah berjalan kaki dari pos masuk tadi sampai ke spot untuk menikmati sunrise, kata mahal untuk harga masuk tadi buyar. Lampu untuk menerangi jalan sudah disediakan. Pagar dari bambu untuk tumpuan tangan, mengiringi setiap tanjakan, memberi kesan aman kepada wisatawan bahwa mereka tidak salah jalan. Jalur tanjakan telah sengaja dibuat menyerupai undak-undakan. Sesampai di spot, bangku-bangku panjang dari bambu telah disediakan, pembatas dengan jurang juga sudah jelas ditandai dengan pagar. Kebersihan juga sangat diperhatikan, jalur yang dilewati bersih dari sampah-sampah yang berserakan. Telah disediakan juga beberapa tong sampah untuk menampung sisa bungkus makanan. Punthuk Setumbu mengingatkan kembali kepada saya untuk menjadi turis yang bertanggung jawab. Tentang kebersihan, keamanan dan keindahan. Dimana ketiga hal itu akan memberikan rasa betah dan nyaman.

Sebelum Pagi di Bukit Cemuris

Beberapa bulan diperantauan, saya mendadak rindu dan kangen menyapa pagi yang indah dari Punthuk Setumbu. Disepanjang perjalanan udara begitu dingin tapi sejuk dan segar. Bintang gemintang tak henti berkelipan. Saat hampir mencapai Candi Mendut satu dua dari mereka jatuh membentuk garis biar hanya sedetik.

Seorang bapak ngebut, singkat saja motor yang saya tunggangi dan motornya melaju sejajar.

“Mau lihat sunrise mas?” Teriak bapak berjaket kulit itu.

“Iya pak, mau ke Setumbu.” Saya menjawab, laju motor melambat.

“Sudah tahu jalannya mas?”

“Sudah pak.”

Lalu tetiba bapak itu memberi tawaran yang menggiurkan. “Mau coba tempat lihat sunrise yang baru mas? Baru dibuka beberapa bulan. Masih sepi. Tiga puluh ribu aja saya antar sampai pos masuknya.”

Warna Ungu Dari Bukit Cemuris

Tanpa menaruh curiga, jadilah saya mengiyakan tawaran bapak itu menuju tempat menikmati sunrise yang bernama Bukit Purwosari, tapi orang-orang disekitar sana lebih akrab dengan menyebutnya Bukit Cemuris. Dari parkiran untuk mencapai spot melihat matahari terbit ternyata diperlukan fisik yang cukup bugar untuk melewati tanjakan terjal dan cukup panjang. Walau belum tersedia penerangan disepanjang jalan, sesampai di spot, bangku-bangku panjang telah disediakan dibeberapa sudut. Itulah salah satu bukti bahwa warga disekitar Bukit Cemuris ingin membuat objek wisata baru yang terkelola dengan baik.  

Angin hanya berhembus sepoi-sepoi, laju lambatnya tak menggugurkan embun yang berada dipucuk dedaunan. Lampu-lampu kota berwarna warni, pohon-pohon dibawah tempat saya berdiri mulai nampak warna segar hijaunya, celah dedaunannya dilewati kabut yang melayang rendah. Sementara awan panjang di atas Gunung Merapi berubah jingga tertimpa warna matahari yang sebentar lagi muncul. Hitam langit berganti biru. Garis cakrawala yang berpendar kuning menjelaskan betapa gagahnya siluet Merbabu dan Merapi. Disebelah barat, diatas kepala saya, langit berwarna ungu. Sungguh memesona kawan. Saat seluruh alam tersenyum, burung-burung mulai berkicau, sepi dan kesunyian yang berujung pada rasa tenang dihati, benar-benar pagi yang indah.

Selamat Datang Pagi

Saat turun kembali ke parkiran, saya mencoba lewat jalur yang berbeda karena dapat sekalian mengunjungi Bukit Rhema yang terkenal karena bangunan yang berbentuk burung merpati. Melewati kampung dan rumah-rumah penduduk, untuk kesekian kali saya kebingungan memilih jalan kembali ke parkiran. Untuk kesekian kali pula para penduduk sekitar Bukit Cemuris memberikan petunjukan arah. Banyak pula yang keluar dari rumah hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada saya karena telah bersedia mengunjungi Bukit Cemuris.

Landscap Posong

Negeri Tembakau atau Temanggung yang tak jauh dari Magelang juga menyimpan tempat untuk menikmati keindahan pagi. Posong namanya, terletak dilereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro membuatnya mempunyai sunrise yang cantik. Pendopo-pendopo sengaja disediakan untuk para pengunjung yang singgah ke Posong. Jalanan dari batu yang tertata rapi memberi kesan yang masih alami. Kesejukan, kesegaran dan keasrian sudah barang pasti bisa didapatkan ditempat ini.

Motor sudah rapi terparkir ditempat yang disediakan. Siluet Gunung Sindoro dan Sumbing tampak mengapit keberadaan saya, sungguh gagah kedua gunung ini. Terdengar percakapan dari beberapa pengunjung yang lain, dari bahasa dan logat yang diucapkannya jelas mereka bukan berasal dari daerah dekat sini. Suasana pagi di Posong ternyata sudah diceritakan dari mulut ke mulut sampai keluar wilayah Temanggung.

 Awan abu menutup sebagian besar timur angkasa, hanya memberi sedikit celah untuk warna-warna pagi. Kabut juga berperilaku sama, disembunyikannya hingar bingar lampu kota, hanya sesekali ditunjukkannya lalu disembunyikannya lagi. Angin berhembus menelisik pohon cemara, lajunya pelan namun sudah mampu menggigilkan raga. Para petani tembakau sudah mulai berjalan menuju ladangnya.

Tempe Kemul, Teh dan Kopi

Meski warna-warna indah langit sudah pasti tak muncul pagi ini, para pengunjung masih setia menunggu. Mereka seperti berharap datangnya sebuah keajaiban. Sementara Gunung Sindoro dibelakang mereka mulai hilang siluetnya, warnanya berubah hijau segar. Ibu pemilik warung masih sibuk naik turun tangga, diantarkannya nampan-nampan berisi tempe kemul, teh hangat dan kopi kepada para pemesannya. Dengan nafasnya yang tersenggal-senggal dia masih sempat tersenyum menyapa setiap pengunjung.

Gunung Sindoro Dari Posong

Keajaiban muncul, namun sudah terlambat. Matahari sudah tinggi. Warna jingga, kuning dan ungu sudah sepenuhnya pergi bersama awan kelabu yang tadi menutupinya. Hanya meninggalkan warna biru muda dan awan putih. Lekuk liuk Gunung Sumbing nampak jelas, wajah pengunjung berubah, diambilnya kamera dari saku, lalu diabadikannya pemandangan didepan matanya. Posong menjadi ceria.

Pendopo di Kaki Sindoro

Pagi ini tak hanya memberi keindahan tapi juga mengajarkan kesabaran. Pagi ini saya tak dapat melihat munculnya mentari diufuk timur, menegaskan kata hati bahwa selalu ada alasan untuk merindui dan kembali kepada Posong. Semoga kelak Posong tetap bersih dan asri seperti ini.

Sebagai wujud mencintai, berwisatalah dengan cara yang bijaksana.

Jadi kalau berkunjung ke Magelang masih malas bangun pagi? 






19 comments:

  1. Aku pernah sekali nyepeda lewat desa namanya Giripurno. Letaknya di wilayah Magelang lebih tepatnya di perbukitan Menoreh. Lokasinya sih memang di pelosok, tapi ada satu rumah di sana yang pemandangannya BAGUS BANGET, bisa lihat pemandangan Merapi dan Merbabu dari ketinggian. Keren lah pokoknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaps Mas Menoreh. Sekitaran Borobudur itu juga sudah Menoreh Mas. Ada Puncak Mati juga.
      Satu rumah? yang mana mas? kasih tau dong. Atau mari kita kesana, hehe

      Delete
    2. Artikel yang sangat berguna yang dibahas dalam situs ini ... tentu akan sangat membantu bagi pembaca yang membutuhkan referensi, Salam Kenal.

      Delete
  2. Pengen banget ke daerah Magelang terutama ke Borobudur. Dan semoga tahun ini bisa kesampaian naik Sindoro, Sumbing atau sekalian ke Wonosobo dan Dieng. ke Gunung Prau dan Sikunir. Duuuh....ngomongin gunung di Jawa Tengah nggak ada habisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Widiiiiw.. Mbak Lina mau ke candi tah? Mau mencoba baca relief? hehe.
      Duuh, itu banyak banget.
      Berkabar dong mbak. Nanti aku temenin wes. :)

      Delete
  3. bang, fotonya cantik bingits deh.. kenalan dong bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kenalan sama aku syaratnya harus ketjup kening bang. *minta digetok rencong.

      Delete
  4. Eh mobil bisa langsung parkir kah di bukit cimuris ??? atau mesti jalan kaki lagi ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hampir sama kek Setumbu Om Cum..harus jalan kaki, nanjaknya juga lumayan buat ngurusin lingkar perut.. hihihi

      Delete
    2. Kalo aku ngak mau kurus, kira2 ada ngak ojek gendong sampai atas ??? hahaha

      Delete
  5. sunrisenya SUBHANALLAH ! aku pas ke setumbu gak dapat sunrise, mendung. kapan-kapan pengen ke bukit cemuris ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo Mas Fahmi aku melu, bareng, berkabar Mas wong podo magelangan..

      Delete
  6. Cakep yaa pagi pagi di sana, aku kemarin ke Manohara dan agak merasa sedikit menyesal haha. Terus habis itu lanjut ke rhema.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cakep Mas, Banyakbukitnya juga soalnya.. Yaaah, kapan ke Manohara? au githu bisa meetup mas.. Kan aku mau minta tanda tangan.. hahahha..
      Kenapa menyesalnya kah?

      Delete
  7. Replies
    1. Monggo mas kalau berkenan.. Silakan.. :)

      Delete
  8. indah banget pemandangannta sob, sangat menarik...

    ReplyDelete